Berkaca pada Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Suara Muhammadiyah

12 October 2026

115
Ilustrasi

Ilustrasi

Berkaca pada Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab 

Oleh: Buya Anwar Abbas 

Salah satu khalifah yang sangat terkenal dalam sejarah Islam adalah Umar bin Khattab. Ia diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq pada 634 Masehi (13 Hijriah) dan memimpin selama sekitar sepuluh tahun, hingga wafat pada 644 Masehi (23 Hijriah).

Pada masa kepemimpinannya, wilayah Islam meluas dengan cepat. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilannya dalam menaklukkan Kekaisaran Sasaniyah (Persia) dan menguasai sebagian besar wilayah Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur). Jika dipetakan ke dalam peta dunia saat ini, wilayah kekuasaan Islam pada masa Umar mencakup kawasan yang sangat luas, meliputi sebagian Semenanjung Arab, Syam, Irak, Persia, hingga Mesir.

Karena kehebatan dan kebesarannya, Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Ia memiliki fisik yang kuat, keberanian yang luar biasa, serta ketegasan dalam menegakkan hukum dan menjunjung tinggi prinsip keadilan. Baginya, hukum harus berlaku tanpa pandang bulu, termasuk terhadap keluarga dan para pejabatnya sendiri. Jika mereka melanggar aturan, Umar tidak segan-segan mengambil tindakan.

Khalifah Umar bin Khattab juga dikenal sebagai pemimpin yang memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah SWT. Ia menyadari bahwa setiap tindakan dan keputusan yang diambilnya sebagai pemimpin harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari akhir kelak. Karena itu, meskipun memimpin wilayah yang sangat luas, Umar memilih hidup sederhana dan menjauhkan diri dari kemewahan.

Ia juga tidak menginginkan keluarganya ikut campur demi memperoleh fasilitas khusus, apalagi menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan hanya karena hubungan kekerabatan.

Umar memiliki seorang putra yang dikenal cerdas, berwibawa, dan memiliki pengaruh luas, yaitu Abdullah bin Umar. Sebagian kaum Muslimin pernah mengusulkan agar Abdullah menggantikan ayahnya sebagai khalifah. Namun, usulan tersebut ditolak oleh Umar. Ia juga pernah menolak usulan agar Abdullah diangkat menjadi gubernur di Kufah. Bagi Umar, jabatan publik bukanlah hak istimewa yang dapat diwariskan kepada keluarga, melainkan amanah yang harus diberikan berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, Umar bin Khattab sebenarnya bukanlah seorang pemimpin yang miskin. Ia memiliki aset pribadi yang cukup besar, berupa lahan pertanian dan properti. Namun, sebagian besar hasil kekayaannya digunakan untuk kepentingan dakwah dan umat.

Di sinilah letak menariknya kepemimpinan Umar. Meskipun menjadi pemimpin sebuah imperium yang sangat besar, ia tetap menjalani kehidupan sederhana. Ia tidak segan mengenakan pakaian bertambal dan menyantap makanan yang bersahaja, terkadang hanya berupa roti tanpa lauk. Kesederhanaan itu mencerminkan keinginannya untuk tetap merasakan kehidupan rakyat yang dipimpinnya.

Umar tinggal di rumah sederhana sebagaimana rumah-rumah penduduk Madinah pada umumnya. Tempat tidurnya pun, dalam berbagai kisah yang berkembang tentang kehidupannya, digambarkan beralaskan tikar kasar, jauh dari kemewahan yang lazim dibayangkan melekat pada seorang pemimpin besar.

Kedekatan Umar dengan rakyat juga tercermin dari kebiasaannya berkeliling untuk melihat secara langsung keadaan mereka. Pada malam hari, ia bahkan kerap keluar rumah untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan.

Dalam pandangan Umar, orang yang patut mendapatkan perhatian bukan hanya mereka yang secara terbuka meminta pertolongan, melainkan juga orang-orang miskin yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta dan tidak memperlihatkan kemiskinannya. Ketika menjumpai orang yang membutuhkan bantuan, Umar tidak segan memanggul sendiri karung gandum untuk diberikan kepada mereka.

Umar memang dikenal sebagai pemimpin dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab itu tidak hanya ditujukan kepada rakyatnya, tetapi juga kepada makhluk Allah lainnya. Hal tersebut tercermin dalam sebuah ungkapan yang kerap dinisbatkan kepadanya: seandainya seekor keledai tersandung karena jalan yang rusak di wilayah kekuasaannya, ia khawatir Allah akan meminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat.

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa besar tanggung jawab yang dirasakan Umar sebagai seorang pemimpin. Baginya, kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan dan kewenangan, melainkan amanah yang menuntut perhatian terhadap kesejahteraan seluruh makhluk.

Umar juga dikenal sebagai pemimpin yang mengutamakan penyelesaian secara damai. Ketika pasukan Islam mengepung Yerusalem, Patriark Sophronius, pemimpin tertinggi umat Kristen di kota tersebut, dikisahkan bersedia menyerahkan kota secara damai apabila Umar datang langsung untuk menandatangani perjanjian.

Umar menerima tawaran tersebut dan berangkat ke Yerusalem. Salah satu kisah yang terkenal dari perjalanan itu adalah ketika Umar datang bersama seorang pembantunya dengan menunggangi seekor unta secara bergantian. Ketika memasuki Yerusalem, giliran Umar yang berjalan sambil memegang tali kekang unta, sementara pembantunya berada di atas punggung unta.

Kisah tersebut menggambarkan kesederhanaan dan kerendahan hati seorang pemimpin besar. Bagi Umar, kedudukan sebagai khalifah tidak menjadikannya lebih berhak memperoleh perlakuan istimewa daripada orang lain. Ia menjalankan prinsip-prinsip tersebut bukan sekadar untuk membangun citra, melainkan sebagai bagian dari keyakinan dan tanggung jawab keagamaannya.

Dalam hal pendapatan, Umar juga dikenal sangat berhati-hati. Ia tidak serta-merta menaikkan tunjangannya dari jumlah yang sebelumnya diterima Abu Bakar ash-Shiddiq. Tunjangan tersebut digambarkan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Padahal, setelah menjadi khalifah, Umar harus meninggalkan sebagian aktivitasnya sebagai pedagang sehingga kesempatan memperoleh penghasilan tambahan menjadi terbatas.

Melihat keadaan tersebut, sejumlah sahabat senior, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, dan Zubair, dikisahkan pernah membicarakan perlunya penyesuaian tunjangan bagi Umar. Namun, karena memahami watak Umar yang tegas, mereka tidak menyampaikan usulan itu secara langsung. Mereka kemudian meminta bantuan Hafsah binti Umar, putri Umar sekaligus salah seorang istri Rasulullah SAW, untuk menyampaikan persoalan tersebut.

Akan tetapi, Umar tetap berhati-hati dalam menyikapinya. Ia tidak ingin standar kehidupannya melampaui kesederhanaan yang dicontohkan Rasulullah SAW dan pendahulunya, Abu Bakar ash-Shiddiq. Baginya, jabatan khalifah bukan alasan untuk menikmati kehidupan yang lebih mewah ketika masih banyak rakyat yang hidup dalam kesulitan.

Umar tampaknya lebih memilih kesederhanaan di dunia demi mengharapkan keridaan Allah di akhirat. Sikap tersebut juga membuatnya sangat berhati-hati agar anak dan keluarganya tidak menjadi sumber fitnah maupun pergunjingan di tengah masyarakat.

Dalam sebuah kisah yang sering dikaitkan dengan ketegasannya, Umar bahkan mengambil tindakan terhadap keuntungan usaha ternak unta yang diperoleh putranya dan memasukkannya ke dalam Baitulmal. Tindakan itu mencerminkan prinsip bahwa keluarga seorang pemimpin tidak boleh memanfaatkan kedudukan orang tuanya untuk memperoleh keuntungan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan.

Dari kepemimpinan Umar bin Khattab, kita dapat belajar bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak semata-mata diukur dari luasnya wilayah kekuasaan, besarnya pengaruh, atau kuatnya kewenangan yang dimiliki. Kebesaran seorang pemimpin justru tercermin dari kemampuannya menjaga amanah, menegakkan keadilan, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, hidup sederhana, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan keluarga.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial, Ekonomi, dan Keagamaan


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sepeda adalah Vitamin Ekonomi Berkelanjutan Oleh: Miqdam A Hashri, M.Si, C.LQ, Anggota LDK PP ....

Suara Muhammadiyah

30 August 2024

Wawasan

Melampaui Perbedaan: Bagaimana Al-Qur`an Menyatukan Kitab Suci Lain Oleh: Donny Syofyan, Dosen Faku....

Suara Muhammadiyah

6 October 2025

Wawasan

Oleh: Trixie Salawati, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Setiap....

Suara Muhammadiyah

7 June 2026

Wawasan

Surga: Apakah Cukup dengan Identitas Agama di Kolom KTP? Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Ranti....

Suara Muhammadiyah

8 April 2025

Wawasan

Semangat Pahlawan Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan  Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si. Lit....

Suara Muhammadiyah

10 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah