Bersyukur dengan Beramal Saleh
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Perbedaan standar dalam menentukan baik buruk menyebabkan perbedaan sikap terhadap ucapan dan tindakan. Sesungguhnya, jika kita merujuk kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, perbedaan itu dapat dihilangkan atau setidak-tidaknya diminimalkan.
Berkenaan dengan itu, idealnya setiap muslim senantiasa merujuk kepada kedua sumber tersebut ketika akan berucap dan/atau bertindak. Dengan standar kedua-duanya, setiap muslim menyadari bahwa semua ucapan dan/atau tindakannya dipertanggungjawabkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam kenyataan cukup banyak orang yang lebih mengutamakan standar manusia. Akibatnya, ucapan yang dipilihnya adalah memuji. Demikian pula tindakannya. Hal itu dipilihnya karena “kenyamanan” dirinya terancam jika berbicara dan/atau betindak jujur.
Hal tersebut jelas bertentangan dengan akhlakul karimah. Kejujuran merupakan salah satu tanda akhlakul karimah.
Dimensi Amal Saleh dari Bersyukur
Di antara umat Islam, cukup banyak yang mewujudkan rasa syukur baru sampai pada mengucapkan tahmid, alhamdulillahi rabbil ʻalamiin. Amal salehnya, masih sangat jauh dari kepantasan jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dari Allah Subhanahu wa Taʻala.
Sebagai makhluk, kita diberi hidayah naluri, pancaindera, akal, dan agama. Kita sungguh merupakan makhluk yang paling sempurna.
Pernahkah kita membandingkan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Taʻala kepada kita dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Taʻala kepada hewan? Pada hewan ada otak. Pada kita juga. Namun, oleh Allah Subhanahu wa Taʻala otak pada hewan dibedakan fungsinya dari otak pada kita. Otak pada hewan tidak dapat digunakan untuk berpikir, sedangkan otak pada kita dapat digunakan untuk berpikir sehingga dapat menentukan mana yang benar dan.mana yang salah menurut akal sehat.
Hewan tidak diberi hidayah agama. Kita diberinya sehingga dapat memilih mana yang benar dan salah; yang baik dan yang buruk menurut agama. Dengan agama itulah, kita mengenal Allah Subhanahu wa Taʻala dan taat melaksanakan perintah-Nya, serta meninggalkan larangan-Nya. Kita dapat membedakan mana yang haram dan mana yang halal. Hewan? Tidak! Memang demikianlah kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Taʻala tidak dapat kita hitung banyaknya dan tidak dapat kita bandingkan dengan apa pun.
Sebagai muslim, semestinya kita banyak beramal saleh sebagai wujud rasa syukur. Banyak ayat Al-Qur’an yang berisi perintah beramal saleh, di antaranya, adalah di dalam surat an-Nahl (16):97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”
Perintah beramal saleh terdapat juga di dalam surat al-Kahfi (18):110
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Masih berhubungan dengan perintah beramal saleh, di dalam surat al-Hajj (22): 50 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ada ampunan dan rezeki yang mulia (halal dan memuaskan).”
Dari ketiga ayat tersebut dapat kita ketahui juga balasan yang diterima bagi orang yang beramal saleh. Setiap muslim harus yakin bahwa balasan tersebut pasti diterimanya. Bahkan, sesungguhnya ada balasan yang telah diterima ketika masih hidup di dunia.
Standar Amal Saleh
Secara popular dapat dikemukakan bahwa amal saleh adalah segala perbuatan baik yang didasari oleh keimanan yang bersih dari syirik dan mendatangkan kemanfaatan, baik bagi diri pelaku maupun bagi orang lain. Jadi, kalaupun bermanfaat, tetapi tidak didasari keimanan yang bersih dari kemusyrikan, suatu amal tidak dapat disebut amal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an Ibrahim (14): 18
مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَالُهُمْ كَرَمَادِ ࣙاشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَاصِفٍۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍۗ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ
“Perumpamaan orang-orang yang kufur kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin kencang pada saat badai. Mereka tidak kuasa (memperoleh manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”
Sementara tu, di dalam surat an-Nur (24): 39 dijelaskan,
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِۙ
“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Dengan merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’lala tersebut, kiranya kita dapat memahami bahwa amal saleh tidak hanya terbatas pada mengajak kepada kebajikan, tetapi juga mencegah kemungkaran.
Dalam Al-Qurʻan dan as-Sunah sangat banyak dijelaskan amal saleh yang berbentuk ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah. Di antaranya adalah (1) saling menasihati tentang kebenaran dan menetapi kesabaran; (2) saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, tidak saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan; (3) membelanjakan harta di jalan Allah; (4) berjihad dan berbuat baik kepada orang tua; (5) menyejahterakan dan mengangkat derajat manusia; (6) menerima kebenaran dari Rasulullah; (7) berbuat adil karena Allah Subhanahu wa Taʻala, (8) mengabdi dan berjihad; (9) memuliakan tetangga; (10) memuliakan tamu; dan (11) mengajak berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran.
Jadi, berpikir dan bersikap kritis untuk mencegah kemudaratan demi kemanfaatan hakikatnya merupakan bagian wujud bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita diberi nikmat otak yang fungsinya dibedakan dari otak pada hewan, jika tidak digunakan untuk berpikir kritis, berarti kita tidak mensyukurinya. Kita diberi nikmat agama, maka jika membiarkan kemungkaran, berarti kita tidak mensyukurinya.
Untuk Renungan
Boleh jadi, hari ini hari terakhir kita bersama keluarga! Boleh jadi, hari ini hari terakhir kita bertemu dengan teman-teman kita di masjid, di kantor, di kampus, di jalan, di stasiun, di bandara, di pesawat, di kereta, di pelabuhan, di kapal, atau di tempat lain!
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai orang pintar, tetapi malah minteri, tidak memintarkan
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai pejabat, bukannya menambah amal saleh, malah menambah amal salah.
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai ulama, tetapi membiarkan kemungkaran di depan matanya.
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai polisi dan tentara, tetapi tidak melindungi rakyat yang menuntut keadilan.
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai hakim, tetapi memutus perkara secara tidak adil.
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai jaksa, tetapi menyusun dakwaan dengan mengada-ada.
Boleh jadi, hari ini hari terakhir sebagai pengacara, tetapi tidak memanfaatkannya untuk membela yang benar, malah membela yang membayar.
Na’uzubillah!

