Buah Karya Sastraku: Sebuah Coretan Tinta di Atas Kertas
Oleh: Ahmad Faiz Mughni bin Rumini Zulfikar (Gus Zul), Siswa MTsN 04 Klaten
"Di balik seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk sering membaca dan menuliskan tinta di atas kertas, ternyata ada sebuah pesan bahwa tulisanmu akan melampaui usiamu di dunia." (Gus Zul)
Jika kita berbicara tentang “karya”, maka kita akan mendapatkan pengertian bahwa setiap sesuatu yang dihasilkan dari alam berpikir atau ide, lalu dituangkan dalam tindakan, itulah karya. Kita sering mendengar, melihat, dan membaca hasil karya, baik berupa benda maupun pemikiran. Semua itu merupakan buah dari imajinasi yang diselaraskan dengan pemikiran, kemudian dieksekusi dalam tindakan, baik berupa bangunan, barang, sastra, maupun tulisan.
Jika berbicara tentang dunia literasi, khususnya sastra, maka kita akan menemukan berbagai macam bentuk, di antaranya puisi, sajak, cerpen, dan lain sebagainya.
Kita juga bisa membaca dari berbagai literatur bahwa banyak tokoh Muslim beberapa abad yang lalu merupakan penulis, pemikir, dan ahli sastra, seperti Imam Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Athaillah, Muhammad Iqbal, Ibnu Sina, Hasan al-Basri, Imam Nawawi al-Bantani, Buya Hamka, dan Muhammad Natsir.
Warisan yang Berharga
Setiap orang tua tentu berharap anak turunannya menjadi penerus yang baik, tidak hanya secara jasmani, tetapi juga secara ruhani. Warisan berupa harta benda atau jabatan akan hilang dan ditinggalkan. Namun, jika warisan itu berupa ilmu, maka ia akan abadi, bahkan setelah kita meninggalkan dunia.
Ilmu yang terus diamalkan akan menjadi amal jariyah, walaupun hanya satu huruf. Dalam suatu kesempatan, sang ayah (ayah penulis) pernah berkata,
"Mas, Abi tidak meninggalkan warisan berupa harta benda. Yang Abi tinggalkan hanya buku-buku di lemari itu."
Dari situlah penulis (Ahmad Faiz Mughni) mulai menyadari mengapa sang ayah selalu mengingatkan pentingnya membaca dan menulis.
Mengasah Kemampuan
Untuk memantik budaya membaca dan menulis, sang ayah sering membelikan buku dan menyuruh penulis membacanya. Bahkan, penulis pernah diminta membuat sebuah cerpen berjudul “Perjuangan Sang Ayah”, yang kemudian dikirim ke media online dan terbit pada sekitar tahun 2024.
Untuk lebih mengembangkan kemampuan, Alhamdulillah di sekolah penulis, MTsN 04 Klaten, budaya literasi mulai digalakkan. Salah satunya melalui program “Aksara Ramadhan Ceria”, di mana siswa dan guru diberi kesempatan menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan yang kemudian dibukukan, dengan jumlah sekitar 60 penulis pemula.
Penulis pun mencoba menuangkan pemikiran dalam bentuk puisi berjudul “Ramadan”:
Kepada Tuhan dalam segala luputku
Bersyukurnya aku
Masih pertemukan aku
Dengan bulan sucimu
Oh Tuhanku, betapa beruntungnya diriku
Di mana bulan ini penuh berkah
Juga penuh rahmat-Mu
Sembah sujudku hanya untuk-Mu
Oh Tuhanku, doaku tak luput kupanjatkan
Ya Tuhanku, ampunilah dosaku
Di bulan penuh berkah-Mu
Hanya Engkau Yang Maha Pengampun
(Ahmad Faiz Mughni)
Penulis menyadari bahwa dengan terus berlatih, hal itu merupakan bagian dari ikhtiar membudayakan literasi sebagai bagian dari dakwah mencerahkan.
Seorang pujangga Arab mengatakan:
العِلْمُ أَفْضَلُ خَلَفٍ ، وَالعَمَلُ بِهِ أَفْضَلُ شَرَفٍ
Al-‘ilmu afdhalu khalaf, wal-‘amalu bihi afdhalu syaraf
Ilmu adalah warisan terbaik, dan mengamalkannya adalah kemuliaan paling sempurna.
Warisan terbaik bukanlah harta, benda, atau tahta, karena semuanya akan hilang. Namun, ilmu tidak akan hilang sampai kapan pun.
Dari Coretan Tinta Mendapatkan Apresiasi
Suatu hari, penulis dikabari oleh sang ayah:
Ayah: “Mas, tadi Abi melihat di story Bu Kulit di media sosial sebuah buku, dan ternyata kamu masuk deretan penulis nomor 41 dalam buku berjudul ‘Aksara Cinta Ramadhan’.”
Dalam buku tersebut, Kepala Kemenag Klaten memberikan sambutan, begitu juga Kemenag Provinsi Jawa Tengah. Bahkan yang lebih membanggakan, Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nazaruddin Umar, memberikan kata pengantar.
Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya buku tersebut sampai kepada penulis. Pada Senin, 30 Maret 2026, sepulang sekolah, penulis berkata:
Penulis: “Assalamu’alaikum, Bi, ini bukunya. Ada sertifikat, piala penghargaan, dan gantungan kunci.”
Ayah: “Alhamdulillah, Mas. Besok sertifikatnya dipigura. Ini piala penghargaan dari Komunitas Ayo Menulis Klaten, Ayah taruh di meja ruang tamu.”
Sang ayah pun merasa terharu dan bangga. Ia juga mengenang bahwa dahulu dirinya pernah menulis buku dengan kata pengantar dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar, dalam buku berjudul Menulis Desa.
Semoga dengan terus mengasah kemampuan, bakat literasi penulis semakin berkembang pesat dan menjadi bekal yang sangat berguna di masa depan.
