Bukan Soal Isi Rekening! Ini Rahasia Rezeki Melimpah yang Membawa Berkah

Suara Muhammadiyah

11 September 2026

86
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Bukan Soal Isi Rekening! Ini Rahasia Rezeki Melimpah yang Membawa Berkah

Oleh: Faozan Amar, Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah dan Associate Professor FEB UHAMKA

Sebagian besar dari kita sering memenjarakan makna rezeki dalam angka-angka: gaji bulanan, keuntungan bisnis, saldo tabungan, hingga deretan aset yang berjejer. Padahal, Islam memandang rezeki jauh lebih luas dan mendalam. Tubuh yang sehat, keluarga yang tenteram, ilmu yang bermanfaat, serta kesempatan untuk melangkah berbuat baik adalah karunia rezeki yang tidak bisa dinilai dengan materi.

Membicarakan rezeki bukan sekadar menghitung berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa jujur kita mendapatkannya, seberapa bijak kita mengelolanya, dan seberapa luas kita menghadirkannya demi kemaslahatan sesama. Al-Qur’an membimbing kita melalui tiga pilar utama: ikhtiar, tawakal, dan semangat berbagi.

Menjemput Karunia dengan Peluh Ikhtiar

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumu’ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Ayat ini mempertegas keseimbangan antara penghambaan spiritual dan gerak kehidupan. Profesor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa perintah bertebaran di muka bumi menandakan Islam tidak pernah mempertentangkan ibadah ritual dengan kerja duniawi. Bekerja adalah manifestasi keimanan selama Allah menjadi tujuan utamanya.

Pesan ini amat menyentuh tatkala kita menatap realitas sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 mencatat angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta jiwa, dengan 147,67 juta orang di antaranya bekerja, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68% atau sekitar 7 juta orang masih menganggur.

Di balik angka statistik tersebut, ada helaan napas para pejuang keluarga: pedagang kecil yang menggelar lapak sejak subuh, petani yang menantang terik, pengemudi ojek online yang melintasi jalanan, hingga guru yang membimbing anak bangsa di pelosok. Mereka tidak sedang sekadar memeras keringat, tetapi sedang menjalankan perintah ilahi: bertebaran mencari karunia Allah. Bekerja halal dan profesional adalah bagian integral dari keberagamaan. Islam memuliakan ikhtiar dan menolak kemalasan yang berlindung di balik topeng pasrah.

Tawakal: Jiwa yang Tenang di Tengah Ketidakpastian

Kendati demikian, manusia harus sadar bahwa hasil akhir bukanlah kekuasaan mutlaknya. Dalam QS Ar-Rum ayat 37 Allah berfirman ;

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

Di sinilah letak pentingnya tawakal. Rasulullah SAW bersabda ;
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Imam At-Tirmidzi)

Perhatikan burung tersebut, ia tidak berdiam diri di dalam sarangnya menunggu makanan jatuh dari langit. Ia terbang mengepakkan sayap. Tawakal selalu berpasangan dengan kerja keras. Kita mengasah keterampilan, memanfaatkan teknologi, dan merancang strategi terbaik. Setelah seluruh ikhtiar diraih, hasil akhir kita pasrahkan kepada Allah. Inilah ketahanan mental Muslim sejati: tidak jemawa saat sukses, dan tidak rapuh saat diuji kegagalan.

Menghidupkan Spirit Al-Ma’un dalam Filantropi

Puncak dari keutamaan rezeki terletak pada keberanian untuk berbagi. Rasulullah SAW menegaskan: “Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl”—“Sedekah tidak akan mengurangi harta” (HR Muslim). Kalkulator matematis mungkin melihat saldo berkurang, namun Allah menggantinya dengan keberkahan yang tak terhitung nilainya.

Bagi warga Persyarikatan, pemaknaan rezeki wajib berakar pada spirit Surah Al-Ma'un. KH Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Al-Ma'un sekadar untuk dihafalkan, melainkan dipraktikkan secara nyata. Sosiolog Abdul Munir Mulkhan menyebutnya sebagai “teologi in action”, suatu keyakinan yang mewujud dalam aksi kemanusiaan memandikan, memberi makan, dan mendidik kaum dhu'afa serta anak yatim.

Rezeki tidak boleh berhenti pada kesalehan konsumtif. Ia harus bertransformasi menjadi energi pemberdayaan masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah. Dalam ajaran Muhammadiyah, filantropi Islam adalah motor penggerak menuju kemandirian ekonomi umat, mengubah masjid dan lembaga sosial menjadi pusat pelayanan kesejahteraan publik.

Kesalehan seorang Muslim tidak cukup berhenti di atas sajadah, tetapi harus hadir melapangkan jalan bagi mereka yang membutuhkan. Muslim yang berlimpah rezeki bukanlah dia yang paling menumpuk harta, melainkan yang paling luas menebar manfaat untuk sesama.

Disampaikan pada Khutbah Jumat di Masjid At Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, 11 September 2026 / 29 Rabiulawal 1448 H.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Orang Bilang Bencana Oleh: Mohammad Fakhrudin Orang bilang bencanaSastrawan bilang inspirasi:cerpe....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Wawasan

JSM, SUMU DAN PUPUKMU Khafid Sirotudin Ada pertanyaan menarik dari seorang peserta Rakorwil UMKM M....

Suara Muhammadiyah

3 February 2024

Wawasan

Ramadhan Bersama Al-Qur’an, Syawal Menguatkan Silaturahmi Penulis: M. Saifudin, Pengasuh PPM ....

Suara Muhammadiyah

18 March 2026

Wawasan

Pelajaran dari Piala Dunia  Oleh: Buya Anwar Abbas Piala dunia sudah usai. Spanyol berhasil ....

Suara Muhammadiyah

20 July 2026

Wawasan

Menakar Tata Kelola Organisasi Alumni Kampus Muhammadiyah Oleh: Hani Adhani Sebagai salah satu org....

Suara Muhammadiyah

4 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah