Cacat Peradaban Manusia

Publish

28 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Cacat Peradaban Manusia

Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta 

Manusia dalam perspektif Al-Qur’an diposisikan sebagai makhluk yang dimuliakan. Kemuliaan itu tidak semata-mata karena bentuk fisiknya, melainkan karena anugerah akal yang menjadikannya mampu memahami, menimbang, dan mengambil keputusan. Dengan akal tersebut, manusia tampil sebagai subjek peradaban. Ia mengolah alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun kehidupan yang semakin kompleks dari masa ke masa.

Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa manusia telah mencapai kemajuan yang sangat signifikan. Dunia modern menghadirkan berbagai kemudahan yang dahulu sulit dibayangkan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi merambah hampir seluruh aspek kehidupan, dan peradaban manusia mengalami lompatan besar yang menandai perbedaan mencolok dengan zaman-zaman sebelumnya. Semua ini menguatkan posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki daya cipta dan daya karsa yang tinggi.

Namun demikian, Al-Qur’an juga memberikan peringatan bahwa kemuliaan manusia tidak bersifat mutlak. Ia tetap berada dalam kemungkinan untuk tergelincir. Dalam bahasa Al-Qur’an, manusia dapat menjadi ahsanu taqwim—sebaik-baik ciptaan—tetapi juga berpotensi jatuh ke dalam asfala safilin, titik kehinaan yang paling rendah. Di sinilah letak ambivalensi manusia: antara potensi kemuliaan dan kemungkinan keterpurukan.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (At-Tin [95]: 5)

Sejalan dengan itu, pemikiran Bey Arifin dalam karyanya Samudra Al-fatihah mengingatkan bahwa peradaban manusia selalu menyimpan cacat yang menyertai perjalanan sejarahnya. Cacat tersebut tidak hanya terjadi pada masa lampau, tetapi juga hadir dalam realitas kontemporer, bahkan mungkin akan terus berulang di masa yang akan datang. Dengan demikian, kemajuan peradaban tidak identik dengan kesempurnaan manusia.

Cacat pertama yang dapat dicermati adalah adanya kecenderungan sebagian manusia untuk mengingkari Tuhan. Dalam konteks modern, fenomena ini seringkali dikaitkan dengan perkembangan rasionalitas dan sains. Sebagian kalangan merasa bahwa akal dan ilmu pengetahuan telah cukup untuk menjelaskan realitas, sehingga keberadaan Tuhan dianggap tidak lagi diperlukan. Padahal, Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk menggunakan akalnya justru sebagai jalan untuk mengenal Tuhan, bukan untuk menafikannya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (Ali-Imran [3]: 190-191)

Akal dalam pandangan Al-Qur’an bukanlah alat yang berdiri sendiri tanpa arah, melainkan sarana untuk menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Ketika akal dipisahkan dari kesadaran ketuhanan, maka ia kehilangan orientasi transendennya. Akibatnya, manusia berpotensi terjebak pada cara pandang yang sempit, yang hanya mengakui realitas yang terindra, tetapi mengabaikan dimensi makna yang lebih dalam.

Cacat kedua adalah penyimpangan dalam penggunaan akal dan ilmu pengetahuan. Kemajuan sains dan teknologi seharusnya menjadi instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan. Akan tetapi, dalam kenyataannya, tidak sedikit dari hasil kemajuan tersebut justru digunakan untuk tujuan yang merusak. Konflik bersenjata, eksploitasi sumber daya, hingga manipulasi informasi menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam hal ini, Al-Qur’an menegaskan pentingnya integrasi antara ilmu dan iman. Ilmu yang tidak dibimbing oleh iman berpotensi melahirkan kerusakan, sementara iman tanpa ilmu dapat menjelma menjadi sikap yang kaku dan tidak produktif. Oleh karena itu, keseimbangan keduanya menjadi prasyarat bagi terwujudnya peradaban yang berkeadaban.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadillah [58]: 11)

Cacat ketiga adalah kecenderungan manusia untuk memuja sesama manusia. Fenomena ini tampak dalam berbagai bentuk, terutama dalam kehidupan sosial dan politik. Individu yang memiliki kekuasaan, kedudukan, atau pengaruh seringkali mendapatkan penghormatan yang berlebihan, bahkan melampaui batas kewajaran. Dalam situasi seperti ini, kebenaran tidak lagi diukur secara objektif, melainkan ditentukan oleh posisi sosial seseorang.

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat [49]: 13)

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh ketakwaannya. Ketika manusia lebih mengutamakan pujian kepada sesama daripada ketaatan kepada Tuhan, maka terjadi pergeseran nilai yang mendasar. Pujian yang berlebihan dapat menutup ruang kritik, dan pada akhirnya melemahkan kontrol sosial terhadap kekuasaan.

Ketiga cacat tersebut menunjukkan bahwa problem utama peradaban bukan terletak pada kurangnya kemajuan, melainkan pada lemahnya orientasi nilai. Kemajuan tanpa nilai hanya akan melahirkan peradaban yang rapuh. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengembalikan manusia kepada kesadaran akan posisi dan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata: ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Al-Baqarah [2]: 30)

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad [38]: 26)

Dalam perspektif Al-Qur’an, menjadi khalifah berarti mengelola bumi dengan prinsip keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab. Amanah ini menuntut manusia untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral. Dengan demikian, peradaban yang dibangun tidak hanya maju secara material, tetapi juga bermakna secara etik dan transenden.

Pada akhirnya, kemuliaan manusia bukanlah sesuatu yang selesai diberikan, melainkan harus terus diupayakan. Ia menuntut kesadaran, pengendalian diri, dan komitmen terhadap nilai-nilai ilahiah. Dalam kerangka ini, refleksi terhadap cacat peradaban bukanlah bentuk pesimisme, tetapi justru menjadi jalan untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, peradaban yang ideal bukanlah peradaban yang bebas dari kekurangan, melainkan peradaban yang mampu mengenali kelemahannya dan berupaya memperbaikinya dalam bingkai petunjuk Ilahi. Di situlah manusia menemukan kembali makna kemuliaannya sebagai makhluk yang tidak hanya berpikir, tetapi juga beriman dan berakhlak.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Transparansi Fiskal dan Komunikasi Publik Ala Purbaya Oleh: Ijang Faisal, Dosen Ilmu Komunikasi Uni....

Suara Muhammadiyah

29 October 2025

Wawasan

Oleh: Abdul Rohman, Mahasiswa Institut Agama Islam Al Ghuraba Jakarta Menteri koordinator bidang Po....

Suara Muhammadiyah

17 December 2024

Wawasan

Menguatkan Pijakan Ideopolitor untuk Masa Depan Muhammadiyah Oleh Bahrus Surur-Iyunk, Kader Mu....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST, MSc, PhD, IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia Yo....

Suara Muhammadiyah

7 May 2025

Wawasan

Karakter Ayat-ayat Shiyām Ramadhān (1): Iman Menumbuhkan Kekuatan Pengendali Ust. Rifqi Rosy....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah