Ketika Masjid Muhammadiyah Kehilangan Anak Muda
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Timur
Pada banyak kesempatan, masjid masih tampak megah secara fisik, tetapi mulai kehilangan denyut kehidupan dari generasi muda. Bangunan berdiri kokoh, program berjalan rutin, pengajian tetap berlangsung, namun wajah-wajah muda semakin jarang terlihat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu daerah tertentu, melainkan juga menjadi gejala yang dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Di sejumlah masjid, terutama di kawasan perkotaan, jamaah didominasi oleh kelompok usia dewasa dan lanjut usia. Anak-anak muda hadir sesekali, biasanya pada momentum tertentu seperti Ramadan, kegiatan sosial, atau acara keagamaan besar.
Fenomena tersebut seharusnya menjadi alarm bagi gerakan dakwah Islam, termasuk Muhammadiyah. Sebab, masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat pembentukan peradaban. Sejak masa Rasulullah SAW, masjid menjadi pusat pendidikan, penguatan sosial, pengembangan ekonomi, hingga pembinaan generasi. Ketika masjid mulai kehilangan kedekatan dengan anak muda, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya jumlah jamaah saat ini, melainkan keberlanjutan ekosistem dakwah Islam di masa depan.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menempatkan dakwah dan tajdid sebagai identitas utama tentu tidak dapat mengabaikan persoalan ini. Apalagi sejarah Muhammadiyah sendiri menunjukkan bahwa gerakan ini lahir dari energi kaum muda. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, adalah sosok pembaharu yang berani mengajak umat keluar dari zona nyaman. Banyak tokoh besar Muhammadiyah pada masa awal juga tampil sebagai generasi muda yang memiliki keberanian intelektual dan semangat perubahan. Pertanyaannya, mengapa pada saat ini sebagian masjid justru semakin sulit menarik minat generasi muda? Bagaimana Muhammadiyah harus merespons tantangan tersebut?
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat perubahan sosial yang sedang berlangsung. Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka lahir dan tumbuh di era digital yang ditandai dengan kecepatan informasi, konektivitas tanpa batas, dan perubahan budaya yang berlangsung sangat cepat.
Media sosial telah menjadi ruang publik baru. Jika dahulu masjid menjadi pusat pertemuan masyarakat, kini sebagian fungsi interaksi sosial telah berpindah ke ruang digital. Anak muda dapat berdiskusi, belajar, mencari hiburan, bahkan membangun komunitas tanpa harus hadir secara fisik di satu tempat.
Menurut berbagai laporan digital global dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk mengakses internet dan media sosial. Kelompok usia muda menjadi pengguna yang paling aktif. Dalam konteks ini, sesungguhnya yang terjadi bukanlah anak muda menjauh dari ruang komunitas, melainkan mereka berpindah ke ruang komunitas yang berbeda.
Masalah muncul ketika masjid belum mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Banyak masjid masih menggunakan pola komunikasi yang sama seperti puluhan tahun lalu, sementara jamaah yang dihadapi telah berubah secara fundamental.
Kondisi ini berakibat pada terjadinya kesenjangan. Masjid berbicara dalam bahasa masa lalu, sedangkan anak muda hidup dalam bahasa masa kini. Masjid menawarkan pendekatan satu arah, sementara generasi muda terbiasa dengan interaksi dua arah. Masjid sering kali menuntut kehadiran fisik, sementara anak muda hidup dalam budaya yang mengintegrasikan ruang fisik dan digital secara bersamaan. Di sinilah tantangan dakwah Muhammadiyah menjadi semakin kompleks.
Salah satu penyebab sebagian anak muda menjauh dari masjid adalah pendekatan dakwah yang masih terlalu formal dan kurang menyentuh realitas keseharian mereka. Tidak sedikit kajian keislaman yang berbicara tentang hal-hal normatif tetapi kurang menghubungkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi generasi muda. Padahal mereka hidup di tengah berbagai tantangan baru seperti tekanan akademik, ketidakpastian pekerjaan, kesehatan mental, kecanduan digital, krisis identitas, persoalan relasi sosial, hingga tekanan ekonomi.
Anak muda membutuhkan agama yang hadir sebagai solusi. Mereka tidak hanya membutuhkan penjelasan tentang apa yang halal dan haram, tetapi juga panduan tentang cara menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Ketika masjid gagal menjawab kegelisahan tersebut, mereka mencari jawaban di tempat lain. Ada yang menemukannya di komunitas digital, ada yang mencari melalui konten motivasi, ada pula yang terseret ke dalam narasi keagamaan yang ekstrem dan tidak memiliki landasan keilmuan yang kuat.
Muhammadiyah sebenarnya memiliki modal besar untuk menjawab kebutuhan ini. Tradisi tajdid yang dimiliki Muhammadiyah memungkinkan dakwah Islam disampaikan secara kontekstual tanpa kehilangan pijakan normatif. Tantangannya adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan ke dalam program-program yang relevan dengan kehidupan generasi muda.
Persoalan lain yang sering luput disadari adalah kecenderungan sebagian pengelola masjid untuk lebih fokus pada kegiatan daripada pada hubungan. Masjid memiliki banyak program, tetapi belum tentu memiliki banyak anak muda yang merasa diterima. Agenda demi agenda disusun dengan rapi, tetapi ruang dialog masih terbatas.
Dalam banyak kasus, anak muda tidak serta-merta hanya mencari program. Mereka mencari komunitas. Mereka ingin merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan. Ketika seorang pemuda datang ke masjid tetapi merasa dihakimi karena penampilannya, dikritik karena ketidaktahuannya, atau dianggap belum cukup religius, maka kemungkinan besar ia tidak akan kembali lagi. Sebaliknya, ketika ia menemukan lingkungan yang ramah, terbuka, dan bersedia mendampinginya dalam bertumbuh, masjid akan menjadi rumah kedua baginya.
Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Beliau tidak membangun kedekatan dengan generasi muda melalui ceramah semata, melainkan melalui hubungan personal yang hangat. Banyak sahabat muda tumbuh menjadi pemimpin besar karena mereka merasa dipercaya dan diberi ruang untuk berdaya. Dakwah Muhammadiyah perlu terus menghidupkan pendekatan tersebut. Masjid harus menjadi ruang yang memanusiakan, bukan sekadar ruang yang mengajarkan.
Fenomena lain yang perlu dicermati adalah keterbatasan ruang kepemimpinan bagi generasi muda. Di banyak tempat, anak muda hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi belum menjadi pengambil keputusan. Mereka dilibatkan sebagai pelaksana teknis, bukan sebagai perancang masa depan masjid. Padahal, rasa memiliki akan tumbuh ketika seseorang diberi kepercayaan.
Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam kaderisasi melalui organisasi otonom seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Namun, pengalaman kaderisasi tersebut perlu semakin terintegrasi dengan pengelolaan masjid. Masjid Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi tempat kegiatan kader. Masjid harus menjadi laboratorium kepemimpinan bagi para kader.
Anak muda perlu diberikan ruang untuk mengelola program, merancang inovasi, mengembangkan media digital, membangun gerakan sosial, hingga ikut menentukan arah pengembangan masjid. Jika mereka hanya ditempatkan sebagai objek, keterlibatan mereka akan bersifat sementara. Namun, jika mereka menjadi subjek, keterikatan mereka akan jauh lebih kuat. Masih banyak pengurus DKM yang enggan melibatkan anak muda untuk sama-sama mengelola masjid, padahal regenerasi kepengurusan harus dimulai sejak dini.
Tantangan terbesar dakwah masa kini sesungguhnya ialah kompetisi perhatian. Setiap hari anak muda dibanjiri ribuan informasi. Mereka bersaing dengan video pendek, gim daring, platform hiburan, media sosial, serta berbagai bentuk konten digital lainnya.
Dalam kondisi seperti ini, dakwah tidak cukup hanya benar. Dakwah juga harus mampu menarik perhatian. Hal ini bukan berarti dakwah harus mengikuti semua tren secara membabi buta. Namun, dakwah perlu memahami cara generasi muda menerima informasi. Konten yang panjang tanpa visual yang menarik sering kali sulit menjangkau jamaah muda. Ceramah yang tidak relevan dengan kehidupan mereka mudah ditinggalkan. Sebaliknya, pesan yang singkat, jelas, inspiratif, dan berbasis solusi lebih mudah diterima.
Muhammadiyah memiliki ribuan amal usaha, sekolah, kampus, rumah sakit, dan masjid. Sesungguhnya ini adalah sumber cerita yang luar biasa besar. Sayangnya, banyak kisah inspiratif tersebut belum dikemas secara optimal di ruang digital. Padahal generasi muda membutuhkan role model. Mereka membutuhkan narasi tentang tokoh-tokoh Muslim yang berhasil, inovatif, berintegritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dakwah digital bukan lagi pilihan tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan strategis.
Terdapat dimensi yang lebih mendalam daripada sekadar persoalan metode dakwah, yaitu krisis makna. Banyak anak muda hidup di tengah kemajuan teknologi tetapi mengalami kesepian. Mereka terkoneksi dengan banyak orang, tetapi merasa tidak memiliki tempat untuk berbagi. Mereka memiliki akses informasi yang luas tetapi kehilangan arah hidup.
Fenomena ini terjadi secara global. Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya masalah kesehatan mental, kecemasan, dan perasaan terisolasi di kalangan generasi muda. Dalam konteks ini, masjid sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi ruang pemulihan sosial dan spiritual.
Masjid dapat menjadi tempat bagi anak muda untuk menemukan makna hidup, tujuan yang lebih besar, serta komunitas yang saling mendukung. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika masjid mampu menghadirkan pengalaman keberagamaan yang hangat dan menumbuhkan kebebasan. Anak muda perlu merasakan bahwa Islam bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan jalan hidup yang memberikan ketenangan, harapan, dan arah bagi masa depan.
Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan dakwah yang berorientasi pada pemberdayaan. Dakwah tidak berhenti pada mimbar, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan penguatan ekonomi. Pendekatan ini sangat relevan untuk menarik kembali keterlibatan generasi muda.
Banyak anak muda tertarik pada aktivitas yang berdampak nyata bagi masyarakat. Mereka ingin berkontribusi dalam penyelesaian masalah sosial, lingkungan, pendidikan, dan kemanusiaan. Karena itu, masjid perlu menghadirkan lebih banyak program yang bersifat partisipatif. Misalnya, gerakan peduli lingkungan, pendampingan pendidikan anak, bantuan bagi masyarakat miskin, literasi digital, pemberdayaan UMKM, atau kegiatan kemanusiaan lainnya.
Ketika anak muda melihat bahwa masjid bukan hanya tempat berbicara tentang kebaikan, tetapi juga tempat mewujudkan kebaikan, keterlibatan mereka akan meningkat. Dakwah yang memberdayakan jauh lebih menarik dibandingkan dakwah yang hanya mengandalkan ceramah.
Menghadapi tantangan ini, Muhammadiyah memerlukan reorientasi dakwah yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Pertama, memperkuat dakwah yang berbasis pada kebutuhan generasi muda. Tema-tema seperti karier, kewirausahaan, literasi keuangan, teknologi, kesehatan mental, keluarga, dan kepemimpinan perlu mendapat perhatian yang lebih besar.
Kedua, memperluas dakwah digital secara sistematis. Masjid Muhammadiyah perlu hadir secara aktif di berbagai platform digital dengan konten yang kreatif, edukatif, dan inspiratif. Ketiga, membangun ekosistem komunitas yang inklusif. Masjid harus menjadi ruang yang ramah bagi semua anak muda yang ingin belajar, termasuk mereka yang masih dalam proses pencarian dan pembelajaran agama.
Keempat, memperluas ruang kepemimpinan bagi generasi muda. Semakin banyak anak muda yang diberi kepercayaan, semakin besar peluang mereka untuk merasa memiliki masjid. Kelima, mengintegrasikan dakwah dengan aksi sosial. Anak muda perlu melihat bahwa keberagamaan memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, persoalan hilangnya anak muda dari masjid tidak boleh dipandang sekadar sebagai masalah kehadiran fisik. Ini adalah persoalan regenerasi, keberlanjutan dakwah, dan masa depan peradaban Islam. Muhammadiyah memiliki modal historis, intelektual, dan kelembagaan yang sangat kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Jaringan pendidikan yang luas, tradisi tajdid yang kokoh, pengalaman kaderisasi yang panjang, serta budaya organisasi yang modern merupakan kekuatan yang tidak dimiliki oleh banyak organisasi lain.
Namun, modal besar itu harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Dakwah tidak boleh berhenti pada keberhasilan di masa lalu. Dakwah harus terus bergerak mengikuti dinamika masyarakat yang dilayaninya.
Masjid yang berhasil pada masa depan bukanlah masjid yang hanya ramai oleh kegiatan, melainkan masjid yang berhasil melahirkan generasi penerus. Masjid yang hidup bukan hanya yang penuh jamaah hari ini, tetapi yang mampu menjaga keterhubungan anak muda dengan Islam selama puluhan tahun ke depan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi mengapa anak muda menjauh dari masjid. Pertanyaan yang lebih penting adalah sudahkah masjid benar-benar hadir dalam kehidupan anak muda? Ketika masjid mampu menjadi ruang belajar, ruang berkarya, ruang bertumbuh, ruang berbagi, dan ruang menemukan makna hidup, maka generasi muda akan datang bukan karena dipaksa, melainkan karena merasa memiliki.
Di situlah tantangan sekaligus peluang besar dakwah Muhammadiyah pada abad kedua keberadaannya. Menjemput kembali generasi muda bukan sekadar agenda organisasi, melainkan investasi bagi peradaban. Sebab masa depan Islam di Indonesia sangat ditentukan oleh seberapa berhasil kita menjadikan masjid sebagai rumah yang dicintai oleh generasi mudanya.

