Cahaya Tajdid di Balik Kebun Kurma

Publish

28 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
142
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Cahaya Tajdid di Balik Kebun Kurma

Menjemput Kebenaran, Meruntuhkan Fanatisme

Penulis: M. Saifudin, Wakil Ketua PCM Weru & Pengasuh Pesantren Muhammadiyah Sangen

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala, Imam Adz Dzhabi, mengutip riwayat Imam Al Bukhari dalam kitab Sahihnya tentang kisah masuk Islamnya Abdullah bin Salam.

Hari itu suasana Yatsrib (Madinah) mendebarkan setiap jiwa. Angin berhembus membawa kabar gembira, sang Nabi telah tiba (hijrah). Di tengah riuhnya manusia yang menyambut, seorang rabi besar bernama Abdullah bin Salam sedang berkebun di tengah pepohonan kurma. Saat melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia tersentak. Hati kecilnya berbisik, "Wajah ini bukanlah wajah seorang pembohong."

Kalimat pertama yang didengarnya dari lisan Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu lembut namun menggugah hati, "Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat."

Abdullah pun lari menemui Nabi. Ia tahu kebenaran itu nyata, kebenaran yang telah lama dirindukan, ia pun bersyahadat, namun ia teringat tabiat buruk kaumnya. Ia sampaikan kepada Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, kaum Yahudi adalah kaum yang suka menuduh. Sembunyikan aku, lalu tanyalah mereka tentangku sebelum mereka tahu aku telah Islam."

Maka Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengundang orang-orang Yahudi dan tidak tertinggal para tokoh besarnya seperti Abu Yasir dan Huyai bin Akhtab, Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam "Siapakah Abdullah bin Salam di antara kalian?"

Mereka menjawab dengan penuh sanjungan, "Ia adalah pemimpin kami, putra pemimpin kami. Orang paling alim dan putra orang paling alim di antara kami!" Nabi kembali bertanya, "Bagaimana jika ia masuk Islam?" Mereka berteriak menolak, "Semoga Allah melindunginya dari hal itu! Mustahil!"

Saat itulah, Abdullah keluar menampakkan diri dan berseru, "Wahai kaum Yahudi, bertakwalah kepada Allah! Demi Allah, kalian tahu dia adalah utusan Allah yang benar."

Seketika, sanjungan berubah menjadi cercaan. Wajah-wajah yang awalnya memuji kini memerah penuh kebencian. Mereka berteriak, "Dia adalah orang paling buruk di antara kami, putra dari orang paling buruk!"

Abdullah hanya menatap Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seakan meyakinkan kepada beliau bahwa demikianlah sikap kaumnya, "Inilah yang aku takutkan, wahai Rasulullah."

Kisah ini adalah gambaran datangnya hidayah. Ada yang melihat kebenaran lalu bersujud seperti Abdullah, namun ada pula yang menolak seperti para tokoh Yahudi lainya, Huyay bin Akhtab dan Abu Yasir, meski mereka mengakui dalam hati, "Ya, dia memang Nabi itu," namun Huyai tetap menolak, "Aku akan memusuhinya selamanya." Sungguh, kebenaran itu terang, namun hanya hati yang tulus yang mampu memeluknya.

Kisah ini bermula dengan sebuah kerinduan pada kebenaran berbalut kejujuran yang dihadapkan pada kenyataan pahit. Abdullah bin Salam, seorang pemuka agama Yahudi yang sangat dihormati, langsung mendapati kebenaran saat pertama kali melihat wajah Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginya, wajah itu bukanlah wajah seorang pendusta, itulah wajah yang benar-benar membawa kebenaran hakiki. Namun, ia sadar akan tabiat kaumnya. Ia meminta Nabi menyembunyikannya terlebih dahulu agar kejujurannya diuji melalui lisan orang-orang Yahudi sendiri.

Suasana berubah menjadi panggung sandiwara yang ironis saat tokoh-tokoh Yahudi datang menemui Nabi. Sebelum tahu Abdullah telah masuk Islam, mereka memujinya setinggi langit sebagai orang terbaik dan paling alim di antara mereka. Begitu Abdullah muncul dan menyatakan keislamannya di depan mata mereka, pujian itu seketika menguap, berganti dengan cacian yang menyebutnya sebagai orang paling buruk. Perubahan sikap yang secepat kilat ini menunjukkan betapa kuatnya gengsi kelompok mengalahkan kebenaran yang sudah mereka akui dalam hati.

Di sisi lain, ada tokoh Abu Yasir dan Huyai bin Akhtab yang keukeuh dalam penolakan. Meski Abu Yasir sempat luluh dan mengajak kakaknya mengikuti Nabi, Huyai justru memilih jalan permusuhan abadi. Padahal, dalam percakapan rahasia yang didengar putrinya, Safiyyah, Huyai mengakui dengan lisan sendiri bahwa sosok yang datang itu memang benar Nabi yang mereka tunggu-tunggu. Keangkuhan untuk mempertahankan kedudukan membuat mereka sengaja memilih jalan yang salah meski mata mereka telah melihat cahaya yang nyata.

Iman adalah pelita pencerahan yang menuntut ketulusan hati dan pemurnian tauhid. Di Madinah, sang alim memilih jalan tajdid, melepaskan fanatisme buta demi memeluk kebenaran yang memajukan harkat kemanusiaan dan menebar maslahat bagi semesta.

"Janganlah kamu takut mencari kebenaran, sebab kebenaran itu tidak pernah berubah, hanya manusia yang berubah-ubah karena pengaruh hawa nafsunya." (K.H.R. Hadjid dalam Pelajaran Kiai Ahmad Dahlan)


Komentar

Doa ibu

Cara membatalkan pinjaman di PinjamAmanah, Untuk membatalkan PinjamAmanahbisa langsung hubungi Call Center Resmi ☎️ (0838-5817-430) Untuk membatalkan pinjaman, Pastikan berkomunikasi dengan jelas tentang keinginan membatalkan pinjaman untuk menghindari kesalahpahaman dan proses yang tidak di inginkan.

Doa ibu

Gimana cara untuk membatalkan pinjaman di PinjamAmanah, Untuk membatalkan pinjaman bisa langsung hubungi Call Center Resmi ☎️ (0838-5817-430) Untuk membatalkan pinjaman, Pastikan berkomunikasi dengan jelas tentang keinginan membatalkan pinjaman untuk menghindari kesalahpahaman dan proses yang tidak di inginkan.

Doa ibu

Cara cepat membatalkan PinjamAmanah, Untuk membatalkan pinjaman bisa langsung hubungi Call Center Resmi ☎️ (0838-5817-430) Untuk membatalkan pinjaman, Pastikan berkomunikasi dengan jelas tentang keinginan membatalkan pinjaman untuk menghindari kesalahpahaman dan proses yang tidak di inginkan.

Doa ibu

Cara cepat batalkan pinjam amanah, Untuk membatalkan pinjaman PinjamAmanah bisa langsung hubungi Call Center Resmi ☎️ (0838-5817-430) Untuk membatalkan pinjaman, Pastikan berkomunikasi dengan jelas tentang keinginan membatalkan pinjaman untuk menghindari kesalahpahaman dan proses yang tidak di inginkan.

Doa ibu

Cara kembalikan pinjaman yg sudah cair di PinjamAmanah, Untuk pengembalian pinjaman bisa langsung hubungi Call Center Resmi ☎️ (0838-5817-430) Untuk membatalkan pinjaman, Pastikan berkomunikasi dengan jelas tentang keinginan membatalkan pinjaman untuk menghindari kesalahpahaman dan proses yang tidak di inginkan.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Catatan Atas Kritik Menteri Keuangan Terhadap Perbankan Syariah Oleh: Buya Anwar Abbas Kritik Ment....

Suara Muhammadiyah

16 February 2026

Wawasan

Menjenguk Tetangga Yang Sakit Oleh: Mohammad Fakhrudin Topik kajian ini merupakan lanjutan pengemb....

Suara Muhammadiyah

18 July 2025

Wawasan

Kader Itu Olah Pikiran - Olah Rasa Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Sukoharjo, Mahasantri Pondok Shabr....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Wawasan

Antara Tawakal dan Ikhtiar Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Tawakal merupakan ibadah hat....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Wawasan

Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Kreativitas dan Kelestarian Oleh: Dzar Al Banna, M.A., Koor....

Suara Muhammadiyah

10 August 2025