Cerita dari Masjid Sunni di Minab, Selatan Iran
Oleh: Agiel Laksamana Putra, Pengurus PCIM Iran dan Pelajar di Iran
Saat berkunjung ke Masjid Ahlu Sunnah di Minab Juli lalu, akhir pandanganku tertuju pada sebuah sudut masjid. Di sana, sekitar sembilan anak laki-laki berusia SD hingga SMP sedang duduk melingkar. Masing-masing memegang mushaf Al-Qur'an. Mereka belajar membaca Al-Quran dengan bimbingan seorang guru ngaji. Suasananya tenang. Tak ada suara gaduh. Hanya lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang terdengar saling bersahutan.
"Selamat datang di Minab,” ucap seorang anak menyapaku.
Aku sempat kaget, sekaligus takjub. Dari mana dia bisa bahasa Indonesia?
Aku pun spontan menjawab, "Masyaallah, āfarin!", sebuah ungkapan dalam bahasa Persia yang berarti "bagus sekali" atau "hebat".
Belakangan, ia menjawab dengan santai, "Aku belajar dari ChatGPT."
Pantas saja, pikirku sambil tertawa. Rasanya hampir mustahil ada pelajaran bahasa Indonesia di sekolah mereka haha.
Begitu mereka tahu kami berasal dari Indonesia, mereka sangat antusias. Anak-anak itu, para jamaah, hingga imam masjid menyambut kami dengan hangat. Indonesia memang memiliki tempat tersendiri di hati banyak muslim, sebagai negara dengan populasi muslim yang sangat besar di dunia, meski belakangan ada kabar Pakistan telah menjadi yang terbesar. Terlebih lagi, kami sama-sama berasal dari kalangan Muslim Sunni.
Aku perhatikan, metode mengajar ustaznya terlihat sangat ramah kepada anak-anak. Tak ada suara bentakan. Tak terlihat lidi atau potongan kayu kecil yang sering identik dengan cara mendisiplinkan santri di Indonesia.
Tapi, semua anak begitu disiplin.
Tak ada yang mengobrol. Tak ada yang berlari ke sana kemari. Tak ada yang mengganggu temannya, atau sekedar ngereog sana sini. Mereka fokus membaca Al-Qur'an satu per satu.
Apa ya kira-kira rahasianya?
Belakangan, aku baru mengetahui bahwa anak-anak itu ternyata berasal dari Afghanistan.
Memang, sebagian besar jamaah di Masjid Ahlu Sunnah ini bukanlah warga asli Minab. Banyak di antaranya merupakan imigran asal Afghanistan yang menetap di wilayah selatan Iran.
Fakta itu membuatku kembali berpikir.
Jika muslim Sunni dari negara lain saja difasilitasi tempat untuk beribadah dan memiliki kehidupan keagamaan yang berjalan sebagaimana mestinya, mengapa di luar sana masih begitu sering terdengar narasi bahwa muslim Sunni di Iran "dibantai" atau "dipersekusi"?
Setidaknya, kesan itu runtuh dalam benakku ketika menginjakkan kaki di Minab.
"Minab adalah salah satu kota di Iran yang hampir separuh penduduknya merupakan Muslim Sunni," ujar Ismail Jahan Giri, Direktur Jenderal Kebudayaan dan Bimbingan Islam, yang menyambut kedatangan kami di kota yang berada tak jauh dari Selat Hormuz itu.
Di kota ini, masyarakat Sunni dan Syiah hidup berdampingan. Mereka berbelanja di toko yang sama, makan di warung yang sama, menempuh pendidikan di lembaga yang sama, dan menjalani kehidupan sehari-hari sebagai sesama warga.
Bahkan, ketika serangan Amerika dan Israel menghantam sebuah sekolah di Minab, korban dari Sunni maupun Syiah sama-sama dikenang dengan gelar tertinggi dalam tradisi Islam: syahid.
Tak banyak yang tau. Saat kunjunganku di Minab bergeser ke pemakaman 168 anak-anak dan warga sekolah Sajereh Tayyiba di Minab, aku mendapati satu informasi yang jarang diangkat di publik. Ternyata, sebagian dari korban serangan udara AS-Israel ke sekolah tersebut di awal perang lalu, adalah muslim sunni.
Perjalanan selalu mengajarkan satu hal penting, bahwa melihat langsung sering kali menghadirkan gambaran yang lebih utuh dibanding sekadar mendengar cerita dari kejauhan. Minab tentu bukan representasi seluruh Iran, tetapi apa yang kusaksikan di kota kecil ini menjadi pengingat bahwa realitas di lapangan sering kali lebih kompleks daripada narasi yang beredar. Dan mungkin, di situlah letak nilai sebuah perjalanan, membuka ruang untuk menyaksikan, mendengar, lalu memahami dengan lebih jernih.

