Dakwah di Era Digital: Diantara Kekosongan Ruang Maya
Oleh: Khilmi Zuhroni, Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah Kotawaringin Timur
Suatu malam ditengah hujan deras, di hadapan ibu-ibu peserta Baitul Arqam Pimpinan Daerah Aisyiyah Kotawaringin Timur, saya memulai sesi materi dengan sebuah eksperimen sederhana yang saya yakin akan berbicara lebih keras daripada slide presentasi yang saya siapkan. Saya meminta seluruh peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan beberapa remaja putri untuk membuka telepon genggam mereka dan mengetikkan beberapa pertanyaan yang sangat lazim di mesin pencari Google: doa masuk masjid, doa tasyahud, bacaan shalat yang benar. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak asing. Pertanyaan yang setiap Muslim pasti pernah butuhkan jawabannya.
Kemudian saya ajukan sebuah pertanyaan yang tampaknya sepele: Coba perhatikan, adakah website Muhammadiyah atau yang terafiliasi dengannya muncul di halaman pertama Google, bahkan di sepuluh hingga lima belas indeks teratas?
Ruangan hening. Jemari para peserta menggulir layar. Mata mereka menelusuri nama-nama situs yang muncul satu per satu. Dan jawabannya, sebagaimana yang sudah saya duga, adalah: tidak ada satu pun.
Saat itulah saya menutup eksperimen itu dengan kalimat yang ingin saya tanamkan dalam-dalam: "Inilah problem dakwah kita di era digital."
Kita hidup di era di mana pertanyaan-pertanyaan keagamaan tidak lagi pertama kali diajukan kepada ustaz, kyai, atau pengurus masjid. Pertanyaan itu pertama kali diketikkan ke dalam kotak pencarian Google. Fenomena ini bukan gejala kemunduran, ia adalah sebuah keniscayaan zaman. Generasi muda kita tumbuh dengan refleks digital: ketika ingin tahu sesuatu, mereka searching, bukan bertanya.
Yang menjadi persoalan bukan pada refleks itu sendiri. Persoalannya adalah: siapa yang menjawab?
Ketika seorang anak muda mengetik doa masuk masjid dan yang muncul di halaman pertama adalah situs berita, portal jualan, atau blog tanpa kejelasan sanad keilmuan, maka itulah yang akan ia jadikan referensi. Bukan karena ia malas, bukan karena ia tidak peduli dengan kebenaran, tetapi semata-mata karena algoritma Google bekerja berdasarkan kualitas teknis konten: kecepatan loading, SEO (Search Engine Optimization), backlink, dan frekuensi pembaruan. Bukan berdasarkan kesahihan hadis. Bukan berdasarkan kedalaman ilmu fiqih.
Inilah paradoks terbesar dakwah di era digital: kebenaran yang tidak dikemas dengan baik akan kalah dari kebatilan yang dikemas dengan sempurna.
Menghadapi realitas ini, saya teringat pada pemikiran besar almarhum Kuntowijoyo, sejarawan dan cendekiawan Muslim Indonesia, yang dalam esai-esainya pernah menggambarkan fenomena yang ia sebut sebagai Muslim tanpa masjid, sebuah kondisi di mana identitas keislaman seseorang terbentuk bukan dari ruang komunal yang hidup, melainkan dari fragmen-fragmen informasi yang tersebar dan tercerabut dari konteks.
Kuntowijoyo mengkhawatirkan lahirnya generasi Muslim yang kehilangan masjid bukan dalam arti fisik, melainkan dalam arti epistemik: hilangnya ruang belajar yang otoritatif, hilangnya tradisi bertanya kepada yang berilmu, hilangnya rantai transmisi pengetahuan yang bertanggung jawab. Pada zamannya, gejala ini muncul akibat urbanisasi dan modernisasi. Pada zaman kita, gejala yang sama hadir dalam wujud yang lebih masif dan lebih tersembunyi: internet tanpa otoritas.
Bayangkan seorang remaja putri yang ingin tahu tata cara shalat yang benar. Ia membuka Google. Ia mendapat jawaban dari sepuluh sumber berbeda, dengan redaksi berbeda, kadang dengan hukum fiqih yang saling bertentangan. Tanpa bimbingan guru, tanpa konteks mazhab, tanpa kemampuan untuk memilah mana yang sahih. Ia terpaksa memilih sendiri, sering kali berdasarkan tampilan website yang paling menarik atau yang paling mudah dipahami. Inilah Muslim tanpa masjid dalam versi digital: seorang Muslim yang beragama, tetapi beragama sendirian, dalam ruang yang tidak punya dinding, tidak punya imam, tidak punya jemaah.
Yang lebih menyentuh bagi saya, dan ini yang ingin saya sampaikan kepada para peserta Baitul Arqam hari itu adalah bahwa kekosongan ini bukan semata-mata ciptaan teknologi. Kekosongan ini sebagian besar adalah ciptaan kita sendiri.
Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dengan jutaan kader, ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, dan jaringan intelektual yang luar biasa, seharusnya memiliki dominasi di ruang digital. Kita memiliki ulama, kita memiliki cendekiawan, kita memiliki metodologi tarjih yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, kita juga memiliki kampus-kampus dengan jurusan IT dan pakar algoritma yang banyak. Namun semua itu belum hadir dengan cukup kuat di halaman pertama Google.
Mengapa? Karena selama ini kita masih berdakwah dengan paradigma lama di era yang sudah berubah. Kita masih mengukur keberhasilan dakwah dengan jumlah jamaah pengajian, bukan dengan jumlah pengunjung situs web. Kita masih menganggap membuat brosur lebih penting daripada membuat konten yang ramah mesin pencari. Kita masih percaya bahwa kualitas isi sudah cukup, tanpa menyadari bahwa di dunia digital, konten yang tidak ditemukan sama dengan konten yang tidak ada.
Baitul Arqam, nama yang diambil dari rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, tempat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pertama kali berkumpul, belajar, dan menyusun kekuatan dakwah di tengah tekanan, adalah simbol yang sangat relevan untuk momen ini. Rumah Al-Arqam bukan hanya tempat ibadah; ia adalah markas strategis. Di sanalah Islam pertama kali belajar bagaimana bertahan, bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan kekuatan ilmu dan organisasi.
Kita perlu semangat Al-Arqam yang sama untuk merebut kembali ruang digital. Bukan dengan cara yang reaktif atau defensif, tetapi dengan strategi yang matang: membangun ekosistem konten Islam yang sahih, mudah diakses, ramah pengguna, dan dioptimalkan untuk mesin pencari. Bila perlu intruksikan agar semua mahasiswa dan siswa di kampus-kampus dan sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk membuat gerakan membuka, komen, like dan suscribe di website atau akun-akun medsos yang dimiliki Muhammadiyah agar tembus halaman pertama pencarian google.
Ibu-ibu dan remaja putri yang hari itu duduk di hadapan saya adalah garda depan yang sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan generasi muda, yang bisa menjadi jembatan antara sumber-sumber terpercaya dengan kehidupan sehari-hari anak-anak mereka.
Dakwah di era digital bukan hanya tentang membuat konten. Ia adalah tentang hadir di tempat orang mencari jawaban. Dan hari ini, orang mencari jawaban di Google sebagai mesin utama pencarian.
Pertanyaannya bukan lagi: apakah kita perlu hadir di sana? Pertanyaannya adalah: mengapa kita belum cukup hadir, dan apa yang akan kita lakukan mulai sekarang?
Itulah refleksi yang saya tinggalkan di ruang Baitul Arqam hari itu. Bukan untuk membuat peserta merasa bersalah, tetapi untuk membangunkan kesadaran bahwa ladang dakwah telah bergeser dan kita perlu mengikuti ke mana ladang itu pergi, sebelum orang lain memanen hasilnya terlebih dahulu.
"Sampaikanlah dariku walau satu ayat." Pesan Nabi ini tidak pernah terbatas pada satu medium. Ia relevan di atas mimbar, di dalam buku, dan tentu saja, di dalam algoritma.

