Data TKA dan Kesehatan Mental Generasi
Oleh: Nabil Syuja Faozan, Mahasiswa Profesi Dokter Universitas Muhammadiyah Jakarta
Di tengah persaingan yang semakin ketat dan masa depan yang kian tidak pasti, anak-anak muda kita hidup dalam tekanan yang tidak ringan. Tuntutan prestasi, kecemasan akan kegagalan, serta ketakutan mengecewakan orang tua sering kali menjadi beban psikologis yang mereka simpan sendiri.
Padahal, pendidikan seharusnya menjadi ruang tumbuh yang menenangkan, bukan ladang tekanan yang melelahkan. Dalam konteks inilah Tes Kemampuan Akademik (TKA) perlu dimaknai bukan sekadar sebagai ujian, tetapi sebagai ikhtiar menjaga kesehatan mental generasi melalui kejujuran data dan arah yang jelas.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merancang TKA dengan tiga fungsi utama: memotret capaian belajar, memperbaiki proses pembelajaran, dan menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.
Artinya, TKA bukan alat menghukum, melainkan alat bercermin. Bukan sekadar memberi angka, tetapi memberi makna. Ketika asesmen ditempatkan sebagai sarana refleksi, maka yang lahir bukan ketakutan, melainkan kesadaran.
Antusiasme siswa mengikuti TKA patut diapresiasi. Siaran Pers Kemendikdasmen Nomor 917/sipers/A6/XII/2025 mencatat partisipasi mencapai sekitar 3,56 juta dari 4,1 juta murid jenjang SMA, SMK, MA, dan Paket C. Angka ini besar, apalagi TKA tidak bersifat wajib dan tidak menentukan kelulusan. Ini menunjukkan bahwa jutaan siswa datang bukan karena dipaksa, tetapi karena kesadaran. Dalam psikologi, motivasi semacam ini disebut motivasi intrinsik, dan terbukti lebih sehat serta lebih bertahan lama (Ryan & Deci, 2000).
Hal yang lebih penting dari sekadar jumlah peserta adalah keberanian negara membuka data apa adanya. Hasil TKA menunjukkan bahwa 44,7 persen peserta memperoleh nilai Matematika dalam kategori kurang, sementara 33,8 persen berada di kategori kurang untuk Bahasa Inggris. Di sisi lain, lebih dari 80 persen siswa berada pada kategori baik dan istimewa dalam Bahasa Indonesia. Data ini jujur, telanjang, dan mungkin terasa pahit. Tetapi justru di sinilah letak nilainya.
Bayangkan jika data ini disembunyikan. Kita akan hidup dalam ilusi seolah semua baik-baik saja, padahal jutaan anak sedang tertinggal dalam diam. Dalam dunia kesehatan, tidak ada terapi tanpa diagnosis. Begitu pula dalam pendidikan. Angka 44,7 persen Matematika kategori kurang bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyelamatkan. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memperbaiki. Kejujuran data adalah langkah pertama penyembuhan.
Dari sisi kesehatan mental, TKA justru bisa menjadi penenang, bukan penekan. Banyak siswa cemas bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak tahu posisinya. Mereka menebak-nebak, membandingkan diri dengan orang lain, lalu menyimpulkan hal-hal buruk tentang dirinya sendiri.
TKA membuka tabir dibalik kabut itu. Dengan hasil objektif, siswa bisa berkata, “Saya lemah di sini, tapi kuat di sana.” Bandura (1997) menyebut ini sebagai self-efficacy, keyakinan terhadap kemampuan diri, yang sangat menentukan ketahanan mental.
Data Bahasa Indonesia yang menunjukkan lebih dari 80 persen siswa berada di kategori baik dan istimewa juga membawa pesan penting: anak-anak kita tidak bodoh. Mereka mampu. Mereka punya potensi. Masalahnya bukan pada kecerdasan, tetapi pada pendekatan, metode pembelajaran, dan dukungan. Ini kabar baik bagi kesehatan mental. Sebab, yang paling merusak jiwa anak adalah perasaan “tidak mampu”.
Ketika Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan bahwa hasil TKA dapat menjadi salah satu pertimbangan masuk perguruan tinggi negeri, sesungguhnya pemerintah sedang memberi arah. Anak-anak kita tidak lagi berjalan tanpa peta. Tapi memiliki jalan dan tujuan yang jelas.
Locke dan Latham (2002) menjelaskan bahwa tujuan yang jelas dapat menurunkan stres dan meningkatkan motivasi. Siswa yang tahu ke mana ia melangkah akan lebih kuat menghadapi tekanan. Sehingga dapat melangkah menuju tujuan dengan penuh kepastian.
Proses mempersiapkan TKA juga melatih disiplin, manajemen waktu, dan pengendalian emosi. Ini bukan soal pelajaran semata, tetapi soal karakter. WHO (2013) menegaskan pentingnya keterampilan koping (coping skills) sejak usia sekolah untuk mencegah masalah kesehatan mental di kemudian hari. Dalam hal ini, TKA adalah latihan kecil menghadapi kehidupan besar.
Lebih menenangkan lagi, hasil TKA tidak disajikan dalam bentuk peringkat yang menghakimi. Kepala BSKAP Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menegaskan bahwa hasil TKA tidak dimaksudkan untuk memberi label, tetapi disajikan dalam kategori deskriptif. Hattie (2009) menunjukkan bahwa umpan balik kualitatif jauh lebih berdampak daripada sekadar angka. Ini berarti siswa dinilai, bukan direndahkan; dibimbing, bukan dipermalukan.
Di sinilah TKA menemukan maknanya. Ia bukan sekadar tes, tetapi cermin. Ia bukan alat tekanan, tetapi alat penyelamatan. Ia membuka kelemahan agar bisa diperkuat. Ia membuka fakta agar tidak ada anak yang berjalan sendirian dalam kebingungan.
Kita tentu tidak ingin generasi yang cerdas tetapi rapuh. Kita tidak ingin anak-anak yang pandai berhitung tetapi mudah patah. Bangsa ini tidak hanya butuh otak-otak encer, tetapi jiwa-jiwa yang kokoh.
Karena itu, mari kita baca data TKA dengan hati, bukan dengan amarah. Angka 44,7 persen Matematika kategori kurang bukan aib, tetapi alarm. Angka 33,8 persen Bahasa Inggris kategori kurang bukan kegagalan, tetapi panggilan. Dan lebih dari 80 persen Bahasa Indonesia kategori baik dan istimewa adalah harapan.
Kita masih punya harapan. Harapan bahwa anak-anak kita bisa. Harapan bahwa mereka tidak bodoh. Harapan bahwa jika kita mau memperbaiki sistem, mereka akan melesat. Karena itu, jangan biarkan mereka berjalan dalam gelap. Terangi dengan data. Kuatkan dengan empati. Dan menangkan mereka dengan pendidikan yang memanusiakan. Wallahua’lam.

