Di Balik Angka-Angka yang Salah
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi
Dalam sebuah pidato kenegaraan di hadapan Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD RI pada 14 Agustus 2026, Prabowo memperkenalkan Susanah dari Kabupaten Bogor sebagai seorang pekerja pengupas bawang dengan upah sebesar Rp700 ribu per kilogram.
Pernyataan tersebut spontan menjadi viral dan menjadi bahan olok-olok dengan berbagai kreativitas warga. Ada yang membuat lelucon lucu dan cerdas, tetapi ada pula yang menyampaikannya secara sangat sarkastis dan penuh ejekan karena angka tersebut dinilai tidak masuk akal.
Saya pernah menjumpai beberapa pernyataan Prabowo yang terkesan hiperbolik. Misalnya, soal keuntungan setiap panen yang sangat besar dari usaha penggilingan padi. Ia menyebut angka Rp2 triliun per bulan.
Dalam beberapa pidatonya, Prabowo memang kerap menyampaikan angka yang terasa kurang masuk akal. Ada yang berpandangan bahwa keanehan tersebut sengaja dilontarkan Prabowo untuk menarik perhatian publik atau mengalihkan perhatian dari isu tertentu yang, menurut pertimbangannya, perlu dialihkan sebelum benar-benar dapat diselesaikan.
Ternyata, bukan hanya Prabowo yang menyampaikan data yang dipersoalkan atau terkesan kurang masuk akal. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memiliki kecenderungan yang sama.
The Washington Post Fact Checker mencatat 30.573 klaim yang dinilai salah atau menyesatkan (false or misleading claims) selama empat tahun pertama pemerintahan Trump. Jumlah itu rata-rata sekitar 21 klaim per hari.
Bahkan, Trump tetap mengulang klaim-klaim tersebut berkali-kali meskipun klaim itu telah dikoreksi.
Misalnya, Trump berulang kali mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbaik atau terkuat sepanjang sejarah. Klaim ini tercatat diulang sebanyak 493 kali.
Ia juga 296 kali mengatakan bahwa pemotongan pajaknya merupakan yang terbesar dalam sejarah, 258 kali mengatakan bahwa tembok perbatasan sedang dibangun, dan 248 kali menyatakan bahwa tarif telah menghasilkan miliaran dolar bagi Amerika Serikat.
Artikel tersebut ditulis oleh Glenn Kessler dan Joe Fox pada 20 Januari 2021. The Washington Post memberi judul “Bottomless Pinocchios”. Klaim yang tetap diulang berkali-kali seperti ini bisa membuat sebuah klaim yang salah lama-kelamaan terasa seperti sebuah kebenaran.
Fakta di balik klaim-klaim Trump menunjukkan bahwa persoalannya bukan selalu angka yang sepenuhnya dibuat-buat. Bisa jadi ia mengambil fakta yang benar, lalu membesar-besarkan maknanya, menggunakan perbandingan yang tidak tepat, atau mengabaikan konteks.
Yang membuatnya menonjol adalah klaim tersebut terus diulang, bahkan setelah dinyatakan salah atau menyesatkan oleh pemeriksa fakta.
Lain Trump, lain pula Ruto dan Duterte
William Samoei Ruto, Presiden Kenya, memiliki kebiasaan yang kurang lebih sama. Ia sering menggunakan angka ekonomi dan statistik dalam pidatonya untuk menunjukkan keberhasilan pemerintahnya, mulai dari produksi pertanian, jagung, gula, teh, lapangan pekerjaan, perumahan, utang, inflasi, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi.
Africa Check memeriksa angka yang digunakan Ruto dan menemukan sejumlah klaim yang dilebih-lebihkan atau menyesatkan.
Misalnya, produksi gula di Kenya sebenarnya hanya naik sekitar 2,4 persen, tetapi Ruto menyebutnya naik 76 persen. Impor gula yang sebenarnya naik sekitar 5,8 persen justru diklaim turun 70 persen.
Pada pendapatan teh, angka dasar yang lebih rendah digunakan sehingga pertumbuhan tampak lebih besar. Pendapatan teh sebenarnya meningkat sekitar 31,8 persen, tetapi dengan menggunakan angka dasar KSh 138 miliar, pertumbuhannya disebut mencapai 56 persen.
Sejumlah angka yang digunakan Ruto kemudian dinilai keliru atau menyesatkan oleh Africa Check. Meskipun beberapa klaim statistik Ruto dinilai salah atau menyesatkan, ia juga menggunakan data yang benar.
Misalnya, Africa Check menilai klaim Ruto bahwa inflasi turun dari 9,6 persen pada 2022 menjadi 4,6 persen pada Oktober 2025 sebagai benar. Demikian juga dengan data bahwa pemerintahannya telah mempekerjakan 76.000 guru. Africa Check menemukan kedua klaim tersebut benar.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte juga sering menyampaikan klaim yang kemudian dipersoalkan berdasarkan data. VERA Files Fact Check menemukan bahwa dari sekitar 242 pernyataan Duterte yang diperiksa, 156 dinilai sebagai klaim salah, sementara 71 lainnya termasuk flip-flop, yaitu ketika Duterte mengatakan sesuatu, kemudian pada kesempatan lain menyampaikan pernyataan yang berbeda atau bertentangan dengan pernyataan sebelumnya.
Misalnya, Duterte pernah menyebut jumlah pengguna narkoba sekitar 1,6 juta, kemudian 3 juta, bahkan 7–8 juta, sementara survei Dangerous Drugs Board pada 2016 memperkirakan sekitar 1,8 juta pengguna. Ia juga pernah mengatakan sekitar 1.000 polisi dan aparat keamanan tewas dalam perang melawan narkoba. Padahal, data resmi Real Numbers PH hingga Juli 2018 mencatat 87 aparat penegak hukum tewas dalam operasi antinarkoba.
Perbedaan angka yang sangat jauh ini menjadi contoh mencolok tentang ketidaksesuaian antara pernyataan Duterte dan data resmi.
Angka dan Moralitas Pemimpin
Hemat saya, bagi seorang presiden, masalah angka bukan sekadar soal benar atau salah menghitung. Angka mencerminkan kejujuran seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Pemimpin memiliki kuasa dalam membangun citra dan membentuk cara masyarakat memahami keadaan negaranya. Ketika sebuah data direkayasa untuk membesar-besarkan keberhasilan, mengecilkan kegagalan, atau membangun citra diri, publik telah menerima informasi yang keliru, bahkan menyesatkan.
Presiden bisa salah menghitung, salah menyebut angka, atau keliru memahami data. Tetapi, yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan itu diketahui.
Presiden yang berintegritas akan bersedia mengoreksi diri, mengakui kekeliruan, lalu menggunakan data yang lebih akurat.
Sebaliknya, ketika sebuah klaim yang sudah terbukti keliru tetap diulang-ulang, persoalannya berubah dari sekadar kesalahan angka menjadi persoalan kejujuran.
Moralitas seorang pemimpin dapat dilihat dari caranya memperlakukan data dan fakta. Ia tidak harus selalu benar, tetapi harus bersedia mengatakan yang benar. Ia tidak harus selalu berhasil, tetapi tidak boleh menggunakan angka untuk membuat kegagalan tampak sebagai keberhasilan.
Pemimpin yang berjiwa kesatria tidak takut pada data, bahkan ketika data itu tidak menguntungkan dirinya. Rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga pemimpin yang jujur ketika kenyataan berkata sebaliknya.

