Di Era Influencer, Siapa Role Model Kita?

Suara Muhammadiyah

16 September 2026

205
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Di Era Influencer, Siapa Role Model Kita?

Edi Sugianto; Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alumnus S3 MPI UMJ Jakarta

Media sosial telah mengubah cara masyarakat, terutama generasi muda, mengenal, mengagumi, dan memilih tokoh panutan. Di Indonesia, media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial pada Oktober 2025, atau 62,9 persen dari populasi Indonesia.

Influencer kini bukan sekadar pembuat konten. Mereka turut membentuk cara berpikir, gaya hidup, hingga standar kesuksesan pengikutnya. Namun, popularitas tak selalu berbanding lurus dengan keteladanan. Apakah sosok yang paling sering kita lihat di layar juga paling layak menjadi panutan?

Mengapa influencer semakin kuat menjadi role model generasi muda di era media sosial, dan bagaimana memilih figur yang layak diteladani agar popularitas tidak mengalahkan nilai, karakter, dan akhlak?

Role model bukan sekadar sosok yang terkenal, tetapi figur yang layak dicontoh karena karakter, nilai, dan perilakunya. Keteladanan tercermin dalam integritas, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, serta kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Dalam Islam, keteladanan memiliki landasan kuat. Al-Qur’an menyebut Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) dalam QS Al-Ahzab ayat 21. Karena itu, role model tidak semestinya diukur dari popularitas atau kemampuan menarik perhatian, melainkan dari nilai dan akhlaknya. Nabi Muhammad saw. menghadirkan keteladanan yang utuh dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, kepemimpinan, dan hubungan dengan sesama.

Popularitas Ukuran Keteladanan?

Ada perubahan dalam cara menentukan sosok yang dikagumi. Dahulu, seseorang dikenal karena ilmu, perjuangan, karya, atau kontribusinya. Kini, video beberapa detik saja bisa membuat seseorang terkenal. Berkat algoritma media sosial, orang yang semula tak dikenal pun dapat menjelma menjadi figur dengan jutaan pengikut.

Masalahnya bukan pada popularitas. Popularitas justru dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, inspirasi, dan kebaikan. Masalah muncul ketika jumlah followers dianggap sebagai ukuran kualitas dan keteladanan seseorang. Seolah-olah, semakin banyak pengikut, semakin layak pula ia dijadikan panutan.

Popularitas dan keteladanan adalah dua hal berbeda. Popularitas menunjukkan seberapa banyak orang mengenal seseorang, sedangkan keteladanan menunjukkan seberapa banyak nilai baik yang dapat dipelajari darinya.

Influencer memiliki pengaruh besar karena hadir dekat dengan keseharian pengikutnya. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari, membagikan aktivitas dan pengalaman pribadi, sehingga terasa akrab dan dekat.

Kedekatan ini memperkuat pengaruh. Apa yang awalnya sekadar tontonan dapat berubah menjadi preferensi, kebiasaan, bahkan bagian dari identitas.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Siapa influencer yang saya ikuti?”, tetapi “Nilai apa yang sedang saya serap dari orang yang saya ikuti?”

Budaya viral membuat perhatian publik bergerak cepat. Hari ini seseorang menjadi idola, beberapa hari kemudian digantikan figur baru. Ukuran sukses pun bisa bergeser: dari kontribusi menjadi eksposur, karakter menjadi citra, dan prestasi menjadi jumlah likes dan views.

Jika dibiarkan, generasi muda bisa menganggap sukses berarti terlihat sukses, penting berarti terkenal, dan layak menjadi panutan berarti memiliki banyak pengikut. Padahal, perubahan besar tidak selalu lahir dari orang yang viral. Banyak sosok berpengaruh justru bekerja dalam kesunyian, membangun ilmu, karakter, pelayanan, dan peradaban tanpa mengejar sorotan.

Di tengah perubahan standar keteladanan, Islam menawarkan ukuran yang berbeda. Al-Qur’an tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran, tetapi menghadirkan Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah.

Keteladanan Nabi Muhammad saw. lahir dari akhlak dan perjuangan: jujur, amanah, penyayang, adil, sabar, dan bertanggung jawab. Inilah perbedaan antara influencer dan role model: influencer dapat memengaruhi gaya dan perilaku, sedangkan role model sejati mendorong seseorang menjadi lebih baik.

Karena itu, di era ketika siapa pun bisa menjadi influencer, kita perlu bijak memilih panutan. Bukan yang paling viral untuk diikuti, tetapi yang paling baik nilai dan akhlaknya untuk diteladani.

Memilih Role Model

Jika popularitas bukan ukuran role model, maka pilihlah berdasarkan nilai, karakter, dan dampak perilakunya.

Pertama, lihat apa yang ia tanamkan, bukan sekadar apa yang ia tampilkan. Media sosial mudah membuat penampilan, kemewahan, dan gaya hidup menarik perhatian. Padahal, apa yang terlihat di layar hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Karena itu, jangan menjadikan seseorang panutan hanya karena hidupnya tampak menarik.

Penelitian Dinh dan Lee menunjukkan bahwa paparan influencer dapat mendorong social comparison, keinginan meniru, materialisme, dan FOMO, yang kemudian memengaruhi perilaku konsumtif pengikutnya (Dinh & Lee, 2024).

Artinya, mengikuti influencer bukan aktivitas yang netral. Apa yang terus kita lihat dapat memengaruhi cara menilai diri dan memandang kehidupan ideal. Karena itu, tanyakan: apakah konten yang saya konsumsi membuat saya lebih berilmu, berkarakter, dan bermanfaat, atau justru sibuk membandingkan diri dengan orang lain?

Kedua, perhatikan kredibilitas dan keaslian. Kredibilitas dan kepercayaan terhadap influencer berperan penting dalam membentuk respons pengikut (Kim & Park, 2024). Karena itu, role model tidak cukup pandai membangun citra, tetapi juga harus memiliki integritas, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, serta tanggung jawab atas pengaruhnya.

Ketiga, bedakan influencer dengan teladan. Influencer memiliki kemampuan memengaruhi perilaku dan keyakinan, terutama remaja, melalui gaya hidup, opini, dan perilaku yang ditampilkan (APA, 2023). Namun, menjadi berpengaruh tidak otomatis berarti layak diteladani.

Karena itu, kita tidak perlu anti-influencer, tetapi harus kritis. Influencer yang menyebarkan ilmu, kebaikan, kepedulian, kreativitas, dan semangat bekerja tentu patut diapresiasi. Namun, mengagumi prestasi seseorang tidak berarti harus meniru seluruh perilakunya. Ambil ilmunya, bukan selalu menjadikannya standar moral.

Dalam Islam, memilih role model bukan soal popularitas, tetapi nilai dan akhlak. Karena itu, generasi muda perlu menilai panutan dari integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan, bukan sekadar likes, followers, atau viralitas. Bagi seorang Muslim, Rasulullah saw. tetap menjadi uswah hasanah (QS Al-Ahzab [33]: 21). Kita boleh mengikuti influencer, tetapi jangan kehilangan teladan; sebab role model sejati adalah sosok yang mendorong kita menjadi manusia lebih baik.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Refleksi Madrasah Ramadhan Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam-Universitas ....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Wawasan

Bukber: Antara Silaturahmi dan Simbolisme Sosial Soleh Amini Yahman. Psikolog, Dosen UMS, Redaktur ....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

IMM: Membaca, Bukan Hanya Bicara Oleh: Fathan Faris Saputro (Penulis buku Luwesitas IMM) Di era di....

Suara Muhammadiyah

23 April 2024

Wawasan

Memoar Muhammadiyah Menyemai Tunas Gerakan Pramuka Penulis: Wahid Ilham Isnanto, Bidang Keseha....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Wawasan

Milad IMM 61: Menghidupkan Ruh Cendekiawan Berpribadi  Oleh: Adrian al-fatih, Ketua Umum DPD I....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah