Dien Malik: Kolaborasi Berkelanjutan Kunci Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua di Kayong Utara dan Ketapang
KETAPANG, Suara Muhammadiyah – Upaya mewujudkan pendidikan bermutu dan inklusif bagi seluruh anak terus menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam pemaparan materi bertajuk “Kolaborasi Berkelanjutan untuk Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Dien Nurmarina Malik Fadjar selaku Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah dan Aisyiyah menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi berbagai persoalan pendidikan di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang, Kalimantan Barat.
Dalam paparannya, Dien menyampaikan bahwa pendidikan tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem yang kuat. Berbagai persoalan seperti tingginya angka putus sekolah, perkawinan anak, stunting, hingga keterbatasan layanan bagi anak berkebutuhan khusus masih menjadi tantangan nyata di lapangan.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi dengan angka perkawinan anak tertinggi di Indonesia. Kabupaten Ketapang tercatat memiliki sekitar 2.000 kasus perkawinan anak yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan anak perempuan.
Selain itu, persoalan stunting juga masih menjadi perhatian serius. Di Kabupaten Kayong Utara, angka stunting mencapai 24,5 persen atau sekitar satu dari empat anak mengalami gangguan pertumbuhan. Sementara di Kabupaten Ketapang, angka stunting berada di angka 17,9 persen, meskipun mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Tidak hanya itu, layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus juga dinilai masih memerlukan perhatian lebih. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa masih terdapat keterbatasan guru terlatih, kurikulum adaptif, dan pendataan anak berkebutuhan khusus yang belum sistematis. Kondisi tersebut menyebabkan banyak anak belum memperoleh hak pendidikan secara optimal.
Dien menekankan bahwa kolaborasi sejati bukan sekadar rapat koordinasi atau penandatanganan dokumen kerja sama. Menurutnya, kolaborasi harus diwujudkan melalui berbagi risiko, sumber daya, dan tanggung jawab bersama demi mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik.
Dalam konsep kolaborasi pentahelix yang dipaparkan, terdapat lima unsur penting yang harus terlibat, yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat, industri, dan media dengan anak serta keluarga sebagai pusat perhatian utama.
Berbagai bentuk kolaborasi konkret juga ditawarkan, di antaranya pembentukan forum pendidikan inklusi daerah, penguatan anggaran afirmatif, pelatihan guru, program sekolah bergerak untuk daerah pesisir dan pedalaman, hingga penguatan budaya “anak sekolah, bukan dinikahkan”.
Selain membahas tantangan, materi tersebut juga menghadirkan inspirasi melalui kisah Temple Grandin, seorang penyandang autisme yang berhasil menjadi profesor dan tokoh dunia karena mendapatkan dukungan lingkungan yang inklusif sejak kecil. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi besar apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang tepat.
Pada akhir pemaparan, Dien Malik mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun pendidikan yang inklusif dan bermutu bagi semua anak tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa inklusi bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan hak setiap anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.

