Domba Lemu Farm, Peternakan yang Digerakkan Semangat Komunal
PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Perjalanan kali ini bukan sekedar jalan-jalan biasa. Dengan menggunakan kaos bertuliskan Wedus Kabeh disertai gambar, ada pesan yang hendak disampaikan. Tentang sesuatu yang tak banyak kita sadari telah menopang kehidupan umat manusia sejak awal. Sebuah ekosistem pangan dari hulu sampai ke hilir. Rantai pasok yang tak pernah putus. Mulai dari pelaku usaha skala mikro kecil hingga menengah, pasar tempat bergantung banyak orang. Hingga melihat langsung potensi pangan kita dari berbagai sektor penopangnya, salah satunya adalah sektor peternakan kambing/domba yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah.
Berangkat pada Jum’at pagi, start dari Yogyakarta dengan tujuan Kabupaten Purbalingga (9/10). Pasukan kecil yang dikomandoi Ketua Lembaga Pengembangan (LP) UMKM Jawa Tengah, Khafid Sirotudin melakukan kunjungan ke Domba Lemu Farm, pusat peternakan domba yang berfokus pada pembibitan, penggemukan, dan penjualan domba berkualitas untuk kebutuhan kurban, aqiqah, maupun peternakan.
Sebagai salah satu UMKM binaan LP UMKM Jawa Tengah, Domba Lemu Farm menjadi pilot project dalam hal pengembangan bisnis berbasis komunal. Menekankan kebersamaan dalam setiap proses pengelolaan, khususnya dalam penyediaan pakan ternak melalui skema pembagian keuntungan.
Mas Fajar, CEO Domba Lemu Farm menjelaskan ada dua jenis domba yang dipelihara oleh Domba Lemu Farm, Merino dan Texel. Kedua jenis domba ini kemudian dikawinkan silang dengan tujuan mendapatkan hasil perenakan domba yang memiliki genetik pertumbuhan yang cepat dan memiliki daging yang melimpah. Hal ini menurutnya sangat menguntungkan para peternak karena dapat mengurangi cost operasional produksi.
“Kita disini sistemnya kerja sama. Jadi keuntungannya 50 persen untuk peternak, sisanya digunakan untuk biaya operasinal kandang,” ujarnya kepada Suara Muhammadiyah.
Melalui sistem ini, win-win solution antara pemilik ternak dengan pengelola kandang dapat diwujudkan. Peternak mendapatkan hasil keuntungan, dan si pencari pakan juga mendapatkan porsinya sesuai dengan kesepakatan.
“Disini semua mendapatkan hasil. Semua berjalan normal. Tidak ada yang merasa dirugikan, dompet kita juga aman dan nyaman,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa domba Merino yang ia pelihara mampu mencapai bobot hingga 100 kg. Kelebihan dari sisi berat inilah yang dimaksimalkan untuk mendapatkan peranakan domba yang berkualitas. Melalui perkawinan silang dengan domba lokal, banyak sisi positif untuk melipatgandakan keuntungan ekonomi. Selain itu, domba jenis ini memiliki selera makan yang cukup fleksibel. Bisa mengkonsumsi berbagai jenis makanan di luar rumput atau ramban.
Berlokasi di Desa Pengadegan, RT 04/RW 04, Kecamatan Pengadegan, Fajar menegaskan bahwa Domba Lemu Farm terbuka untuk menjalin sinergi serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Ia pun mengaku bahwa pengembangan dalam aspek bisnis ini akan terus dilakukan menyesuaikan dengan potensi yang ada.
Masih dari aspek bisnis, ada tantangan yang harus segera direspon oleh para pertenak, yaitu aspek market yang telah berubah menyesuaikan zaman. Sebelumnya, market berjalan dengan sistem manual. Untuk menjual ternaknya, para peternak pergi ke pasar tradisional. Menurutnya, cara itu sekarang tak lagi relevan. Jika terus mempertahankan cara lama, cost yang keluar bisa cukup besar, hingga mengikis laba dan biaya operasional. Ia pun mendapat solusi untuk mengatasi celah kekurangan tersebut, dengan cara beralih ke sistem pemasaran berbasis digital.
“Rata-rata market sekarang masih menggunakan sistem penjualan konvensional. Peternak pergi ke pasar. Jika ternak tidak laku, peternak harus membawanya pulang untuk dibesarkan lagi. Ini tentu mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Makanya sekarang kita sedang mencoba sistem online. Membangun marketing secara digital, mulai dari aqiqoh, kurban, dijual untuk tukang sate, dan lain sebagainya,” jelasnya. Melalui sistem digital tersebut, ia berharap dapat menjangkau lebih banyak orang di berbagai daerah.
Menggandeng LP UMKM Jawa Tengah, Domba Lemu Farm berkomitmen memperluas aspek kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Memberdayakan mereka yang belum memiliki pekerjaan untuk bergabung ke dalam sistem manejemen peternakan terpadu.
“Ngarit itu bukan pekerjaan yang hina. Ngarit itu pekerjaan yang mulia,” tegasnya.
Fajar menjelaskan, dengan sistem manejemen yang baik, berprofesi sebagai tukang ngarit tidak akan membuat miskin. Justru sebaliknya, dan tidak menutup kemungkinan menjadikan orang yang bersangkutan memperoleh kesejahteraan dalam aspek ekonomi.
“Bisa kaya lho jadi tukang ngarit,” ujarnya.
Meski bisnis yang dijalankan berbasis jamaah, Domba Lemu Farm menerapkan sistem seleksi yang ketat. Bagi siapa saja yang ingin berinvestasi, mereka diharuskan turun langsung ke lapangan. Intinya, Domba Lemu Farm hanya terbuka untuk mereka yang mau bekerja sama dalam menyediakan pakan alias ngarit.
Melalui semangat tersebut, Domba Lemu Farm bukan hanya sekadar tempat untuk berinvestasi dan berbisni melalui ternak domba. Tapi juga wadah untuk menggerakan rasa kebersamaan dan rasa memiliki untuk kebermanfaatan yang lebih luas. Tanpa kebersamaan, akan sangat sulit rasanya menghadapi tantangan dan hambatan bisnis sendirian. (diko)