Dosen Muhammadiyah, Bukan Sekadar Dosen di Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

17 July 2026

196
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Dosen Muhammadiyah, Bukan Sekadar Dosen di Muhammadiyah

Penulis: Dr. Hasbullah, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Sekertaris Asosiasi Lembaga Al Islam Kemuhammadiyah

Menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah bukanlah sekadar profesi. Ia adalah amanah dakwah, amanah intelektual, sekaligus amanah ideologis. Oleh karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara dosen di Muhammadiyah dan Dosen Muhammadiyah. Dosen di Muhammadiyah adalah mereka yang bekerja di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), menjalankan tugas akademik sebagaimana layaknya seorang dosen, mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Namun, aktivitasnya sering kali berhenti pada hubungan profesional sebagai karyawan.

Sebaliknya, Dosen Muhammadiyah adalah mereka yang tidak hanya bekerja di institusi Muhammadiyah, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai identitas, orientasi hidup, dan komitmen perjuangan. Baginya, kampus bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan medan dakwah dan pengabdian kepada umat. Persoalan yang patut menjadi bahan muhasabah bersama adalah masih adanya sebagian dosen yang menikmati fasilitas, karier, dan kehormatan dari Amal Usaha Muhammadiyah, tetapi kurang menunjukkan loyalitas terhadap Persyarikatan. Mereka enggan terlibat dalam kegiatan organisasi, tidak hadir dalam forum-forum pembinaan ideologi, bahkan tidak mengenal arah perjuangan Muhammadiyah secara memadai.

Fenomena ini menjadi ironi. Muhammadiyah telah menyediakan ruang pengabdian, kesempatan pengembangan karier, bahkan membangun ekosistem akademik yang memungkinkan dosen berkembang. Namun, sebagian justru memandang Muhammadiyah hanya sebagai tempat bekerja, bukan rumah perjuangan. Karena itu, menjadi dosen di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) tidak dapat dipahami hanya sebagai hubungan kerja profesional antara institusi dan pegawai. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari panggilan dakwah, pengabdian, dan kaderisasi Persyarikatan. Di sinilah terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara dosen di Muhammadiyah dan Dosen Muhammadiyah.

Menfasir loyalitas dosen

Loyalitas kepada Muhammadiyah bukan hanya diukur dari seberapa lama seseorang bekerja di kampus Muhammadiyah. Loyalitas tercermin dalam keberpihakan terhadap cita-cita Persyarikatan, kesediaan berkhidmat di organisasi, menghadiri pengajian, mengikuti Baitul Arqam, mendukung program Persyarikatan, hingga membangun budaya akademik yang bernafaskan Islam Berkemajuan. Loyalitas kepada persyarikatan Muhammadiyah bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan atau menganggap seluruh amal usaha telah sempurna. Loyalitas justru berarti memiliki rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa bertanggung jawab (sense of responsibility) untuk memperbaiki dan memajukan Persyarikatan.

Hal lain yang sering menjadi perhatian adalah pilihan pendidikan bagi keluarga. Tidak sedikit dosen yang mengajar di Muhammadiyah, tetapi justru menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan lain tanpa alasan yang benar-benar mendesak. Tentu setiap orang tua memiliki hak memilih pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Namun, ketika seseorang sendiri kurang memberikan kepercayaan kepada sekolah Muhammadiyah, muncul pertanyaan yang wajar: bagaimana mungkin masyarakat akan percaya jika insan Muhammadiyah sendiri belum sepenuhnya menunjukkan keyakinannya?

Kepercayaan adalah bentuk promosi yang paling kuat. Ketika dosen mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah Muhammadiyah, sesungguhnya ia sedang memberikan teladan bahwa lembaga yang dibangun Persyarikatan layak dipercaya dan terus dikembangkan. Kepercayaan sekolah Muhammadiyah juga sebagai bentuk tanggung jawab moral dosen kepada persyarikatan. Sebab dari situlah setiap dosen akan mengetahui kekurangan dan kelebihan dari Amal usaha Muhammadiyah.

Demikian pula dalam kehidupan organisasi. Muhammadiyah bukan sekadar institusi pendidikan. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, sekaligus gerakan tajdid. Kampus hanyalah salah satu instrumen perjuangannya. Karena itu, dosen Muhammadiyah semestinya menjadi bagian dari denyut kehidupan Persyarikatan, baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, maupun pusat sesuai kapasitas masing-masing.

Sebagai kelompok intelektual, dosen memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan anggota biasa. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga agen kaderisasi, penjaga ideologi, pengembang pemikiran Islam Berkemajuan, dan teladan bagi mahasiswa. Mahasiswa akan belajar bukan hanya dari apa yang disampaikan di ruang kuliah, tetapi juga dari sikap hidup dosennya.

Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, ditegaskan bahwa Muhammadiyah didirikan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai pengejawantahan ajaran Islam dalam kehidupan. Artinya, seluruh amal usaha bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana perjuangan.

Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak dibangun hanya untuk menghasilkan lulusan atau mengejar akreditasi. Kampus Muhammadiyah adalah pusat dakwah, pusat kaderisasi, pusat tajdid, dan pusat lahirnya intelektual muslim yang memiliki komitmen terhadap risalah Islam Berkemajuan. Karena itu, dosen PTM pada hakikatnya bukan hanya tenaga akademik, tetapi juga kader Persyarikatan yang memikul amanah dakwah intelektual.

Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan bukan untuk membangun lembaga yang hanya menghasilkan pegawai. Muhammadiyah hadir untuk melahirkan kader-kader yang berilmu, berakhlak, beramal, dan siap menggerakkan perubahan sosial. Oleh sebab itu, setiap dosen di lingkungan Muhammadiyah seyogianya terus bertumbuh menjadi kader Persyarikatan yang aktif, bukan sekadar tenaga profesional.

Sudah saatnya kita membangun kembali kesadaran bahwa bekerja di Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah dan dakwah. Profesionalisme akademik harus berjalan seiring dengan komitmen ideologis. Kompetensi ilmiah harus dipadukan dengan militansi dakwah. Prestasi akademik harus memperkuat kemajuan Persyarikatan.

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) ditegaskan bahwa setiap warga Muhammadiyah berkewajiban menjadikan Muhammadiyah sebagai media beribadah kepada Allah melalui amal saleh dan perjuangan kolektif. Artinya, kritik boleh disampaikan, tetapi dilakukan dengan semangat islah (perbaikan), bukan dengan sikap apatis atau menjauh dari perjuangan.

Sehingga bagi dosen Muhammadiyah, mengajar adalah ibadah, meneliti adalah dakwah, mengabdi adalah amal saleh, dan berpersyarikatan adalah bagian dari ikhtiar mewujudkan cita-cita Muhammadiyah: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Cita-cita besar ini tidak akan terwujud hanya dengan gedung kampus yang megah, laboratorium modern, atau peringkat akademik yang tinggi. Muhammadiyah membutuhkan manusia-manusia yang memiliki; komitmen ideologi, integritas moral, semangat dakwah, jiwa kader, serta kesediaan mengabdikan ilmu untuk kemajuan umat. Dosen adalah kelompok strategis yang seharusnya berada di garda depan perjuangan tersebut.

Menjadi Dosen Muhammadiyah berarti menghadirkan integrasi antara ilmu, iman, dan gerakan. Ia mengajar dengan ilmu, mendidik dengan keteladanan, berorganisasi dengan keikhlasan, serta mengabdi dengan semangat memajukan umat dan bangsa. Akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan kepada diri kita masing-masing bukanlah, "Sudah berapa lama saya bekerja di Muhammadiyah?" Melainkan, "Sudah sejauh mana saya berjuang bersama Muhammadiyah?"

Karena sesungguhnya, Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan dosen yang mengajar di kampusnya. Muhammadiyah membutuhkan Dosen Muhammadiyah, dosen yang menjadikan Persyarikatan sebagai rumah perjuangan, tempat mengabdi, dan jalan untuk meraih ridha Allah Swt.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Penulis Buku Cendekiawan Melintas Batas, 70 Tahun Perjalanan Syafiq. A. Mug....

Suara Muhammadiyah

18 September 2024

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  “Muhammadiyah” bukan sekadar nama orga....

Suara Muhammadiyah

4 July 2025

Wawasan

Hijrah Berkemajuan: Meneguhkan Misi Dakwah Muhammadiyah di Abad Kedua Oleh: Mohammad Nur Rianto Al ....

Suara Muhammadiyah

16 June 2026

Wawasan

Manusia Komunis Oleh: Saidun Derani, Dosen Pascasarjana UM-Sby, UM-Tangerang, dan UIN Syahid Jakart....

Suara Muhammadiyah

20 September 2024

Wawasan

Bahasa Indonesia di Era Digital: Antara Kreativitas dan Kelestarian Oleh: Dzar Al Banna, M.A., Koor....

Suara Muhammadiyah

10 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah