Fastabiqul Khairat Dimulai dari Meja Makan yang Berdebu
Refleksi atas Amanat Haedar Nashir: Saatnya Ranting Bangkit atau Mati Rasa
Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Duren Sawit II, Jakarta Timur
Kita sering menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan berkemajuan.
Kita hafal slogan fastabiqul khairat.
Kita bangga dengan ribuan sekolah, rumah sakit, dan perguruan tinggi yang berdiri dari Sabang sampai Merauke.
Tapi mari jujur sejenak. Kapan terakhir kali semangat itu menyentuh meja makan di rumah kita sendiri? Kapan terakhir kali rapat ranting selesai dengan satu keputusan kecil yang membuat satu keluarga berubah arah?
Di Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Haedar Nashir tidak sedang memberi kuliah teori. Ia sedang menampar kita dengan lembut. Ia bicara tentang “modernitas tengahan” di tengah dunia yang bingung antara liberalisme liar dan puritanisme kaku. Ia bicara tentang “etos kemajuan” di tengah peradaban yang makin pintar membuat aplikasi, tapi makin bodoh mengelola konflik dan kemanusiaan.
Pesan itu menusuk karena benar. Kita hebat di panggung, tapi sering mati rasa di akar. Kita fasih berpidato tentang peradaban, tapi gagap menjawab persoalan tetangga sebelah.
Kemegahan Tanpa Akar Akan Roboh
Coba lihat sekeliling. Berapa banyak PCM dan PRM yang rapatnya lebih ramai membahas dana amal usaha, tapi sepi saat membahas apakah warga di RT sebelah masih bisa makan hari ini? Berapa banyak pengajian yang fasih membahas fikih kontemporer, tapi gagap saat anak muda bertanya tentang AI, stunting, atau krisis Palestina?
Haedar mengutip Ibnu Khaldun. Masyarakat bergerak dari primitif menuju berkeadaban. Sunatullah. Tapi hukum alam itu tidak bekerja otomatis. Ia butuh manusia yang mau mendorongnya. Dan dorongan itu tidak dimulai dari gedung megah. Ia dimulai dari ruang tamu yang sederhana, dari ranting yang sering kita anggap “terlalu kecil”.
Sejarah sudah membuktikan itu. K.H. Ahmad Dahlan tidak membuka universitas di hari pertama. Beliau memulai dari langgar Kauman, mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an sambil membetulkan cara mereka berpikir. Siti Walidah tidak menunggu izin, ia menggerakkan ibu-ibu untuk belajar, berorganisasi, dan peduli pada anak yatim. Dari meja kayu sederhana itulah lahir gerakan yang mengubah wajah pendidikan dan dakwah di Nusantara.
Jika ranting mati, cabang hanya jadi papan nama. Jika keluarga Muhammadiyah kehilangan arah, maka PTMA dan RS Muhammadiyah terbaik pun hanya akan melahirkan sarjana dan dokter yang cerdas secara teknis, tapi kosong secara peradaban.
Maka Inilah yang Paling Urgen: Kembalikan Nyawa ke Ranting
Bukan dengan program bombastis. Tapi dengan tiga langkah yang mungkin terasa kecil, namun justru di sanalah letak revolusinya.
Pertama, hidupkan kembali Sekolah Keluarga.
Satu jam setiap bulan. Tidak perlu ustadz bintang tamu. Cukup buka Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), baca satu bab, lalu tanya: “Apa satu hal yang bisa kita ubah di rumah minggu ini?”
Bahas cara mendidik anak agar tidak kecanduan layar. Bahas cara mengatur uang agar tidak terjebak riba. Bahas cara berbicara di keluarga agar tidak kasar.
Peradaban yang unggul tidak lahir dari webinar. Ia lahir dari percakapan jujur di ruang keluarga. Dari sinilah lahir generasi yang bukan hanya hafal dalil, tapi juga cakap menghadapi zaman.
Kedua, paksa diri menjadi produktif, bukan hanya konsumtif.
Setiap anggota ranting, pilih satu. Satu buku yang ditamatkan tahun ini. Satu keterampilan yang dipelajari. Menjahit, mengedit video, menanam cabai, atau membuat konten dakwah satu menit.
Lalu tunjukkan hasilnya di forum ranting. Bukan untuk pamer, tapi untuk saling mengangkat.
Kita terlalu lama membiarkan warga Muhammadiyah jadi penonton. Saatnya mereka jadi pelaku. Sebab berkemajuan artinya tidak lagi menunggu bantuan, tapi menciptakan peluang.
Ketiga, bertanyalah dengan berani: “Siapa yang kita lupa?”
Setiap tiga bulan, duduk bersama. Buka data. Bukan data keuangan saja, tapi data kemanusiaan.
Apakah masih ada anak di kampung kita yang putus sekolah? Apakah ada ibu janda yang tiga bulan tidak disapa? Apakah TPA kita hidup atau hanya papan nama?
Muhammadiyah tidak boleh menjadi organisasi yang pandai mencatat angka, tapi gagap menyentuh air mata. Audit sosial mini ini adalah bentuk konkret dakwah kemanusiaan yang Haedar serukan.
Ini Bukan Pilihan, Ini Pertaruhan
Haedar menyebut kondisi perang dan konflik hari ini sebagai “lorong buntu kemodernan”. Kita tidak bisa mengakhiri perang di Gaza dari ranting Sleman. Tapi kita bisa memastikan bahwa dari ranting Sleman tidak lahir generasi yang apatis, intoleran, dan tidak peduli.
Modernitas tengahan bukan slogan. Ia adalah cara hidup. Ia adalah ketika seorang ibu Muhammadiyah bisa menjelaskan Al-Ma’un sambil mengajarkan anaknya membuat PPT. Ia adalah ketika seorang bapak PRM pulang kerja lalu membantu tetangga memperbaiki atap bocor, bukan hanya menunggu giliran dapat bantuan.
Kita sering menunggu instruksi pusat. Menunggu dana cair. Menunggu waktu yang tepat.
Padahal Ahmad Dahlan tidak menunggu. Siti Walidah tidak menunggu. Mereka memulai dari yang ada, dengan yang ada, untuk yang membutuhkan.
Penutup: Pilihannya Hanya Dua
PCM dan PRM hari ini berdiri di persimpangan.
Pilihan pertama, tetap menjadi birokrasi amal usaha. Rapat, foto, laporan, selesai. Aman, tapi hampa.
Pilihan kedua, kembali menjadi gerakan. Gerakan yang menghidupkan keluarga, mengasah keterampilan, dan menyentuh luka sosial di sekitarnya. Berat, tapi hidup.
Jika pilihan kedua yang kita ambil, maka tiga tahun dari sekarang kita tidak perlu lagi membuat pidato panjang tentang peran Muhammadiyah untuk peradaban.
Karena peradaban itu akan terlihat dengan sendirinya. Pada anak-anak yang lebih berani bertanya. Pada keluarga yang lebih mandiri. Pada kampung yang lebih peduli.
Jadi pertanyaannya bukan apakah kita mampu.
Pertanyaannya adalah, apakah kita masih mau merasa tidak nyaman demi umat yang lebih baik?
Meja makan di ranting-ranting kita sudah terlalu lama berdebu.
Saatnya dilap. Dan di atasnya, ditulis ulang kisah berkemajuan itu dengan tinta amal nyata, bukan sekadar kata.
Mau kita mulai dari ranting Anda bulan depan?

