Festival FAI UMP Lahirkan Generasi Unggul

Suara Muhammadiyah

6 July 2026

84
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah – Suasana kampus Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terlihat lebih semarak dari biasanya pada akhir pekan pertama bulan Juli 2026. Gelaran Festival Mahasiswa FAI yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 5 Juli 2026 sukses menjadi magnet bagi ratusan mahasiswa untuk bertanding, berkompetisi, dan merayakan kebersamaan. Mengusung tema besar "Bertanding, Berpikir, Bertumbuh", festival ini dirancang tidak sekadar sebagai ajang adu kemampuan fisik dan strategi, tetapi juga sebagai ruang refleksi intelektual bagi seluruh sivitas akademika FAI.

Ketua Panitia, Tsabit Nur Shofwa, dalam sambutannya di tengah hiruk-pikuk pertandingan, menyampaikan bahwa festival ini memiliki dua misi utama yang saling berkaitan. "Pertama, festival ini adalah ajang silaturahmi yang kami rindukan, sebuah wadah untuk merekatkan kembali tali persaudaraan antar mahasiswa FAI yang selama ini terasa jarang berkumpul dalam satu kegiatan bersama. Kedua, ini adalah langkah strategis untuk mengasah dan mempersiapkan kemampuan atlet-atlet terbaik kita menghadapi ajang bergengsi, Porseni VII FKPTKIS Jawa Tengah Internasional 2026," ujarnya dengan penuh semangat. Ia menambahkan bahwa harapan besar disematkan pada momen ini, agar mahasiswa FAI tidak hanya dikenal unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu berprestasi dan bersaing di kancah non-akademik, membawa nama baik fakultas dan universitas.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, panitia menyusun serangkaian perlombaan yang variatif, mulai dari cabang olahraga klasik hingga kompetisi berbasis strategi modern. Di bidang olahraga, gelaran dimulai dengan pertandingan futsal yang memanas sejak babak penyisihan, di mana setiap tim menunjukkan determinasi tinggi untuk meraih kemenangan. Sementara itu, di sektor bulu tangkis, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, terbagi dalam tiga kategori: tunggal putra, ganda putra, dan ganda putri.

Ribuan suporter yang memadati area sekitar lapangan turut menyemarakkan jalannya setiap pertandingan, menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan penuh kegembiraan. Selain itu, panitia secara cerdik memasukkan lomba Mobile Legends sebagai salah satu cabang yang diperlombakan. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya untuk menjaring partisipasi dari mahasiswa yang mungkin kurang tertarik pada olahraga fisik, sekaligus menjadi medium yang efektif untuk membangun kebersamaan dan strategi tim antarangkatan dan antarkelas yang selama ini jarang terwadahi.

Memasuki babak puncak dan final, persaingan di setiap cabang berlangsung sangat sengit dan menegangkan, menghasilkan para juara yang berhak menyandang gelar terbaik. Di cabang bulu tangkis ganda putra, gelar juara pertama berhasil diraih oleh pasangan Yafi Angga Mulyana dan Muhammad Fikri Ilham yang tampil solid dan tak terbendung, mengalahkan pasangan Ijal dan Alfin yang harus puas di posisi runner-up dengan permainan yang tak kalah apiknya. Sementara di kategori ganda putri, kemenangan diraih oleh pasangan Salsabila Ramadhani dan Farah Naila Maharani yang berhasil menunjukkan kerja sama tim yang kompak, disusul oleh Hidayatul Amalia dan Novalita Atiqa sebagai juara kedua. Pada nomor tunggal putra yang menyedot perhatian banyak penonton, Muhammad Fikri Ilham kembali menunjukkan kelasnya sebagai atlet serba bisa dengan keluar sebagai juara, mengungguli Rendy Ilhamsyah yang tampil perkasa di posisi kedua.

Perhelatan di cabang olahraga futsal juga tak kalah seru, di mana tim yang akrab disapa Team Indomie berhasil keluar sebagai juara setelah melewati serangkaian pertandingan ketat dan meraih kemenangan di babak final atas Semhas Team yang harus mengakui keunggulan strategi dan kerja sama tim lawan. Tidak hanya di arena olahraga, lomba Mobile Legends yang digelar di ruang Kelas juga menyajikan drama persaingan yang tak kalah menarik. Tim Amba D Tukam berhasil menunjukkan strategi jitu dan kekompakan yang solid, sehingga berhak naik ke podium tertinggi, mengalahkan tim Pemburu Ayam yang harus puas di posisi kedua dengan permainan yang tetap patut diacungi jempol.

Presiden BEM FAI UMP, Aisyah Muhana Muthi, yang turut hadir memantau jalannya acara dari awal hingga akhir, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam atas terselenggaranya festival ini dengan lancar. "Alhamdulillahirabbil 'alamin, Festival FAI tahun ini telah terlaksana dengan sukses dan lancar. Ini semua berkat kerja sama, semangat yang luar biasa, dan dedikasi tinggi dari seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia, peserta, suporter, hingga semua elemen yang telah berkontribusi," ungkapnya dengan penuh haru.

Ia berharap, Festival FAI tidak hanya berhenti sebagai ajang kompetisi tahunan, tetapi dapat terus berevolusi menjadi wadah yang lebih besar untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi, mempererat ukhuwah Islamiyah di antara mahasiswa, serta menanamkan nilai-nilai sportivitas yang luhur di lingkungan Fakultas Agama Islam. "Karena pada hakikatnya, prestasi sejati lahir dari proses panjang, kerja keras yang tak kenal lelah, dan kebersamaan yang kokoh. Semoga semangat Festival FAI ini terus hidup dan menginspirasi setiap generasi mahasiswa FAI ke depannya," pungkasnya.

Rangkaian acara festival yang telah berlangsung tiga hari itu kemudian ditutup dengan sebuah kegiatan yang sarat makna dan intelektualitas, yaitu bedah buku. Menggandeng pegiat literasi dari Labak Baca UMP, Father Jibran, sebagai pemantik diskusi, acara ini mengangkat buku monumental karya Paulo Freire yang berjudul "Pendidikan Kaum Tertindas" dengan tema diskusi "Membangun Kesadaran Kritis Melalui Pendidikan yang Membebaskan".

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut, Father Jibran mengupas tuntas konsep pendidikan bank (banking education) yang dikritik oleh Freire, di mana praktik pendidikan seringkali hanya menjadikan guru sebagai "penabung" ilmu dan murid sebagai "tabungan" pasif yang hanya menerima tanpa daya kritis.

Diskusi ini mengajak seluruh peserta untuk merenungkan kembali esensi pendidikan yang sesungguhnya, yaitu sebuah proses pembebasan yang menumbuhkan kesadaran kritis dan keberanian untuk berpikir.  (Ilyas Fachriansyah)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berdasarkan survey dari Indikator Politik Indonesia, menyebutkan, ha....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam Kemuhammadiyahan (L....

Suara Muhammadiyah

14 March 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah DKI Jakarta menggelar ....

Suara Muhammadiyah

22 September 2025

Berita

Mengangkat Produk Buatan Sendiri “EL CHICKEN” PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah – Pi....

Suara Muhammadiyah

16 October 2025

Berita

SAMARINDA, Suara Muhammadiyah - Takmir Masjid Al Ihsan  di jalan Dahlia Samarinda menerima....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah