Fikih Pariwisata: Ketika Perjalanan Tidak Sekadar Jalan-Jalan

Suara Muhammadiyah

22 October 2026

59
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Fikih Pariwisata: Ketika Perjalanan Tidak Sekadar Jalan-Jalan

Oleh: Shubhi Mahmashony Harimurti, Dosen Universitas Islam Indonesia/anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta

Pariwisata menjadi hal yang lumrah di era sekarang. Hal ini dikarenakan cakupan pariwisata yang luas meliputi perjalanan, destinasi, dan perhotelan (Harimurti, 2012). Isu kesehatan mental yang mendorong masyarakat untuk jalan-jalan juga membuat pariwisata semakin digandrungi. Selain itu, maraknya media sosial juga menjadi sarana promosi yang cukup ampuh untuk menarik masyarakat agar berpartisipasi dalam menggairahkan industri pariwisata. Terbukti, biro perjalanan wisata semakin berkembang pesat. Oleh karena itu, diperlukan panduan untuk memahami Islam dalam sektor pariwisata dan lebih spesifik lagi di ranah perjalanan wisata     

Industri perjalanan wisata merupakan kunci dalam menyukseskan aktivitas jalan-jalan. Akses menuju objek wisata sangat ditentukan oleh kesiapan dan pelayanan sektor perjalanan wisata. Islam memang tidak secara eksplisit mengatur perjalanan wisata. Namun, setidaknya ada ayat dalam Al-Qur’an yang dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam selama perjalanan wisata. Dalam Surah al-Quraisy Allah menyatakan,

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ 

Sungguh menjadi kebiasaan orang Quraisy. Mereka bepergian di musim dingin dan musim panas. Maka hendaknya kamu sekalian beribadah kepada Tuhan rumah ini. Yang memberi makan mereka dari kelaparan dan ketakutan.

Empat ayat di atas memang tidak merujuk langsung pada industri perjalanan wisata. Tidak perlu skeptis bahwa orang Quraisy pasti berbuat hal buruk dan tidak perlu dicontoh. Tidak semua aspek tentang kaum Quraisy mengandung keburukan. Ada sisi positif juga yang patut diambil pelajarannya (Karim, 2012). Namun, setidaknya dapat dijadikan acuan bagi para pemangku kepentingan yang bergerak di bidang yang lebih familiar dengan istilah traveling tersebut. 

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Quraisy, ‘Aidh al-Qarniy dalam karyanya yang bertajuk at-Tafsiir al-Muyassar (2010) malah menyebutnya sebagai hal yang tidak mengagetkan lagi. Itu artinya kaum Quraisy sudah terbiasa melakukan hal tersebut, yaitu bepergian. Di musim dingin, mereka menempuh perjalanan ke Yaman. Ketika musim panas tiba, masyarakat Quraisy melakukan safar ke Syam. Yaman dipilih pada musim dingin karena, secara umum, cuaca di wilayah yang kini beribu kota di Sana’a ini panas. Jadi, mereka membutuhkan kehangatan saat pergi ke Yaman. Sebaliknya, saat musim panas, suku Quraisy melakukan perjalanan ke Syam, yang pada hakikatnya merupakan wilayah yang kini meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, serta cenderung lebih sejuk. Maka, manusiawi apabila mereka mencari kesejukan. Terlepas, agenda utamanya adalah berdagang.     

Berkaca dari penafsiran al-Qarniy terhadap ayat pertama dan kedua Surah al-Quraisy, sudah sepatutnya penyedia jasa perjalanan wisata memberikan layanan terbaik bagi pelanggan maupun wisatawan, khususnya dalam mengakomodasi kondisi suhu udara. Dapat diaplikasikan mulai dari penyesuaian temperatur udara di kendaraan, penyediaan minuman hangat atau dingin sesuai cuaca, pemberian selimut untuk menghangatkan badan seperti yang biasa dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia meskipun berbayar, hingga promosi lokasi wisata yang selaras dengan kondisi iklim.

Bagi wisatawan, sebaiknya juga tetap mengusahakan agar tubuhnya senantiasa bugar selama perjalanan. Tidak ada salahnya membawa jaket untuk menghangatkan tubuh, maupun tidak mengenakan pakaian yang terlalu tebal saat cuaca panas. Tidak hanya ketebalan, tetapi juga warna pakaian. Sebaiknya, saat cuaca panas, pilih baju berwarna putih atau warna cerah. Sebaliknya, saat cuaca dingin, pakaian hitam atau gelap merupakan pilihan terbaik. Ini terkait kemampuan menyerap panas antara warna terang dan gelap yang berbeda. Pastinya tidak nyaman saat berada di dalam kendaraan, apalagi saat mengenakan pakaian yang membuat gerah. Kenyamanan dalam perjalanan adalah syarat mutlak untuk memastikan bahwa berwisata tidak justru membuat tubuh sakit. 

Dalam ayat ketiga, al-Qarniy mengisyaratkan pesan langit supaya manusia senantiasa beriman kepada Allah semata dengan cara memperbanyak syukur, taat, ikhlas dalam peribadatan, dan mengikuti rasul-Nya. Para pemangku kepentingan dalam industri perjalanan wisata sudah selazimnya menyediakan tempat ibadah maupun meluangkan waktu bagi para wisatawan untuk salat. Meskipun hanya di ruangan kecil dalam moda transportasi atau hanya mampir sejenak di tempat peristirahatan, waktu salat setidaknya jangan sampai terlewat. Apalagi ada rukhshah untuk melakukan jama’ dan qashar. Belum lagi jika mengingat bahwa dalam perjalanan termasuk momentum mustajab untuk berdoa. Sebagaimana hadis berikut ini,

حدَّثنا مسلمُ بن إبراهيمَ، حدَّثنا هشام، عن يحيى، عن أبي جعفرٍ

عن أبي هريرة أن النبيَّ - صلَّى الله عليه وسلم - قال: "ثلاثُ دَعَواتٍ مُستجاباتٌ لا شَكَّ فيهنَّ: دعوةُ الوالدِ، ودعوةُ المسافر، ودعوةُ المظلوم

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

     

Muslim ibn Ibrahim menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami. Dari Yahya, dari Abu Ja’far, dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda, “Tiga doa terkabul tidak ada keraguan di dalamnya. Doa orang tua, doa orang yang bepergian, dan doa orang terzalimi”. (H.R. Abu Dawud)

Bagi para pelancong, sangat dianjurkan untuk tetap menjaga salat. Tidak ada alasan untuk meninggalkan salat meski dalam perjalanan wisata. Diperbolehkan melakukan jama’ dan qashar. Saat dalam perjalanan menuju tempat wisata, sebaiknya perbanyak bersyukur kepada Allah atas limpahan kesehatan dan waktu luang sehingga dapat berwisata. Rasa syukur juga dipanjatkan untuk memuji Allah atas keagungan ciptaan-Nya yang ditemui sepanjang perjalanan.

Dalam ayat terakhir, al-Qarniy menyatakan bahwa Allah adalah Zat satu-satunya yang memberi makan manusia dari kelaparan dan memberi rasa aman dari rasa takut. Ayat ini memang mengarah kepada Allah terkait pemberian makan dan jaminan keamanan. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi tentu saja berperan untuk ikut ‘menggantikan’ peran Sang Pencipta. Pada hakikatnya, khalifah lebih dekat pada pengertian sebagai pengganti (al-Qarniy, 2010). Tentu saja, tidak menggantikan urusan peribadatan dan penciptaan. Namun, ‘menggantikan’ Allah dalam memberikan makan bagi yang lapar serta memberikan rasa aman bagi yang merasa takut. Terkait pemaknaan khalifah sendiri tertuang dalam Surah al-Baqarah ayat 30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan di bumi khalifah”.

Para penyedia jasa perjalanan wisata sudah sepatutnya menjamin konsumsi bagi para wisatawan yang menggunakan layanan mereka. Lebih baik apabila pengadaan konsumsi tersebut terlebih dahulu berkoordinasi dengan para turis terkait makanan atau minuman yang diinginkan. Tidak diharapkan bahwa kudapan tersebut pada akhirnya tidak termakan karena tidak suka atau menjadi pantangan karena larangan dokter.

Operator bisnis perjalanan wisata juga sebaiknya senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan. Aman dari kriminalitas, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, maupun kekhawatiran berlebihan si pelancong itu sendiri. Entah karena memiliki riwayat gangguan kecemasan atau sejenisnya. Keamanan dan kenyamanan merupakan faktor utama yang memengaruhi kepuasan para pelancong untuk kembali menggunakan jasa mereka (Ningsih dan Hurnis, 2023).

Para turis pun sebaiknya tidak melupakan hak tubuh mereka untuk mendapatkan asupan bergizi selama perjalanan. Kondisi di dalam kendaraan yang lama kadang membuat tubuh cepat lelah. Makanan dan minuman adalah senjata ampuh untuk menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, jangan sampai para wisatawan membahayakan diri sendiri maupun orang lain selama perjalanan. Keamanan juga merupakan tanggung jawab para pelancong.

Demikian sekelumit pemahaman Islam dengan pendekatan pandangan Muhammadiyah mengenai pariwisata, khususnya perjalanan wisata. Semoga dapat menjadi pertimbangan bagi Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke depan.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dari Cahaya Wahyu Menuju Peradaban Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA., Dosen Pasca....

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

Wawasan

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi Manusia adalah Zoon Politicon kata Aristoteles, yang berarti manus....

Suara Muhammadiyah

29 September 2025

Wawasan

Oleh: Dr Amirsyah Tambunan, CWC, Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pote....

Suara Muhammadiyah

7 May 2026

Wawasan

CERDAS MEMILIH PEMIMPIN Oleh: Mohammad FakhrudinWarga Muhammadiyah tinggal di Magelang Kota  ....

Suara Muhammadiyah

31 January 2024

Wawasan

Membangun Sekoci-Sekoci Perkaderan Muhammadiyah di DIY Oleh: Iwan KC Setiawan (Wakil Ketua PWM DIY....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah