Gerakan Ekonomi Berjamaah: Membangun Ketahanan Keuangan Muhammadiyah dari Ranting hingga Pusat

Suara Muhammadiyah

17 September 2026

126
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Gerakan Ekonomi Berjamaah: Membangun Ketahanan Keuangan Muhammadiyah dari Ranting hingga Pusat

Oleh: Muhammad Najmi*

Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh segelintir orang. Sejak awal berdirinya, Persyarikatan ini tumbuh karena kekuatan berjamaah. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha yang kita saksikan hari ini lahir dari semangat kolektif warga Muhammadiyah di berbagai daerah. Semangat itulah yang menjadi modal utama ketika kita berbicara tentang ketahanan keuangan Muhammadiyah di era digital.

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa ketahanan keuangan tidak cukup hanya bertumpu pada penghimpunan donasi, infak, wakaf, maupun iuran anggota. Semua instrumen tersebut tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan pendekatan baru, yaitu membangun ekosistem ekonomi yang mampu menghasilkan nilai secara berkelanjutan. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan?

Jawabannya bukan dengan membangun sebuah proyek besar yang dimulai dari tingkat pusat. Muhammadiyah memiliki karakter yang berbeda. Kekuatan Persyarikatan justru terletak pada ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pusat yang saling menguatkan. Karena itu, pembangunan ekosistem ekonomi juga harus mengikuti karakter organisasi tersebut, yaitu dimulai dari bawah, tumbuh bersama, lalu saling terhubung dalam satu gerakan nasional.

Ranting merupakan jantung kehidupan Muhammadiyah. Di sanalah warga bertemu, beribadah, bermusyawarah, dan melakukan berbagai kegiatan sosial. Di sekitar ranting pula terdapat pedagang, petani, pengusaha kecil, guru, tenaga kesehatan, pekerja, dan berbagai profesi lainnya. Mereka sesungguhnya telah menjalankan aktivitas ekonomi setiap hari, hanya saja belum terhubung dalam sebuah ekosistem yang saling memberi manfaat.

Bayangkan apabila setiap ranting mulai memetakan potensi ekonominya. Siapa saja pelaku UMKM yang dimiliki warga? Produk apa yang dihasilkan? Jasa apa yang dapat ditawarkan? Amal usaha apa yang berada di wilayah tersebut? Pemetaan sederhana seperti ini merupakan langkah awal yang sangat penting. Kita tidak mungkin membangun ekosistem apabila tidak mengenal potensi yang kita miliki.

Setelah potensi terpetakan, langkah berikutnya adalah membangun budaya saling menguatkan. Warga Muhammadiyah didorong untuk mengenal dan memanfaatkan produk maupun jasa yang dihasilkan oleh sesama warga sepanjang memenuhi standar kualitas dan harga yang wajar. Semangat ini bukan berarti menutup diri dari pihak lain, melainkan membangun kesadaran bahwa setiap transaksi yang dilakukan di dalam ekosistem akan memperkuat perekonomian bersama.

Dalam konteks ini, teknologi digital menjadi alat pemersatu. Melalui sistem digital yang terintegrasi, warga dapat mengetahui produk UMKM Muhammadiyah di sekitarnya, lokasi Amal Usaha Muhammadiyah, layanan kesehatan, koperasi, maupun berbagai layanan ekonomi lainnya. Teknologi bukan tujuan, melainkan jembatan yang mempertemukan kebutuhan warga dengan potensi ekonomi yang dimiliki Persyarikatan.

Gerakan ekonomi berjamaah juga tidak boleh berhenti pada aktivitas jual beli. Tujuan akhirnya adalah menciptakan nilai yang dapat memperkuat ketahanan keuangan Muhammadiyah. Karena itu, sebagian nilai ekonomi yang lahir dari aktivitas tersebut dapat dikelola secara profesional untuk memperkuat dana abadi. Dana yang terus bertumbuh kemudian dikembangkan menjadi aset produktif melalui wakaf produktif sehingga manfaatnya terus mengalir bagi dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Model seperti ini memiliki keunggulan karena tidak membebani warga dengan kewajiban baru. Warga tetap menjalankan aktivitas ekonomi sebagaimana biasanya. Yang berubah adalah sistemnya. Aktivitas yang sebelumnya berdiri sendiri kini saling terhubung sehingga menghasilkan manfaat yang lebih luas. Setiap transaksi tidak hanya memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga ikut memperkuat kemandirian Persyarikatan.

Tentu saja, keberhasilan gerakan ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Faktor yang jauh lebih penting adalah kepercayaan. Warga akan berpartisipasi apabila yakin bahwa sistem dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel. Oleh karena itu, tata kelola menjadi fondasi utama. Setiap rupiah yang dikelola harus dapat dipertanggungjawabkan. Setiap program harus dapat diukur manfaatnya. Setiap keputusan harus dibangun melalui musyawarah dan mengedepankan kepentingan Persyarikatan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kolaborasi antarmajelis dan lembaga. Selama ini, banyak program ekonomi, pendidikan, kesehatan, zakat, wakaf, dan pemberdayaan yang telah berjalan dengan baik. Tantangannya bukan karena kekurangan program, melainkan bagaimana menghubungkan program-program tersebut agar saling memperkuat. Ketika kolaborasi terbangun, nilai yang dihasilkan akan jauh lebih besar daripada apabila setiap unsur berjalan sendiri-sendiri.

Gerakan ekonomi berjamaah juga harus menjadi ruang bagi generasi muda Muhammadiyah. Anak-anak muda memiliki kemampuan yang baik dalam memanfaatkan teknologi, membangun inovasi, dan membaca perubahan pasar. Energi kreatif mereka perlu dipadukan dengan pengalaman para senior dalam mengelola organisasi. Sinergi antargenerasi inilah yang akan menjadi kekuatan Muhammadiyah menghadapi masa depan.

Pada akhirnya, membangun ketahanan keuangan Muhammadiyah bukanlah pekerjaan satu majelis, satu lembaga, atau satu pimpinan. Ini adalah gerakan bersama yang memerlukan partisipasi seluruh warga Persyarikatan. Setiap ranting memiliki peran. Setiap cabang memiliki tanggung jawab. Setiap daerah, wilayah, hingga pusat memiliki fungsi yang saling melengkapi. Ketika semua unsur bergerak dalam satu arah, Muhammadiyah tidak hanya akan memiliki organisasi yang kuat secara kelembagaan, tetapi juga tangguh secara ekonomi.

Sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah mampu melahirkan pembaruan yang memberi manfaat luas bagi bangsa. Kini, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, saatnya Persyarikatan kembali menunjukkan semangat tajdidnya dengan membangun model ketahanan keuangan yang berakar pada nilai Islam, diperkuat oleh semangat berjamaah, dan didukung oleh teknologi digital. Dengan demikian, setiap aktivitas ekonomi warga tidak hanya menjadi sarana memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi bagian dari amal saleh yang memperkuat dakwah dan membangun peradaban.

*) Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Harapan Dunia dan Akhirat dalam Timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah Oleh: Suko Wahyudi, PRM Tim....

Suara Muhammadiyah

17 December 2025

Wawasan

Fenomena Sekolah Islam Perkotaan Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam-UMS P....

Suara Muhammadiyah

11 January 2024

Wawasan

Oleh: Donny SyofyanDosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Pembahasan buku selanjutnya terka....

Suara Muhammadiyah

13 November 2024

Wawasan

Islam dan Jihad Ekologi   Oleh: Yoan Pramoga, Mahasiswa UIN Palangka Raya, Wakil Ketua Pemuda....

Suara Muhammadiyah

6 September 2026

Wawasan

Data TKA dan Kesehatan Mental Generasi  Oleh: Nabil Syuja Faozan, Mahasiswa Profesi Dokter Uni....

Suara Muhammadiyah

14 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah