Green Idul Fitri: Tanggung Jawab Lingkungan di Hari Kemenangan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
102
Ilustrasi

Ilustrasi

Green Idul Fitri: Tanggung Jawab Lingkungan di Hari Kemenangan

Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah, Wakil Ketua LLH PB ‘Aisyiyah 

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Setiap Idul Fitri, suasana rumah-rumah di berbagai tempat berubah menjadi lebih hidup. Pintu terbuka untuk menyambut tamu, meja makan dipenuhi hidangan, dan ruang keluarga menjadi tempat berkumpulnya sanak saudara yang datang bersilaturahmi. Tawa, cerita lama, dan ucapan saling memaafkan mengalir di antara orang-orang yang kembali dipertemukan oleh hari raya.

Di banyak tempat, perayaan Idul Fitri juga identik dengan hidangan yang melimpah dan berbagai bingkisan yang dibagikan kepada kerabat serta tetangga. Tradisi ini menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan yang telah lama hidup dalam masyarakat.

Namun di balik suasana yang penuh kegembiraan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: meningkatnya jumlah sampah selama perayaan Idul Fitri. Kemasan makanan sekali pakai, plastik pembungkus bingkisan, botol minuman, serta sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi sering kali berakhir menjadi tumpukan sampah setelah hari raya berlalu.

Apa yang dimulai sebagai perayaan kebersamaan kadang tanpa disadari meninggalkan dampak yang cukup besar bagi lingkungan. Karena itu, penting bagi kita untuk mulai melihat perayaan Idul Fitri bukan hanya sebagai tradisi keluarga, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada publik dan lingkungan.

Islam dan Amanah Menjaga Bumi

Dalam ajaran Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi. Artinya manusia memiliki amanah untuk menjaga dan merawat alam, bukan merusaknya. Alam yang diciptakan Allah merupakan tempat kehidupan manusia sekaligus sumber berbagai kebutuhan hidup yang harus dijaga keberlangsungannya.

Allah SWT berfirman:

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Alam yang kita tempati adalah amanah dari Allah yang harus dijaga bersama. Karena itu, setiap aktivitas manusia, termasuk dalam merayakan hari raya, seharusnya tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Dari Konsumsi Berlebih ke Kesadaran Lingkungan

Perayaan Idul Fitri sering kali identik dengan konsumsi yang meningkat. Hidangan berlimpah disiapkan untuk menyambut tamu, aneka kue dan makanan khas dihidangkan, serta berbagai bingkisan dibagikan kepada kerabat dan sahabat. Tradisi ini tentu memiliki makna kebersamaan yang sangat indah karena melalui hidangan tersebut orang-orang saling berbagi kebahagiaan.

Namun tanpa disadari, pola konsumsi yang berlebihan juga dapat menghasilkan pemborosan dan menambah volume sampah. Tidak sedikit makanan yang akhirnya terbuang karena disiapkan dalam jumlah yang terlalu banyak. Kemasan plastik dari makanan dan minuman sekali pakai juga menumpuk setelah acara silaturahmi selesai.

Padahal Islam mengajarkan sikap sederhana dan tidak berlebihan dalam menggunakan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Allah SWT berfirman:

“Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini mengingatkan bahwa kesederhanaan dan keseimbangan adalah bagian dari etika hidup seorang Muslim. Bahkan dalam suasana perayaan sekalipun, manusia tetap diajarkan untuk menjaga sikap bijaksana dalam memanfaatkan nikmat yang tersedia.

Gerakan Green Idul Fitri

Kesadaran untuk merayakan Idul Fitri secara ramah lingkungan sebenarnya telah lama disuarakan. Di lingkungan Aisyiyah, isu lingkungan telah menjadi bagian dari gerakan dakwah sosial yang berkelanjutan.

Sejak tahun 2015, LLH PB ’Aisyiyah (Lembaga Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat ’Aisyiyah) telah mengeluarkan edaran yang mendorong masyarakat untuk menerapkan konsep Green Idul Fitri, yaitu merayakan hari raya dengan cara yang lebih ramah lingkungan serta mengurangi produksi sampah selama perayaan Lebaran.

Kesadaran ini juga berkembang melalui berbagai kolaborasi lintas organisasi. Misalnya kerja sama antara GreenFaith Indonesia, Yayasan KEHATI, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, serta sejumlah organisasi masyarakat sipil lainnya yang mendorong kampanye kesadaran lingkungan selama Ramadan. Berbagai kegiatan edukasi dilakukan untuk mengajak masyarakat mengubah pola konsumsi menjadi lebih sehat, adil, dan ramah lingkungan.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas satu kelompok, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Organisasi keagamaan, lembaga lingkungan, komunitas pemuda, hingga masyarakat luas memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis.

Langkah-Langkah Sederhana

Merayakan Idul Fitri secara ramah lingkungan sebenarnya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Salah satunya adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam menyajikan makanan dan minuman. Menggunakan peralatan makan yang dapat dipakai kembali tentu lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

Selain itu, menyiapkan makanan secukupnya juga menjadi langkah penting agar tidak banyak makanan yang terbuang. Hidangan yang sederhana tetapi cukup sering kali lebih bermakna daripada makanan yang berlimpah tetapi berakhir menjadi sampah.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan untuk bingkisan Lebaran, seperti kotak kertas, keranjang, atau tas kain yang dapat digunakan kembali. Langkah-langkah kecil ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama oleh banyak keluarga, dampaknya dapat sangat besar bagi lingkungan.

Silaturahmi yang Lebih Bermakna

Pada dasarnya, esensi Idul Fitri bukan terletak pada banyaknya hidangan atau kemewahan bingkisan yang disajikan. Esensi Idul Fitri adalah kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan antarmanusia.

Ketika kita merayakan hari raya dengan kesederhanaan yang bijaksana, nilai silaturahmi justru menjadi lebih terasa. Kebersamaan tidak diukur dari banyaknya hidangan yang tersedia, tetapi dari kehangatan hubungan yang terjalin antara sesama manusia.

Green Idul Fitri mengingatkan bahwa merayakan hari kemenangan tidak harus meninggalkan jejak kerusakan bagi lingkungan. Justru dengan menjaga alam, kita sedang menunjukkan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan oleh Allah.

Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada fitrah: hati yang bersih, kehidupan yang sederhana, dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai manusia.

Merayakan Idul Fitri secara ramah lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita kepada publik dan kepada bumi yang kita tempati bersama. Kesadaran ini mengajak kita untuk melihat perayaan hari raya tidak hanya dari sisi tradisi, tetapi juga dari sisi keberlanjutan kehidupan.

Green Idul Fitri mengajak kita merayakan kebahagiaan tanpa meninggalkan kerusakan, serta menjadikan nilai-nilai spiritual Ramadan hadir dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Karena menjaga bumi pada akhirnya bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal amanah yang Allah titipkan kepada manusia. (Hnp)

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Mudik dan Indahnya Silaturrahmi Oleh: Mahli Zainuddin Tago Pulau Sangkar-Kerinci, awal Juni 1979. ....

Suara Muhammadiyah

31 May 2024

Humaniora

Oleh: Cristoffer Veron P. Reporter Suara Muhammadiyah. Kader Muda Muhammadiyah Semua orang mempunya....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Humaniora

Oleh Mahli Zainuddin Tago Jalan Kauman Jogja, 1992.  Rapat rutin Rabu malam berlangsung di ka....

Suara Muhammadiyah

24 December 2024

Humaniora

Mengalir Bersama Kisah: Tercatat Tiga Tahun Beruntun di Daftar Top 2% Scientists Worldwide Oleh: Pr....

Suara Muhammadiyah

22 September 2025

Humaniora

Hormati Tetangga, Muliakan Tamu Oleh: Wahyudi Nasution Doso, begitu nama panggilan teman ngobrol P....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah