SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai ranting dan cabang se-Kabupaten Sleman memadati Lapangan Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, dalam kegiatan Pengajian Hari Bermuhammadiyah, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan berlangsung tertib, rapi, dan penuh semangat ukhuwah. Pengajian menghadirkan M Din Syamsuddin sebagai penceramah utama dengan tema “Umat Bersatu, Islam Kuat: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Persatuan di Tengah Gejolak dan Perang Narasi.”
Acara tersebut menjadi momentum penguatan nilai persatuan, dakwah berkemajuan, serta pengokohan peran Muhammadiyah di tengah dinamika kehidupan bangsa.
Dalam tausyiyahnya, Din menyampaikan bahwa Hari Bermuhammadiyah telah menjadi tradisi yang hidup di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan kini berkembang di Yogyakarta, termasuk Sleman.
“Hari Bermuhammadiyah menjadi ciri khas di daerah Jawa Tengah, seperti Wonosobo, Magelang, Purworejo, dan besok InsyaAllah ke Kebumen,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2010 dan 2010–2015 tersebut.
Sejak selepas Subuh, jamaah telah mempersiapkan diri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Antusiasme warga terlihat dari penuhnya lapangan oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, tokoh masyarakat, hingga keluarga besar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Prof Din menegaskan bahwa semangat Bermuhammadiyah tidak cukup diwujudkan dalam kegiatan seremonial bulanan, tetapi harus menjadi karakter hidup sehari-hari.
“Hari Bermuhammadiyah sebaiknya tidak hanya tiap bulan, tetapi tiap hari dan tiap waktu kita jadikan sebagai Hari Bermuhammadiyah,” tandasnya.
Menurutnya, menjadi warga Muhammadiyah berarti menisbatkan diri kepada perjuangan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ia menekankan bahwa ciri warga Muhammadiyah bukan hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga nyata dalam amal untuk umat dan bangsa.
“Mukmin dan mukminah itu tidak hanya beriman dalam hati, tetapi juga beramal. Maka doa kita adalah: Allahumma ja‘alna minal mukmininal ‘amilin — Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman dan beramal,” tuturnya.
Menurut Din, semangat iman yang diwujudkan dalam amal nyata tercermin dari berkembangnya Amal Usaha Muhammadiyah di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke. Ia mencontohkan keberadaan sekolah Muhammadiyah di Papua yang telah melahirkan banyak tokoh daerah.
Tidak hanya itu, ia juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah meningkatkan kualitas pengabdian agar amal yang dilakukan benar-benar memberi manfaat luas bagi masyarakat.
“Amal-amal kita harus berkualitas sehingga doa kita menjadi Allahumma ja‘alna minal mukmininal ‘amilinal muhsinin — Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman, beramal, dan berbuat ihsan,” katanya.
Pada bagian akhir tausyiyah, Din mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan, keterbukaan, dan toleransi dalam kehidupan umat Islam.
“Ummatan wahidah adalah umat yang satu kiblat, penuh kelapangan dada, tasamuh, dan hanif — lurus dalam prinsip namun tetap toleran,” ujarnya.
Menjelang penutupan acara, Prof Din memimpin doa bersama untuk umat Islam dan bangsa Indonesia, sekaligus mendoakan Hamim Ilyas yang wafat pada hari tersebut.
“Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT dan segala amal baktinya menjadi jariyah yang terus mengalir. Aamiin,” pungkasnya.

