Halaqah KHGT Muhammadiyah: Integrasi Sains, Syariah, dan Komunikasi Global
Oleh. M. Saifudin, Peserta Halaqah KHGT & Pengasuh PPM Sangen
Perdebatan mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tampaknya belum akan berhenti dalam waktu dekat. Dan di tengah gelombang kritik serta silang pendapat yang muncul terutama menjelang Ramadhan 1447 H, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah justru memilih jalur yang lebih produktif: memperkuat diskursus ilmiah, membangun kaderisasi, dan membuka komunikasi global. Langkah itu tampak dalam kegiatan Halaqah Kalender Hijriah Global Tunggal: Tantangan dan Peluang KHGT ke Depan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan pada Kamis, 27 Zulkaidah 1447 H/14 Mei 2026 M di Aula Fakultas Kedokteran UAD Yogyakarta.
Berbeda dari forum-forum biasa, halaqah ini dibangun dengan tradisi akademik yang cukup serius. Kepesertaan ditempuh melalui seleksi call paper. Para calon peserta diwajibkan mengirim abstrak terkait KHGT beserta berbagai subtemanya. Dari puluhan abstrak yang masuk, hanya 69 peserta yang dinyatakan lolos, mengumpulkan makalah ilmiah, sekaligus hadir mengikuti halaqah. Para peserta pun berasal dari beragam latar belakang kepakaran dan disiplin keilmuan yang berkaitan dengan KHGT, mulai dari ahli syariah, ilmu falak, astronomi, teknologi, komunikasi, IT, pengembangan perangkat lunak, birokrasi, hingga pakar kecerdasan buatan (AI).
Format ini penting dicatat. KHGT sedang diarahkan bukan sekadar menjadi slogan atau proyek persyarikatan, tetapi menjadi wacana keilmuan yang tumbuh melalui riset, kritik, dan pertukaran gagasan akademik. Inilah yang membedakan diskursus KHGT hari ini dengan perdebatan kalender Islam pada masa-masa sebelumnya yang sering kali berhenti pada polemik normatif.
Acara dibuka oleh Ketua Panitia, Rahmadi Wibowo S., Lc., M.A., yang menegaskan bahwa salah satu target utama halaqah ini ialah penyusunan road map atau peta jalan KHGT ke depan. Menurutnya, implementasi KHGT 1447 H harus menjadi titik evaluasi bersama, bukan sekadar kemenangan atau kekalahan argumentasi.
Sementara itu, Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Muchlas, M.T., dalam sambutannya menekankan pentingnya pewarisan ilmu falak melalui jalur akademik yang sistematis. Ia mendorong lahirnya program-program akademik yang mampu melahirkan generasi baru ahli falak Muhammadiyah. Bahkan, ia mengusulkan kerja sama antara museum Muhammadiyah UAD dengan Majelis Tarjih untuk menghadirkan artefak-artefak sejarah falak Islam sebagai bagian dari penguatan literasi peradaban.
Salah satu sesi terpenting dalam halaqah ini adalah keynote speech yang disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan tema “Arah Pengembangan KHGT Pasca Implementasi 1447 H.” Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa pengurus Majelis Tarjih harus terus belajar ilmu falak agar tidak terlepas dari perkembangan astronomi modern. Ia juga menyoroti pentingnya pengkaderan, dokumentasi pemikiran melalui autobiografi tokoh, dan pembentukan tim pengawal KHGT yang mampu menjawab tantangan baik dari sisi syariah maupun astronomi.
Pesan tersebut terasa relevan. Sebab, tantangan KHGT saat ini bukan lagi sekadar soal “mungkin atau tidak”, melainkan bagaimana ia dapat diterima secara ilmiah, sosial, dan internasional.
Menariknya, halaqah ini juga memperlihatkan bahwa KHGT mulai bergerak ke wilayah yang lebih teknis dan futuristik. Dalam salah satu sesi halaqah, astronom Muhammadiyah Prof. Tono Saksono, Ph.D., mempresentasikan makalah berjudul “Urgensi Perbaikan Kriteria KHGT dan Pendefinisian Kelahiran Fajar Global.” Berlatar belakang pendidikan mapping science dan photogrammetry, serta dikenal sebagai doktor pertama di Indonesia dalam bidang tersebut, alumnus Amerika dan Inggris ini banyak meneliti serta menulis karya ilmiah, khususnya terkait penginderaan kemunculan fajar. Dalam paparannya, ia menyoroti perlunya pembaruan sejumlah parameter astronomi dalam KHGT, termasuk definisi fajar global, sehingga KHGT dipahami sebagai sistem yang terus memerlukan evaluasi berbasis data dan sains.
Hal yang sama tampak dalam presentasi Kasmui, M.Si., pakar pengembangan perangkat lunak berbasis KHGT. Melalui makalahnya tentang integrasi komputasi astronomi presisi tinggi pada aplikasi KHGT Times berbasis Skyfield, ia menunjukkan bahwa implementasi kalender Islam global kini semakin terkait erat dengan teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Halaqah kemudian dibagi menjadi enam kelompok berdasarkan tema makalah. Penulis sendiri berada dalam kelompok bertema “Strategi Komunikasi dengan Dunia Internasional.” Dalam diskusi tersebut muncul sejumlah usulan, di antaranya pentingnya mengaktifkan diaspora dan jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), mengadakan seminar bersama akademisi perguruan tinggi internasional, membangun komunikasi bilateral dengan lembaga-lembaga otoritas kalender di berbagai negara Muslim, serta mendorong para pimpinan dan tokoh yang memiliki kapasitas menulis untuk aktif menyuarakan gagasan KHGT di media-media arus utama nasional maupun internasional.
Namun, halaqah ini tidak hanya berbicara soal komunikasi global. Tema-tema lain yang dipresentasikan para pakar, ilmuwan, dan akademisi Muhammadiyah juga tidak kalah menarik, mulai dari persoalan astronomi presisi tinggi, redefinisi fajar global, pengembangan perangkat lunak berbasis KHGT, penguatan metodologi syariah-astronomis, hingga tantangan implementasi kalender Islam dalam konteks globalisasi digital. Seluruh diskusi itu memperlihatkan bahwa KHGT sedang dibangun bukan secara parsial, tetapi melalui pendekatan multidisipliner yang memadukan fikih, astronomi, teknologi, komunikasi, dan geopolitik dunia Islam.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Syamsul Anwar kembali mengulang pandangan Prof. Tono Saksono bahwa pengembangan KHGT sesungguhnya merupakan bagian dari “utang peradaban” Muhammadiyah kepada dunia Islam. Sebab, kalender Islam bukan sekadar instrumen penanggalan, tetapi simbol persatuan waktu umat, kepastian ibadah, dan kemajuan sains Islam modern. Karena itu, KHGT tidak cukup dipahami sebagai proyek persyarikatan semata, melainkan ikhtiar peradaban yang menuntut keseriusan ilmu, keberanian inovasi, serta kemampuan membangun komunikasi global yang dewasa.
Di era digital, isu KHGT juga mulai bersentuhan dengan kecerdasan buatan. Dalam sesi menjelang pleno, Ismail Fahmi, S.T., M.T., Ph.D., Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, menyampaikan bagaimana gelombang kritik terhadap KHGT menjelang Ramadhan 1447 H menyebar sangat cepat di ruang digital. Ia juga memperkenalkan perkembangan AI dan pentingnya menghadirkan narasi KHGT yang berbasis moral value, bukan sekadar “perang opini” yang saling menjatuhkan. Menurutnya, teknologi harus diarahkan untuk memperkuat edukasi dan literasi umat, bukan memperdalam polarisasi.
Sidang pleno dipimpin oleh Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar, M.A., bersama Agung Laksana, S.Si., M.H. Dalam penutupan acara, Dr. Muhammad Rofiq Muzakir, Lc., M.A., kembali menegaskan pentingnya terus mempelajari dan benar-benar menguasai persoalan kalender Islam secara mendalam. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan kerja sama dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Diyanet Turkiye, serta berbagai lembaga dan otoritas internasional lainnya. Selain itu, ia turut menyinggung perbedaan pendekatan astronomi yang sempat muncul, di mana Muhammadiyah menggunakan pendekatan geosentris, sedangkan Turki cenderung topocentris, sekaligus menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dengan berbagai ormas Islam.
Halaqah ini menunjukkan bahwa KHGT tidak lagi dipahami sekadar sebagai proyek kalender, tetapi mulai bergerak menuju agenda peradaban Islam modern. Dalam dunia yang semakin terkoneksi, penguatan KHGT tidak cukup dibangun hanya dengan hisab dan dalil, tetapi juga melalui penguasaan sains, teknologi, komunikasi global, dan kedewasaan intelektual. Sebab, kalender Islam bukan sekadar instrumen penanggalan, melainkan juga berkaitan dengan persatuan umat dan kepastian ibadah.
Semangat ini sejalan dengan pesan pembaruan KH. Ahmad Dahlan: “Dadio kyai sing kemajuan...” Artinya, agar umat Islam tidak takut memadukan ilmu agama, sains, dan kemajuan, tidak lain untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.

