HUMANISME KIAI DAHLAN
Selama ini, sumber-sumber primer tertulis yang menjadi objek pengkajian dan penelitian tentang pemikiran tokoh KH Ahmad Dahlan berupa artikel—khususnya dimuat di Suara Muhammadiyah dan Islam Bergerak—dan pidato yang berhasil didokumentasikan, baik lewat pemuatan di surat kabar ataupun penerbitan terbatas. Khusus untuk dokumentasi pidato KH Ahmad Dahlan, sumber primer yang sudah beredar adalah pidato yang disampaikan dalam Congres Al-Islam di Cirebon tahun 1922.
Temuan terbaru pidato KH Ahmad Dahlan di Ngadiwinatan tanggal 25 Agustus 1922 menjadi dokumentasi sumber primer baru yang dapat memperkuat pengkajian dan penelitian tentang pemikiran sang pendiri Muhammadiyah ini. “Pidatonja Kiai HA Dahlan,” demikian tajuk berita yang dimuat di surat kabar Islam Bergerak edisi 20 September 1922. Berita ini pemuatan pidato KH Ahmad Dahlan di surat kabar ini bersambung sampai dua edisi, menjelaskan pemikiran sang tokoh dengan penyajian gaya jurnalistik media massa.
Pada malam Jum’at tanggal 25 Agustus 1922, Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah menggelar forum diskusi terbuka untuk umum dipandu oleh R Ng Djojosoegito—Sekretaris HB Muhammadiyah). Panitia diskusi akbar menghadirkan 1.000 undangan dari berbagai latar belakang agama dan suku bangsa, termasuk undangan dari kalangan ulama (Kiai Bisri, RH Adnan, dll), tokoh pergerakan (Ki Hajar Dewantara, Martowihardjo, Sosroparwoto, dll) hingga intelektual bangsa Belanda (K van Dijck).
Diberitakan bahwa sebelum forum diskusi dimulai, R Sosrosoegondo—Sekretaris HB Muhammadiyah bagian Sekolahan—menjelaskan bahwa forum tersebut digelar dalam rangka merespons pandangan Pendeta Zwemer (Samuel Marinus Zwemer), seorang misionaris terkenal dari Amerika Serikat pada masanya. Sang pendeta yang berkunjung ke tanah Hindia Belanda dan telah dalam beberapa ceramah di Gereja. Sosrosoegondo mengutip pernyataan Zwemer: “Agama Christen terlebih tinggi daripada agama sealam doenia, ternjata dari alam ini banjak jang beragama Christen, dan orang-orang jang memeloek agama Christen orangorang jang termasjhoer dalam doenia tentang pandai dan kekoeasaannja…”
Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 03/2026

