BANTUL, Suara Muhammadiyah – Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) mestinya bersyukur dan bangga. Kenapa? Selain sebagai pelopor dalam pengembangan pendidikan tinggi, PTMA telah mendapat kepercayaan (trust) dari masyarakat secara luas.
“Artinya bahwa anda berada di institusi pendidikan yang mapan, yang punya nama, dan sekaligus juga punya kepercayaan,” ujar Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di samping itu, perlu juga memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk menyongsong masa depan. Dan lebih jauh lagi, merancang kemaslahatan untuk orang banyak.
“Ilmu kita dan apa yang kita miliki, tidak untuk diri kita. Jika kita menjadi orang beriman apa pun agamanya, tapi untuk memberi dan menebar kebajikan, kemaslahatan, keluhuran, keutamaan bagi hajat hidup orang banyak,” terang Haedar.
Bagi orang berilmu, memandang kemanfataan itu memiliki value (nilai) yang melampaui. Dengan begitu, mampu mengetahui sisi-sisi kehidupan secara komprehensif.
“Ilmu mengajarkan kita agar dengan sistem pengetahuan yang kita miliki, kita tahu benar-salah, kita tahu baik-buru, kita tahu pantas-tidak pantas, dan dampak dari semua yang kita lakukan dalam hidup ini,” ujarnya.
Itulah yang diajarkan oleh ilmu. Demikian tekan Haedar, Kamis (22/10) saat Milad ke-5 dan Wisuda Sarjana SiberMu TA 2026/2027 di Sedayu, Bantul. “Sebaliknya, kalau kita bertindak tanpa ilmu, sebatas kepraktisan itulah apa yang kita lakukan,” menggarisbawahi lebih lanjut.
Sekalipun begitu, dengan gamblangnya agama mengajarkan, Wala taqfu ma laysa laka bihi AAilmun, "Janganlah kamu mengejar sesuatu yang tidak kamu ketahui."(pangkal Qs al-Isra ayat 36). Nukilan ayat itu menjadi basis fundamental bagi para siswa dan mahasiswa dalam mengais ilmu.
“innas-sam'a wal-baṣara wal-fu`āda kullu ulā`ika kāna 'an-hu mas`ụlā, 'Penglihatan kita, pendengaran kita, dan qalbu (hati kita), itu akan diminta pertanggung jawaban',” ucap Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah itu, menukil sambungan redaksi surah ke-17 tersebut. (Cris)

