Iman Harus Melahirkan Amal, Islam Tidak Mengajarkan Keberagamaan yang Pasif

Suara Muhammadiyah

23 July 2026

133
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dalam Islam, keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan di lisan atau keyakinan di dalam hati. Iman harus diwujudkan dalam amal nyata yang memberikan manfaat bagi sesama. Sebaliknya, amal yang besar sekalipun akan kehilangan maknanya apabila tidak dilandasi keimanan kepada Allah.

Pesan tersebut disampaikan mantan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Prof Dr H Afif Muhammad MA saat mengisi pengajian rutin yang digelar Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) di Musala UM Bandung pada Kamis (23/07/2026).

Menurut Afif, Islam merupakan agama yang memadukan antara iman dan amal dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keimanan sejatinya bisa melahirkan tindakan, sedangkan setiap amal harus berakar pada keimanan.

"Iman kita sebagai muslim tanpa amal tidak ada gunanya. Sebaliknya, amal tanpa iman juga akan menjadi sia-sia. Islam mengajarkan keduanya berjalan beriringan," ujarnya.

Ia mencontohkan, seseorang bisa mengucapkan syahadat berkali-kali, tetapi pengakuan itu tidak akan berarti jika tidak diwujudkan dalam perilaku dan amal saleh. Begitu pula Al-Qur'an. Kitab suci tersebut tidak cukup hanya dimiliki atau disimpan, tetapi harus dibaca, dipahami, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Afif juga mengingatkan bahwa ukuran sebuah amal tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya pekerjaan, tetapi oleh niat dan nilai keimanan yang melandasinya. Bahkan pekerjaan sederhana di rumah dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan bertujuan menghadirkan kemaslahatan.

"Hal kecil seperti menyiapkan makanan untuk keluarga bisa menjadi ibadah jika diawali dengan bismillah dan diniatkan karena Allah. Namun, jika dikerjakan dengan penuh amarah dan keluhan, yang didapat mungkin hanya lelahnya saja," tuturnya.

Dalam kajiannya, Afif mengajak sivitas akademika UM Bandung untuk tidak sekadar mengejar banyaknya amal, tetapi juga memperhatikan kualitasnya. Menurutnya, Allah hanya menerima amal yang baik karena Allah sendiri adalah Zat yang Maha Baik dan Maha Indah.

Ia mengibaratkan manusia jangan seperti lilin yang menerangi orang lain, tetapi justru habis membakar dirinya sendiri. Sebaliknya, umat Islam hendaknya meneladani lebah yang hanya mengambil yang baik dan menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kehidupan.

"Allah tidak menginginkan amal yang asal-asalan atau recehan. Yang dikehendaki adalah amal yang berkualitas, bermanfaat, dan dilakukan dengan penuh keikhlasan," pungkasnya.***(FA/FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SUMEDANG, Suara Muhammadiyah - Berangkat dari Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang penceg....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Berita

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Aceh memperluas....

Suara Muhammadiyah

28 January 2025

Berita

BANDAACEH, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati hari milad Nasyiatul 'Aisyiyah ke-93/96, P....

Suara Muhammadiyah

10 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Internasionalisasi program AIK terus digalakkan dan integrasi keilm....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

30 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah