Jejak Ilmu, Jejak Dakwah: Meneladani Prof Siti Chamamah Soeratno
Oleh: Drs Ki Anton Eknathon,MHum, Pengurus HW Pimda Sleman DI Yogyakarta
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn."
Kepergian Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga besar Universitas Gadjah Mada dan Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Almarhumah adalah sosok langka yang memadukan kecemerlangan akademik, keteguhan dakwah, dan keteladanan akhlak dalam satu tarikan napas kehidupan. Di tengah zaman yang sering mengukur keberhasilan dengan popularitas dan materi, beliau menunjukkan bahwa kemuliaan sejati lahir dari ilmu yang diamalkan dan pengabdian yang tulus.
Sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Siti Chamamah mengabdikan hidupnya untuk dunia ilmu pengetahuan, khususnya kajian sastra dan budaya Jawa. Baginya, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang harus dibaca secara kritis dan dikembangkan agar tetap relevan dengan tantangan zaman. Melalui ruang kuliah, penelitian, dan pembimbingan akademik, beliau menanamkan tradisi berpikir ilmiah yang berakar pada kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab.
Namun, pengabdian beliau tidak berhenti di ruang akademik. Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah selama dua periode (2000–2005 dan 2005–2010), Prof. Siti Chamamah membawa semangat Islam Berkemajuan ke dalam gerakan perempuan Muhammadiyah. Kepemimpinannya memperkuat pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan dakwah sosial yang berpihak kepada kemaslahatan umat.
Beliau membuktikan bahwa seorang ilmuwan tidak harus terpisah dari masyarakat. Justru ilmu menemukan makna tertingginya ketika menjadi cahaya yang menerangi kehidupan bersama. Di sinilah kita menemukan relevansi firman Allah Swt.:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat tersebut tidak sekadar menjanjikan kemuliaan bagi orang berilmu, tetapi juga mengingatkan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan iman. Prof. Siti Chamamah menjadikan keduanya sebagai fondasi kehidupan. Ilmu membentuk keluasan pandangan, sedangkan iman menjaga arah pengabdian.
Rasulullah saw. juga bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad).
Hadis ini terasa hidup dalam perjalanan beliau. Ilmu yang dimiliki tidak disimpan sebagai kebanggaan pribadi, tetapi dibagikan melalui pendidikan, dakwah, dan kepemimpinan. Beliau mengajarkan bahwa jabatan bukanlah kehormatan yang harus dilayani, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam perspektif Manhaj Tarjih Muhammadiyah, ilmu pengetahuan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama. Sebaliknya, ilmu merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan umat. Tarjih mengajarkan bahwa ijtihad harus berpijak pada Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi juga peka terhadap perkembangan zaman. Sikap inilah yang tercermin dalam kepemimpinan Prof. Siti Chamamah. Beliau terbuka terhadap pembaruan tanpa kehilangan akar nilai Islam.
Di era digital saat ini, ketika banjir informasi sering kali mengalahkan kedalaman pengetahuan, keteladanan beliau menjadi semakin relevan. Banyak orang berlomba mencari pengaruh, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh membangun karakter. Banyak yang mengejar gelar, tetapi lupa mengasah integritas. Banyak yang pandai berbicara, tetapi belum tentu menghadirkan manfaat.
Prof. Siti Chamamah menunjukkan jalan berbeda. Beliau tidak dikenal karena sensasi, melainkan karena konsistensi. Tidak membangun citra melalui keramaian, tetapi melalui karya. Tidak mengejar pujian, tetapi mengutamakan kemanfaatan. Inilah wajah kepemimpinan yang sangat dibutuhkan bangsa dan Persyarikatan Muhammadiyah hari ini.
Kepergian beliau sekaligus menjadi pengingat bahwa kaderisasi tidak cukup menghasilkan orang pintar. Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki keluasan ilmu, keteguhan tauhid, kepekaan sosial, dan kerendahan hati. Pendidikan yang dibangun Muhammadiyah harus terus melahirkan generasi yang mampu mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal saleh sebagaimana dicontohkan Prof. Siti Chamamah.
Warisan terbesar almarhumah bukan hanya buku, penelitian, atau jabatan yang pernah diemban. Warisan sesungguhnya adalah keteladanan hidup. Keteladanan itulah yang akan terus hidup di hati para mahasiswa, kader 'Aisyiyah, warga Muhammadiyah, dan masyarakat luas.
Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Selamat jalan, Prof. Dr. Hj. Siti Chamamah Soeratno. Jejak ilmu yang Engkau tinggalkan akan terus menjadi cahaya bagi generasi penerus. Sebab, manusia boleh berpulang, tetapi ilmu yang diamalkan dan keteladanan yang diwariskan akan tetap hidup, mengalir sebagai amal jariyah yang tak pernah putus. Aamiin.

