YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam dunia yang mengalami perubahan eksponensial seperti sekarang, lebih-lebih siklus perubahan itu tidak lagi linier, warga Muhammadiyah perlu menguatkan pemahaman keagamaan secara utuh.
“Tidak bisa hanya tinggal di dalam kepala menjadi hafalan semata, tapi itu menjadi bagian penting di dalam pengabdian kita kepada masyarakat,” kata Irwan Akib.
Perubahan tersebut mengerucut pada aus globalisasi tak terbendung ditopang dengan kemajuan teknologi yang dibungkus kecerdasan buatan (artificial intelligence).
“Hari ini kita memahami sesuatu, besok sudah lain lagi. Apalagi dengan perkembangan ee kecerdasan buatan, tetapi kita punya jangkar ideologi untuk mengatasi itu,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Jangkar ideologi, sebut Irwan, sebagai visi jangka panjang. Apa visinya? Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Dengan visi itu seorang kader tidak tidak perlu terlalu kaget dengan perubahan-perubahan yang ada,” ucapnya, termasuk krisis global yang serba tidak pasti. “Sangat tidak jelas perubahan-perubahan yang terjadi,” sambungnya.
Secara ringkas, jangkar ideologi landasan bagi kader Muhammadiyah untuk menghadapi aneka perubahan yang ada berikut kerumitannya. Masalah kompleks muncul dipermukaan itu bisa diselesaikan dengan tajdid (pembaruan).
“Tajdid yang mampu mengubah kita untuk menemukan solusi dari segala macam kerumitan itu,” jelas Irwan, Rabu (15/7) saat membuka Stadium General Sekolah Ideologi Muhammadiyah Tahun 2026 di Aula Masjid Islamic Center UAD.
Bersamaan dengan itu, munculnya kabut post-truth, di mana kebohongan dikemas menyerupai kebenaran. Batas antara yang hak dan yang batil dikemas begitu samar di media sosial.
“Sekarang ini banyak informasi-informasi yang tidak jelas, yang abu-abu, tetapi karena sering muncul walaupun tidak benar, akhirnya menjadi kita anggap itu sebagai sebuah kebenaran,” bebernya.
Di sinilah pentingnya kemampuan para kader Muhammadiyah untuk beradaptasi dengan arus informasi dan pelbagai perubahan yang terjadi di lapangan kehidupan.
“Sehingga apa yang kita peroleh tidak lalu membenarkan informasi-informasi yang kemudian bisa membawa mempengaruhi kehidupan dalam perjalanan kita,” tutur Irwan.
Selain itu, juga harus memberikan jawaban-jawaban atas problem kemanusiaan. Irwan mengingatkan, persoalan kemanusiaan hari ini tidak ringan. Banyak hal yang membutuhkan jawaban-jawaban secara konstruktif dari kader Muhammadiyah itu sendiri.
“Di sinilah pentingnya kemudian kita hadir bagaimana memberikan solusi, bagaimana memberikan jawaban terhadap problema sosial yang ada,” pungkas Irwan. (Cris)

