Kampus Mau Mencetak Pekerja atau Mendidik Manusia yang Mampu Berpikir?

Suara Muhammadiyah

21 September 2026

136
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kampus Mau Mencetak Pekerja atau Mendidik Manusia yang Mampu Berpikir?

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Belakangan ini muncul kecenderungan yang semakin kuat di dunia pendidikan tinggi, program studi didorong untuk menjelaskan secara gamblang kepada calon mahasiswa, “Kalau masuk ke sini, nanti Anda akan menjadi apa?” Pertanyaan ini wajar dan bahkan penting. Mahasiswa dan orang tua memang berhak mengetahui prospek pendidikan yang akan ditempuh. Perguruan tinggi juga tidak boleh bersembunyi di balik jargon akademik sambil mengabaikan kenyataan bahwa lulusannya harus hidup, bekerja, berusaha, berbisnis dan berkontribusi di tengah masyarakat. Namun persoalan menjadi serius ketika pertanyaan “akan menjadi profesi apa?” mulai menggantikan pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu “akan menjadi manusia dengan kemampuan seperti apa?”

Perbedaan antara dua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan seluruh arah pendidikan. Profesi berada di bagian hilir. Sebelum seseorang menjadi dokter, insinyur, akuntan, pengusaha, analis, programmer, teknisi, manajer, content creator atau profesi lainnya, ia terlebih dahulu harus memiliki kemampuan memahami persoalan, menggunakan pengetahuan, menilai informasi, membedakan fakta dari asumsi, menemukan hubungan sebab-akibat, mempertimbangkan alternatif, mengambil keputusan, dan memperbaiki keputusan ketika terbukti keliru, di saat informasi semakin mudah dan semakin banyak. Seluruh proses itulah yang membentuk apa yang kita sebut sebagai kemampuan berpikir.

Kemampuan berpikir tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai salah satu “soft skill” tambahan di samping kompetensi teknis. Kemampuan berpikir justru merupakan fondasi yang membuat pengetahuan dan keterampilan dapat digunakan secara benar. Orang dapat mengetahui banyak hal, tetapi tanpa kemampuan berpikir ia hanya mengumpulkan informasi. Orang dapat sangat terampil menggunakan suatu perangkat, tetapi tanpa kemampuan berpikir ia mudah kehilangan arah ketika perangkat, prosedur, atau situasinya berubah. Karena itu, kualitas pendidikan tidak cukup dinilai dari seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dipindahkan kepada mahasiswa atau seberapa banyak alat yang mampu mereka gunakan. Pendidikan harus dinilai dari kemampuan mahasiswa mengolah pengetahuan tersebut menjadi pemahaman, pertimbangan, keputusan, dan tindakan yang bertanggung jawab.

Di sinilah pendidikan tinggi berbeda dari sekadar pelatihan kerja. Pelatihan dapat mengajarkan seseorang menggunakan alat tertentu, sedangkan pendidikan harus membuat seseorang memahami persoalan apa yang dapat diselesaikan dengan alat tersebut, apa keterbatasannya, apa risikonya, dan kapan alat itu tidak lagi tepat digunakan. Pelatihan dapat mengajarkan prosedur, sedangkan pendidikan harus membuat seseorang mampu menilai apakah prosedur tersebut masih relevan ketika situasi berubah. Pendidikan yang hanya menghasilkan kepatuhan terhadap prosedur mungkin mampu mencetak pekerja yang efisien dalam kondisi stabil, tetapi belum tentu mampu menghasilkan manusia yang tangguh ketika berhadapan dengan persoalan baru.

Karena itu, anggapan bahwa pendidikan akademik adalah tempat berpikir sedangkan pendidikan vokasi cukup menghasilkan keterampilan juga merupakan kekeliruan. Seorang teknisi yang hanya mampu mengikuti standar prosedur belum mencapai bentuk tertinggi dari pendidikan vokasi. Nilai profesionalnya justru tampak ketika ia berhadapan dengan kerusakan yang tidak pernah dicontohkan sebelumnya, lalu mampu mendiagnosis masalah, menguji kemungkinan penyebab, membaca data, menentukan tindakan, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Pendidikan vokasi yang bermutu tidak hanya menghasilkan orang yang “bisa melakukan”, tetapi juga orang yang “mengerti mengapa melakukan” dan “mampu menentukan apa yang harus dilakukan ketika keadaan berubah.”

Hal yang sama berlaku pada pendidikan profesi. Seorang dokter tidak menjadi profesional hanya karena hafal panduan klinis. Seorang insinyur tidak menjadi profesional hanya karena mampu menjalankan perangkat lunak desain. Seorang akuntan tidak menjadi profesional hanya karena mampu mengoperasikan sistem keuangan. Profesionalitas tertinggi muncul ketika seseorang memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam situasi kompleks, ketika informasi tidak lengkap, ketika terdapat beberapa pilihan yang sama-sama mungkin, dan ketika setiap keputusan memiliki konsekuensi. Kemampuan semacam itu tidak lahir dari hafalan, melainkan dari penalaran, pengalaman, pertimbangan, tanggung jawab, dan kematangan berpikir.

Dalam dunia bisnis, kemampuan berpikir bahkan lebih terlihat lagi. Pengusaha tidak hidup dalam dunia yang penuh soal pilihan ganda. Ia berhadapan dengan ketidakpastian, perubahan pasar, keterbatasan sumber daya, perilaku konsumen, persaingan, risiko, dan kegagalan. Ia harus mampu membedakan kebutuhan nyata dari asumsi, membaca peluang, menguji gagasan, menilai konsekuensi, mengubah strategi, dan belajar dari kesalahan. Karena itu, kewirausahaan yang sesungguhnya bukan sekadar kemampuan membuat rencana bisnis, tetapi kemampuan berpikir dan bertindak secara cerdas di tengah ketidakpastian.

Masuknya kecerdasan buatan membuat persoalan ini jauh lebih mendesak. Banyak keterampilan teknis yang hari ini dianggap sangat berharga dapat berubah dalam waktu singkat. Sebagian pekerjaan menulis, menerjemahkan, membuat kode, menganalisis dokumen, menghasilkan desain awal, dan mencari informasi sudah mengalami transformasi karena AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya mengejar keterampilan yang dibutuhkan hari ini, karena sebagian keterampilan tersebut dapat berubah sebelum mahasiswa menyelesaikan studinya. Tantangan yang lebih penting adalah membangun kemampuan yang membuat lulusan mampu mempelajari keterampilan baru ketika teknologi lama tidak lagi relevan.

Di era AI, persoalannya bahkan bukan sekadar apakah seseorang mampu menggunakan AI. Yang jauh lebih penting adalah apakah ia mampu menilai hasil AI secara kritis. Apakah jawaban yang dihasilkan benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah terdapat bias? Apakah kesimpulannya masuk akal? Apakah ada risiko etik? Apakah manusia masih memahami dasar keputusan yang diambil? Seseorang yang hanya mampu membuat prompt dan menerima jawaban AI belum tentu memiliki kemampuan berpikir. Sebaliknya, seseorang yang mampu menggunakan AI, menguji hasilnya, membandingkan alternatif, memeriksa kelemahannya, lalu mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab menunjukkan kemampuan berpikir yang jauh lebih matang.

Karena itu, penggunaan AI di lembaga pendidikan tidak cukup diatur dengan pertanyaan sederhana apakah AI diperbolehkan atau dilarang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah AI digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir atau justru menggantikan proses berpikir mahasiswa. Jika mahasiswa hanya membuat prompt, menyalin jawaban, lalu mengumpulkannya, teknologi memang bekerja, tetapi mahasiswa belum tentu belajar. Sebaliknya, jika mahasiswa menggunakan AI untuk mencari alternatif, memeriksa argumen, membandingkan sumber, menemukan kelemahan, dan menyusun keputusan sendiri, AI dapat menjadi alat yang memperkuat kecerdasan manusia.

Implikasinya bagi program studi dan fakultas sangat besar. Kemampuan berpikir tidak cukup ditulis dalam visi, misi, atau capaian pembelajaran lulusan. Ia harus terlihat dalam cara kurikulum disusun, cara dosen mengajar, jenis tugas yang diberikan, bentuk asesmen, kegiatan penelitian, praktik lapangan, dan tugas akhir. Jika program studi mengaku ingin menghasilkan lulusan kritis dan kreatif, tetapi hampir seluruh proses pembelajarannya masih menempatkan mahasiswa sebagai penerima informasi, maka terdapat ketidaksesuaian antara tujuan dan praktik.

Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah sebuah program studi sungguh-sungguh mengembangkan kemampuan berpikir adalah dengan melihat bentuk ujiannya. Jika sebagian besar soal hanya meminta mahasiswa menyebutkan, mendefinisikan, menghafalkan, atau mengulang penjelasan dosen, maka pendidikan yang sesungguhnya berlangsung adalah pendidikan reproduksi informasi. Mahasiswa yang terbiasa hanya menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia akan kesulitan ketika dihadapkan pada persoalan nyata yang belum memiliki jawaban pasti.

Karena itu, mahasiswa harus lebih sering dihadapkan pada masalah baru, data yang tidak lengkap, sumber yang harus diverifikasi, alternatif yang harus dibandingkan, dan keputusan yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam situasi seperti itu, yang dinilai bukan hanya jawaban akhir, tetapi kualitas proses berpikir yang menghasilkan jawaban tersebut. Pendidikan harus mampu membedakan mahasiswa yang kebetulan memperoleh jawaban benar dari mahasiswa yang benar-benar memahami alasan mengapa jawabannya dapat dipertanggungjawabkan.

Perguruan tinggi juga perlu berhati-hati dengan istilah “siap kerja”. Siap kerja hari ini belum tentu berarti siap menghadapi perubahan pekerjaan besok. Pendidikan yang baik tidak cukup menghasilkan lulusan yang mampu memasuki pekerjaan pertama, tetapi juga lulusan yang mampu bertahan, berkembang, belajar kembali, berpindah peran, dan menciptakan nilai baru ketika lingkungan berubah. Dengan kata lain, pendidikan tidak cukup menghasilkan orang yang job ready, tetapi juga harus menghasilkan manusia yang thinking ready, learning ready, dan change ready.

Karena itu, pertanyaan “lulusan nanti menjadi apa?” tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya pertanyaan. Perguruan tinggi perlu menjelaskan profesi dan jalur karier secara jelas, tetapi penjelasan itu harus ditempatkan sebagai ruang aktualisasi kemampuan, bukan sebagai batas pendidikan. Program studi yang sehat bukan hanya menjanjikan satu pekerjaan tertentu, tetapi membangun seperangkat kemampuan yang memungkinkan lulusan masuk ke berbagai bidang, berkembang dalam profesinya, menciptakan usaha, melanjutkan studi, atau beradaptasi dengan pekerjaan yang bahkan hari ini belum ada.

Pada akhirnya, pendidikan tidak boleh hanya dibangun dari kebutuhan pasar kerja saat ini. Dunia kerja penting, industri penting, profesi penting, dan keterampilan teknis tetap penting. Namun semua itu berubah. Yang relatif lebih mendasar adalah kemampuan manusia untuk memahami perubahan, menilai informasi, belajar kembali, mengambil keputusan, bertindak secara etis, dan menciptakan solusi baru.

Karena itu, pertanyaan paling penting bagi setiap lembaga pendidikan bukan hanya, “Lulusan kami akan menjadi apa?” Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah, “Ketika profesi itu berubah, teknologi yang mereka kuasai menjadi usang, dan persoalan baru muncul tanpa buku petunjuk, apakah mereka masih mampu berpikir, belajar, mengambil keputusan, dan menciptakan jalan baru?”

Jika jawabannya ya, lembaga tersebut tidak hanya menghasilkan tenaga kerja. Lembaga tersebut benar-benar sedang mendidik manusia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Immawati IMM Makassar: Menyongsong Kepemimpinan Baru di Panggung Musycab Oleh: Nur Islamia Sam, Kad....

Suara Muhammadiyah

30 September 2025

Wawasan

Harmoni Tarik-Ulur Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen Uhamka Jakarta, Sekretaris P....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Wawasan

Indonesia, Muhammadiyah, dan Pasar Oleh: Saidun Derani Mukaddimah Tulisan Dr. Mukhaer Pakkana, Se....

Suara Muhammadiyah

7 November 2023

Wawasan

Bahaya Blame Culture: dalam perspektif Manajemen Modern dan Nilai-nilai Islam Oleh: dr. Alfan Erzi'....

Suara Muhammadiyah

11 August 2026

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Salah satu aspek ibadah haji ad....

Suara Muhammadiyah

31 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah