Kasus Impor Mobil dari India: Potret Pertarungan Mentalitas antara Industriawan dan Pedagang
Oleh: Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan
Semangat Presiden Prabowo untuk memajukan usaha dalam negeri sungguh luar biasa. Hal itu terlihat dalam pidatonya yang mengatakan, “Nanti kau pakai mobil, mobil buatan Indonesia. Kau naik motor, motor buatan Indonesia. Kau pakai jam, jam buatan Indonesia. Kau pakai sabun, sabun buatan Indonesia. Kau pakai parfum, parfum buatan Indonesia. Kau pakai sepatu, sepatu buatan Indonesia.” Bila hal itu benar-benar keluar dari hati nurani bapak Presiden maka berarti mentalitas yang dimiliki oleh Prabowo bukanlah mentaliti seorang pedagang tapi mentaliti seorang industriawan.
Ciri-ciri orang yang memiliki mentalitas industriawan adalah. Pertama, berorientasi jangka panjang karena cita-citanya tidak akan bisa dicapai dalam jangka pendek. Kedua, fokus kepada peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya, Yakni dengan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan efisiensi. Melalui investasi dalam bidang teknologi, inovasi dan sumberdaya manusia.
Sementara orang yang memiliki mentalitas pedagang cirinya. Pertama, lebih berorientasi jangka pendek. Kedua, lebih fokus ke arah menciptakan kecepatan perputaran barang untuk mendapatkan keuntungan secepatnya melalui proses jual-beli. Disinilah kita lihat perbedaan cara pandang Presiden Prabowo dengan Danantara atau PT Agrinas.
Sebagai contoh, untuk mendukung operasionalisasi koperasi desa merah putih yang digagas Presiden Prabowo dalam rangka membangkit dan memajukan ekonomi rakyat, PT Agrinas Pangan Nusantara bukannya berusaha untuk memajukan perusahaan mobil dalam negeri yang sudah ada, tetapi PT tersebut malah memilih untuk mengimpor mobil yang dibutuhkan dari India yang jumlahnya cukup besar yaitu 105.000 unit dengan alasan harganya lebih murah bahkan diklaim hanya berharga setengah dari harga dalam negeri.
Jadi yang dijadikan dasar oleh anak buah Presiden adalah harga bukan masalah kepentingan nasional yang lebih luas. Hal ini tentu jelas tidak mendukung program industrialisasi dan hilirisasi yang diusung oleh Presiden. Oleh karena itu jika hal-hal seperti ini tidak dibenahi secara cepat, maka citra Presiden jelas akan ambruk karena antara apa yang dia katakan dengan apa yang terjadi di lapangan tidak sejalan.
Kemudian yang menjadi pertanyaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? karena berbedanya mentaliti yang dimiliki Presiden dengan mentaliti para pembantunya. Dari pidato-pidatonya Presiden Prabowo tampak lebih menonjolkan mentalitasnya sebagai industriawan. Sementara para pembantunya lebih kental mentalitas pedagangnya.
Bagi pedagang untuk mendapatkan keuntungan tidak harus membuat sendiri barang yang dibutuhkan. Sebab jika bisa mendapatkannya dari orang atau negara lain dengan harga yang lebih murah mengapa tidak beli saja dari mereka.
Dalam hal ini kita tidak hendak mengatakan mentalitas pedagang itu jelek karena kita juga memerlukan mereka untuk menggerakkan sektor ekonomi. Tetapi kalau Indonesia yang sebesar ini dipimpin oleh orang yang memiliki mentalitas pedagang maka negeri ini tentu akan sulit untuk maju. Dampaknya, bisa jadi negara ini akan terseret ke dalam kerusuhan karena pemerintah tidak bisa menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya, karena harga dari barang-barang produksi luar negeri jauh lebih murah dari barang-barang produksi dalam negeri.
Bila ini yang terjadi maka tentu permintaan terhadap barang-barang produksi dalam negeri akan menurun dan hal tersebut sudah jelas akan mengancam perekonomian nasional. Sehingga akan banyak perusahaan dalam negeri melakukan PHK dan itu jelas sangat berbahaya bagi masa depan bangsa karena pasti akan mengundang terjadinya keresahan di tengah-tengah masyarakat.
Untuk menghindari hal tersebut bangsa ini perlu pemimpin tipe industriawan, karena ditangan merekalah usaha dalam negeri diharapkan akan bisa maju. Sehingga masyarakat bisa hidup dengan aman, tentram damai, dan sejahtera. Tapi pertanyaannya apakah benar Presiden Prabowo seorang pemimpin yang memiliki industrialist mentality? Mungkin waktulah yang akan menjawabnya.
