YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konsolidasi dan Pendalaman Materi Ketarjihan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sabtu (24/1), menjadi ruang dialogis yang sangat substansial. Lebih-lebih mencakup dua pokok tema, Fikih Zakat Kontemporer dan Kalender Hijriah Global Tunggal.
"Dua tema ini banyak yang baru. Barunya itu bukan sekadar kita melakukan pembaruan, tapi barunya itu kita menemukan ajaran Islam yang otentik," kata Hamim Ilyas, menggarisbawahi ajaran tersebut berkelindan dengan representasi dari Islam rahmatan lil 'alamin.
"Islam itu diwahyukan dan didakwahkan karena rahmat Allah dan untuk mewujudkan rahmat Allah untuk al-‘alamin,” jelas Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tersebut di Gedung Serbaguna Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Menukil pandangan Ar-Raghib al-Asfahani, kata rahmat sebagai bingkai dari perasaan halus, perasaan lembut. “Yang itu merupakan pantulan cinta kasih atau sayang, yang mendorong untuk memberikan kebaikan yang masuk akal kepada yang dikasihi,” ulas Hamim. Dengan penekanan dari Imam Al-Mawardi meniscayakan anugerah kepada pihak yang membutuhkan.
“Sehingga rahmat itu konsep untuk menyebut cinta, kasih, dan sayang dengan penekanan yang tertentu,” katanya. Permisalan dari kata cinta bisa disebut rahmat, kalau ekspresinya memenuhi kebutuhan yang dicintai. “Dan kita Insyaallah memiliki cinta yang disebut rahmat itu,” tuturnya.
Di sinilah letak elementer agama Islam. “Untuk mewujudkan rahmat Allah (untuk memenuhi kebutuhan al-‘alamin yang dicintai oleh Allah SwT),” imbuhnya. kebutuhan al-‘alamin, sambung Hamim, “keadaan baik,” ucapnya. Dalam konteks makhluk hidup, “Untuk hidup baik,” sambungnya. Dengan ciri khas Al-Qur’an disebut hayyah thayyibah (Qs an-Nahl ayat 97).
“Dalam ayat ini, kehidupan yang hayyah thayyibah diperoleh dengan amal saleh dan menjadi mukmin. Atau dengan kata lain dengan iman dan amal saleh,” tegasnya, yang untuk konteks iman dan amal saleh perolehannya akan mendapatkan tiga ukuran. “Sejahtera-sesejahtera-sejahteranya, damai-sedamai-damainya, bahagia-sebahagia-bahagianya,” tekannya.
Secara konseptual, ajaran Islam yang didakwahkan Muhammadiyah memiliki watak otentik karena selaras dengan ajaran Al-Qur’an, yakni Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). “Islam di Muhammadiyah itu agama yang fungsional. Agama yang memiliki nilai guna untuk mewujudkan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat,” tandas Hamim. (Cris)

