PADANG, Suara Muhammadiyah – Kota Padang bukan hanya tentang ombak Pantai Air Manis atau semilir angin di Bukit Gado-Gado. Di sela hiruk-pikuk kota yang terus melaju, ada luka yang tak terdengar. Luka itu menimpa mereka yang paling rapuh: istri yang diam dibentak, anak yang menahan tangis, lansia yang terlantar, dan disabilitas yang kehilangan akses keadilan. Ya, kekerasan terhadap kelompok rentan masih subur dalam senyap, seolah jadi rahasia kelam yang terus berulang.
Namun, Kamis (14/05) siang itu, di tengah dinginnya ruang Convention Hall Ahmad Syafii Maarif UM Sumbar, suara lantang mulai memecah kebisuan. Seratus sembilan tahun usia ‘Aisyiyah, tak lagi cukup hanya dengan doa dan seremonial.
Milad ke-109 kali ini diisi dengan gebrakan nyata: sebuah seminar yang mengusung tajuk berat, "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan melalui Penegakan Hukum Berkeadilan dan Perlindungan Hukum bagi Kelompok Rentan untuk Mewujudkan Perdamaian."
Tepat pukul 09.00 WIB, aula megah itu mulai dipenuhi sekitar 200 peserta. Mereka adalah kader-kader ‘Aisyiyah se-Sumbar, dari pengurus wilayah hingga puteri-puteri muda yang matanya berbinar. Bukan sekadar arisan, bukan pula sekadar silaturahmi. Ini adalah panggung untuk merancang perlawanan.
Ketua PWA Sumbar, Dr. Syuraini, berdiri di depan. Suaranya tak sekadar lantang, tapi menusuk kesadaran.
“Dakwah tak cukup hanya dengan lisan. Harus aksi nyata!” serunya, disambut hening yang penuh makna. “Ini adalah refleksi. ‘Aisyiyah harus hadir sebagai Rahmatan Lil Alamin. Kami tak bisa sendiri. Kami harus menggerakkan masyarakat, tanpa diskriminasi.”
Lalu, giliran panitia, Dr. Rahima Zakia, M.Pd., membuka lembar demi lembar fakta yang memilukan. Ia mengungkap temuan di lapangan: KDRT terhadap istri dan anak masih marak, kekerasan seksual di ruang publik tak kunjung reda, bahkan lansia dan penyandang disabilitas kerap ditelantarkan begitu saja oleh keluarganya sendiri.
Ironisnya, ketika korban ingin mencari keadilan, jalan terjal menghadang. Minim bantuan hukum gratis, apalagi fasilitas ramah disabilitas. “Keadilan seakan hanya milik mereka yang kuat,” ucapnya, menggetarkan ruangan.
Suasana makin hangat ketika Anggota DPD RI, Buya Jelita Donal, naik ke podium. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. “‘Aisyiyah Sumbar luar biasa. Progresif, cepat, dan penuh semangat,” pujinya.
Lalu, dengan mata berbinar, Buya Jelita mengutip Al Maidah ayat 32. Suaranya terdengar khidmat:
“Barangsiapa yang membunuh satu jiwa, bukan karena jiwa yang lain, atau karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Ruangan itu bergetar. Tepuk tangan pecah saat Buya Jelita berjanji bakal bersilaturahim ke seluruh PCA di Sumbar. “Insyaallah,” ucapnya singkat, namun bergema.
Namun seminar ini bukan hanya euforia. Ada tiga target konkret yang digarisbawahi: pertama, membangun kolaborasi antara hukum dan nilai kemanusiaan. Kedua, merumuskan strategi perlindungan hukum yang benar-benar berpihak. Ketiga, memperkokoh dakwah sebagai mesin perdamaian.
Untuk membedah semua itu, hadirlah dua narasumber pengguncang akal: Prof. Dr. Ikhwan Matondang, M.Ag dari UIN Imam Bonjol Padang, dan Dra. Burnalis, MA, Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Agama Padang. Mereka mengupas tuntas bagaimana seharusnya hukum menjadi tameng bagi yang lemah, bukan justru menjadi pisau bagi yang tertindas.
Di akhir acara, Dr. Rahima Zakia mengucapkan terima kasih. Ia secara khusus menyebut nama Buya Jelita Donal yang memberi dukungan dana penuh, juga Direktur Universitas Muhammadiyah Sumbar yang memfasilitasi gedung megah dan sejuk itu. “Semoga kita semua bisa mengikuti rangkaian ini dari awal sampai akhir,” tutupnya.
Lalu, pertanyaannya kini menggantung di udara: Akankah setelah seminar ini, Padang—dan Sumbar pada umumnya—benar-benar menjadi rumah yang aman bagi yang lemah? Atau hanya akan jadi cerita lain yang terlupakan? Hanya waktu dan aksi nyata yang bisa menjawab. Satu hal pasti: ‘Aisyiyah tak akan diam lagi. (RI)

