Kesalehan Pasca Tasyrik

Publish

3 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
60
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kesalehan Pasca Tasyrik

Oleh: Muhammad Zakki, S.Kom, Ketua Majlis Zakat, infaq dan Shodaqoh PCM Tersono

Hari-hari Tasyrik menandai berakhirnya rangkaian ibadah Iduladha yang sarat dengan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Pada momentum tersebut, umat Islam merayakan nikmat Allah dengan memperbanyak takbir, zikir, serta berbagi melalui ibadah kurban. Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah semangat pengorbanan dan kepedulian itu berhenti seiring berakhirnya Hari Tasyrik? Ataukah justru menjadi titik awal lahirnya kesalehan yang terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari?

Kesalehan sejati tidak diukur dari intensitas ibadah pada momen-momen tertentu semata, melainkan dari kemampuan seseorang menjaga nilai-nilai ibadah itu menjadi karakter yang melekat dalam dirinya. Karena itu, pasca-Tasyrik merupakan saat yang tepat untuk melakukan refleksi: bagaimana mengubah momentum ibadah tahunan menjadi ketaatan yang berkelanjutan?

Ibadah kurban mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah menuntut kesediaan untuk mengorbankan ego, kepentingan pribadi, dan kecenderungan duniawi. Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya kisah pengorbanan sesaat, tetapi pelajaran tentang konsistensi dalam menjalani perintah Allah.

Nilai tersebut semestinya tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban. Semangat berkorban perlu diwujudkan dalam bentuk disiplin menjalankan ibadah, kejujuran dalam pekerjaan, amanah dalam tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, ibadah tahunan tidak hanya menjadi peristiwa seremonial, tetapi menjadi proses pembentukan karakter yang terus hidup sepanjang tahun.

Kesalehan pasca-Tasyrik adalah kemampuan menghadirkan ruh pengorbanan dalam setiap aspek kehidupan. Ketika seseorang tetap menjaga integritas, menahan diri dari perilaku tercela, dan konsisten berbuat baik setelah suasana hari raya berlalu, maka nilai ibadah telah bertransformasi menjadi karakter.

Aksi Sosial yang Berkelanjutan

Salah satu pesan terkuat dari Iduladha adalah kepedulian sosial. Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat sebagai simbol pemerataan kebahagiaan dan solidaritas kemanusiaan. Namun, kebutuhan masyarakat tidak hanya hadir pada hari raya.

Karena itu, semangat berbagi perlu diterjemahkan menjadi aksi sosial yang berkelanjutan. Bantuan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, pemberdayaan ekonomi keluarga rentan, pendampingan kesehatan masyarakat, hingga kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk nyata dari keberlanjutan nilai kurban.

Masyarakat membutuhkan gerakan sosial yang tidak bersifat sesaat, melainkan hadir secara konsisten dan memberikan dampak jangka panjang. Di sinilah makna kesalehan sosial menemukan relevansinya. Seorang Muslim tidak hanya hadir ketika momentum keagamaan tiba, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat setiap hari.

Kesalehan pasca-Tasyrik menuntut keberanian untuk mengubah semangat berbagi dari aktivitas musiman menjadi budaya kehidupan.

Nilai lain yang sangat penting dalam ibadah kurban adalah keikhlasan. Allah tidak membutuhkan daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan yang melandasi pelaksanaannya. Oleh karena itu, ukuran utama amal bukanlah besarnya aksi, melainkan ketulusan niat yang menyertainya.

Dalam kehidupan sosial modern, ketulusan sering menghadapi berbagai tantangan. Keinginan mendapatkan pengakuan, popularitas, atau pencitraan dapat mengaburkan kemurnian niat. Karena itu, kesalehan pasca-Tasyrik mengajak setiap Muslim untuk terus menjaga keikhlasan dalam beramal.

Ketulusan bukan berarti pasif dan diam, melainkan terus berjuang melakukan kebaikan tanpa menggantungkan diri pada pujian manusia. Orang yang tulus tetap bekerja untuk kemaslahatan, meskipun tidak selalu terlihat dan tidak selalu mendapatkan apresiasi.

Keikhlasan yang terus berjuang akan melahirkan daya tahan moral. Ia menjadikan seseorang tetap berbuat baik dalam keadaan lapang maupun sempit, saat mendapat dukungan maupun ketika menghadapi berbagai tantangan.

Kebaikan Lintas Batas

Spirit Iduladha juga mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal sekat-sekat sempit. Kurban adalah simbol kepedulian yang menjangkau siapa saja yang membutuhkan. Karena itu, kesalehan pasca-Tasyrik hendaknya diwujudkan dalam semangat kebaikan yang melintasi berbagai batas sosial, ekonomi, budaya, bahkan organisasi.

Bagi warga Muhammadiyah, semangat berkhidmat tentu berakar pada nilai-nilai persyarikatan. Namun, manfaat dari gerakan tersebut tidak boleh berhenti hanya di lingkungan internal Muhammadiyah. Amal usaha, kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan berbagai program pemberdayaan harus terus menghadirkan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang mereka.

Kebaikan yang inklusif merupakan wujud nyata dari Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ketika pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan, maka nilai-nilai Islam tampil sebagai solusi universal yang mempersatukan, bukan membatasi.

Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kebaikan lintas batas menjadi kebutuhan sekaligus panggilan moral. Kesalehan tidak diukur dari seberapa dekat seseorang dengan kelompoknya sendiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Hari-hari Tasyrik boleh berakhir, tetapi pesan spiritual yang dikandungnya tidak boleh padam. Pengorbanan harus melahirkan karakter, berbagi harus menjadi budaya, keikhlasan harus terus diperjuangkan, dan kebaikan harus menjangkau siapa pun tanpa batas.

Kesalehan pasca-Tasyrik adalah kesediaan untuk menjaga api ketakwaan tetap menyala setelah gema takbir mereda. Ia hadir dalam bentuk ketaatan yang konsisten, kepedulian sosial yang berkelanjutan, serta komitmen menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, keberhasilan Iduladha tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kita melaksanakan ritualnya, tetapi juga oleh sejauh mana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu mengubah cara kita hidup, bekerja, melayani, dan berkontribusi bagi kemanusiaan. Dari situlah lahir kesalehan yang tidak berhenti pada momentum, melainkan terus tumbuh menjadi jalan hidup yang berkelanjutan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Inkuisisi Ibnu Hanbali (Bagian ke-2) Oleh: Donny Syofyan Konsekuensinya pada abad ke-9 pemberontak....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Wawasan

Oleh Bahrus Surur-IyunkKetua Pimda 225 Tapak Suci Sumenep Madura  Hari itu, datang surat berbe....

Suara Muhammadiyah

21 August 2024

Wawasan

Mendobrak Senyap: Kisah Syawalan di Karossa Oleh: Furqan Mawardi/Ketua Lembaga Pengembangan Ca....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (27) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Wawasan

 Meninggalkan Kebaikan Wujud Cinta pada Persyarikatan Oleh: Amalia Irfani Jika menelusuri sa....

Suara Muhammadiyah

6 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah