Ketika Semua Sudah Ber-"Muhammadiyah"

Suara Muhammadiyah

15 September 2026

33
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Ketika Semua Sudah Ber-"Muhammadiyah"

Oleh: Didit Nurcahya*

Bagaimana jika suatu hari Muhammadiyah berhasil mencapai sebagian besar cita-cita yang selama ini diperjuangkannya, lalu masyarakat tidak lagi membutuhkan Muhammadiyah seperti sekarang?

Pertanyaan ini mungkin terdengar ganjil. Bukankah sebuah gerakan justru ingin menjadi semakin besar, semakin kuat dan semakin diperlukan? Bukankah semakin banyak sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, dan amal usaha berarti semakin besar pula manfaat yang diberikan oleh Muhammadiyah?

Saya tidak sedang meramalkan Muhammadiyah berakhir. Sebaliknya, saya mengajak kita memikirkan kembali apa ukuran keberhasilan sebuah gerakan. Ada satu bentuk keberhasilan yang sering kali luput dari pembicaraan kita. Yakni ketika masyarakat tidak melulu bergantung pada Muhammadiyah untuk merampungkan problem sosial mereka.

Di situlah letak paradoks artikel tulisan ini. “Tidak lagi membutuhkan Muhammadiyah” bukan berarti Muhammadiyah kehilangan relevansi. Maksudnya adalah menurunnya ketergantungan masyarakat terhadap Muhammadiyah sebagai agen tunggal penyelesai masalah. Jika nilai-nilai kebaikan yang diusung Muhammadiyah sudah mendarah daging dalam keseharian masyarakat luas, bukankah itu puncak keberhasilan sesungguhnya?

Untuk memahami hal itu, mari mundur sejenak. Muhammadiyah lahir tahun 1912 saat KH Ahmad Dahlan membenturkan dirinya pada karut-marut zaman. Pendidikan membutuhkan napas baru. Kemiskinan sosial butuh uluran tangan. Pemahaman agama butuh keberanian untuk dibongkar ulang.

Ahmad Dahlan tidak mendirikan organisasi sekadar agar namanya tercatat dalam sejarah. Beliau membaca kenyataan, merasakan kegelisahan yang mendalam, lalu bergerak nyata. Pelajaran besarnya ialah Muhammadiyah lahir bukan karena ada hasrat mendirikan ormas, melainkan karena kehidupan saat itu menagih jawaban.

Kini, lebih dari seratus tahun berlalu. Muhammadiyah membesar tak terbayangkan. Berbagai penggalangan kebaikan dan amal usaha berdiri di mana-mana, menebar manfaat konkret. Tentu, kebesaran itu patut disyukuri. Namun, setiap kebesaran memiliki tantangan. Semakin raksasa sebuah gerakan, semakin banyak pula hal yang perlu dijaga. Di titik ini kita mungkin perlu bertanya, “Jangan-jangan keasyikan merawat yang sudah ada membuat kita lupa untuk memikirkan hal-hal yang belum ada?

Pertanyaan itu makin menampar saya secara personal saat belajar di Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM Yogyakarta. DI forum tersebut, saya belajar tentang Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM), Risalah Islam Berkemajuan (RIB), Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), serta Manhaj Tarjih. Anehnya, semakin dalam belajar, semakin saya merasa belum paham sepenuhnya. Pertanyaan justru makin bertambah.

Saya mulai menyadari bahwa Muhammadiyah bukan sekadar nama, lambang, struktur, atau deretan amal usaha. Di nadinya mengalir pandangan hidup dan tradisi berpikir. MADM menarik kita kembali ke dasar-dasar keberadaan organisasi. MKCH berbicara soal keyakinan dan cita-cita hidup. Manhaj Tarjih memaksa kita melek ilmu dan dalil tanpa membutakan diri dari realitas. RIB menuntut kita hadir sebagai kekuatan yang mampu meningkatkan kualitas peradaban, sementara PHIWM mengunci itu semua dalam laku tindakan keseharian.

Dari sana saya menyadari satu hal, yakni yang perlu diwariskan sebetulnya bukan hanya hasil perjuangan fisik, melainkan cara berpikir yang membuat api perjuangan itu tetap hidup dan berkelanjutan. Realitas ini menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan. Murid-murid di sekolah Muhammadiyah hari ini hidup di dunia yang sudah berbeda. Mereka bertumbuh bersama kecerdasan buatan, ledakan informasi, media sosial, pergeseran dunia kerja, serta dilema etika yang mungkin belum pernah kita bayangkan.

Bagi mereka, sekadar disodorkan jawaban tidak lagi memadai. Mereka membutuhkan kemampuan membedakan mana informasi belaka dan mana ilmu, mana kemajuan teknologi dan mana kebijaksanaan, mana kebebasan dan mana tanggung jawab. Pendidikan Muhammadiyah tidak cukup hanya membuat murid mengenal Muhammadiyah. Lebih penting lagi, pendidikan harus membekali mereka kemampuan untuk membawa nilai-nilai Muhammadiyah ke ruang-ruang baru, ke mana pun mereka melangkah pergi.

Logika yang sama berlaku untuk perkaderan. Kita tidak perlu memaksa menciptakan kader masa depan dengan menyalin utuh pola kader hari ini. Biarkan mereka bereksperimen dengan metode dakwah yang beragam, memakai teknologi yang berbeda, bahkan menemukan bentuk gerakan yang berbeda. Satu hal yang pantang hilang adalah kompasnya. Iman, ilmu, akhlak, tajdid, dan kepedulian terhadap kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi dasar. Wujud fisik boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh kehilangan kiblatnya. 

Sebab itu, sebelum bertanya apakah generasi mendatang bisa menjaga Muhammadiyah, mungkin kita perlu mengecek diri sendiri, apa sebenarnya yang sedang kita ajarkan kepada mereka? Apakah kita sedang mewariskan sebuah organisasi yang kaku untuk dipertahankan, atau nilai luhur yang harus dihayati dan dipraktikkan? Apakah kita meminta mereka sekadar mengulang masa lalu, atau memberi mereka keberanian untuk menjawab masalah yang belum pernah kita hadapi?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin membuat tidak nyaman. Tetapi barangkali justru dari rasa tidak nyaman itu, tajdid terus menemukan cara meretas kebuntuan. Muhammadiyah di masa depan tidak harus punya wajah yang sama persis seperti hari ini. Cara belajar boleh berubah. Cara berdakwah boleh berevolusi. Teknologi boleh berganti. Bentuk amal usaha boleh menemukan model baru. Namun yang terpenting, ruh gerakannya tidak boleh berubah menjadi sekadar kenangan sejarah.

Kelak jika masyarakat semakin cerdas, mandiri, lebih peduli pada sesama, dan bisa menebar kebaikan tanpa melulu bergantung pada Muhammadiyah, kita tidak perlu takut. Justru di titik itulah muara terjauh dari perjuangan Muhammadiyah sedang menampakkan wujudnya. Sebab gerakan besar tak sekadar sibuk membuat dirinya terus dibutuhkan. Gerakan besar adalah gerakan yang sukses mengubah nilai-nilai yang diperjuangkan menjadi lebih luas dan hidup berdenyut di urat nadi banyak orang.

Maka, pertanyaan tentang masa depan Muhammadiyah pada akhirnya bukan lagi, “Apakah Muhammadiyah akan tetap ada?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah nilai-nilai Muhammadiyah masih akan hidup ketika zaman terus berubah?”

Barangkali itulah pekerjaan rumah kita hari ini. Bukan hanya untuk menjaga Muhammadiyah tetap berdiri, melainkan memastikan generasi mendatang memiliki iman yang cukup untuk bertekad, ilmu yang cukup untuk merenung, akhlak yang tangguh untuk bertindak, dan keberanian yang mumpuni untuk melakukan tajdid.

Karena mungkin suatu hari nanti, ketika masyarakat sudah tidak lagi terlalu bergantung kepada Muhammadiyah, di saat itulah kita justru melihat bahwa Muhammadiyah telah menganugerahkan sesuatu yang jauh lebih raksasa dari pada dirinya sendiri.

*Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) Angkatan 2 PWM D.I.Y


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

From DM To Doorstep; Guru-Murid Fitri Journey 1447 H Penulis: Dr. Hasbullah, MPdI, Dosen Universita....

Suara Muhammadiyah

25 March 2026

Wawasan

Menunggu Sikap TNI dalam Absurditas Politik Oleh: Sobirin Malian, Dosen Fakultas Hukum Universitas ....

Suara Muhammadiyah

31 August 2024

Wawasan

Guru di antara Pembentukan Karakter dan Jerat Hukum Oleh: Jabarullah, S.Sos, Ketua PDM Kota Pekanba....

Suara Muhammadiyah

16 October 2025

Wawasan

Bangunan Figuratif Muhammadiyah dalam Cahaya Al-Qur’an: Meneguhkan Amal di Atas Fondasi T....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Wawasan

Oleh: Mohammad Fakhrudin Sudah diuraikan di dalam “Anak Saleh” (AS) 7 bahwa keteladanan....

Suara Muhammadiyah

12 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah