Keutamaan Bertaubat Kepada Allah SWT

Suara Muhammadiyah

20 July 2026

209
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Masjid Al Muttaqiin Tanjung Elok mendatangkan Ust.Dr.H.Mustolikh,M.Si untuk mengisi pengajian Ahad pagi bakda subuh pada tanggal 19 Juli 2026.Tema kajian kali ini adalah keutamaan bertaubat kepada Allah SWT. Kajian kali ini dihadiri jamah rutin masjid dan sebagian dari luar perumahan yang berjumlah sekitar 200an orang.

Dalam suasana penuh kekhusyukan, jamaah pengajian kembali diingatkan tentang pentingnya bertaubat sebagai jalan menuju ampunan Allah SWT. Taubat bukan sekadar ucapan, melainkan kesungguhan hati untuk meninggalkan dosa dan kembali kepada jalan yang diridhai-Nya. Dengan tema ini, jamaah pengajian diharapkan mampu menumbuhkan semangat jamaah untuk senantiasa memperbaiki diri, menjadikan taubat sebagai budaya hidup, dan menguatkan keyakinan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan manusia.

Disampaiakan oleh Ust.Mustolikh bahwqa manusia adalah makhluk yang fana, maksudnya bahwa manusia tidak kekal: hidupnya memiliki awal dan akhir, dan seluruh keberadaannya bergantung kepada Allaah SWT seperti tercantum dalam QS Ali Imran ayat 185 yang artinya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” . Selain itu Rasulullah SAW, bersabda: "Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya." (HR. Abdullah bin Umar).

Mengingat kematian dalam Islam, bukan untuk membuat seseorang berputus asa atau takut berlebihan, tetapi tujuannya adalah agar: (1) lebih sungguh-sungguh beribadah; (2) lebih mudah meninggalkan maksiat; (3) tidak terlena oleh kehidupan dunia; (4) lebih banyak berbuat amal shaleh; dan (5) lebih cepat bertaubat. 

Oleh karena sifatnya yang fana itulah, sifat manusia banyak melakukan kesalahan, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat."(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah). Bahkan Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allaah akan melenyapkan kalian, lalu mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allaah, lalu Allaah mengampuni mereka." (HR. Muslim).

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini bukan menganjurkan hamba-Nya berbuat dosa, maksudnya adalah: “Allaah mencintai hamba yang bertobat dan mengampuni dosa mereka. “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar” (QS. Thoha ayat 82.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa bertaubat menurut riwayat yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib RA, beliau mengucapkan “tsakilatka ummuk” (semoga ibumu kehilanganmu atau semoga ibumu berduka karena kehilanganmu), ini bukan doa agar seseorang benar-benar celaka, tetapi merupakan teguran keras. Karena mendengar seseorang hanya mengucapkan "astaghfirullah" tanpa memahami hakikat istighfar.

Ia menjelaskan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan "astaghfirullah", tetapi harus disertai dengan enam syarat (landasan/pondasi) istighfar yaitu :1) Menyesali dosa yang telah dilakukan dengan penyesalan yang tulus. 2) Bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa depan. 3) Mengembalikan hak-hak manusia yang pernah diambil atau dizalimi, sehingga ketika bertemu Allah tidak lagi membawa kezaliman terhadap orang lain. 4) Menunaikan semua kewajiban yang pernah ditinggalkan, seperti kewajiban kepada Allah yang belum dipenuhi. 5) Membiasakan diri dengan kesungguhan dalam ibadah dan taat, sebagai bentuk "menggantikan" kenikmatan maksiat dengan kesulitan berjuang di jalan Allah. 6) Merasakan pahitnya ketaatan sebagaimana dahulu merasakan nikmatnya kemaksiatan, sehingga tubuh yang pernah tumbuh dari hal yang haram "dibersihkan" dengan kesedihan, penyesalan, dan amal shaleh.  Disampaikan juga bahwa setelah hal tersebut barulah kemudian seseorang layak mengucapkan "astaghfirullah" dengan makna yang sebenarnya. Riwayat ini dikenal dalam literatur klasik, terutama dalam Nahj al-Balaghah.

Ust. Mustolikh juga menyampaikan dalam penutupnya bahwa salah satu keutamaan bertaubat kepada Allaah SWT disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 222 yang artinya “Sesungguhnya Allah menyukai/mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam tentang hubungan manusia dengan Allah. Maknanya dapat dipahami sebagai berikut 1) Allah mencintai orang-orang yang bertobat (at-tawwābīn). 2) Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri (al-mutathahhirīn). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam mengajarkan kebersihan lahir dan batin sama-sama penting.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Sekolah Das....

Suara Muhammadiyah

1 October 2024

Berita

MURUNG RAYA, Suara Muhammadiyah - Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Murung Raya beberapa waktu l....

Suara Muhammadiyah

22 April 2025

Berita

PADANG, Suara Muhammadiyah - Saat mendarat dan menginjakkan kaki di ranah Minang (22/09), Wakil....

Suara Muhammadiyah

23 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pi....

Suara Muhammadiyah

15 July 2024

Berita

BALIKPAPAN, Suara Muhammadiyah - Di tengah berbagai persoalan ketimpangan yang masih membayangi kehi....

Suara Muhammadiyah

6 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah