Manusia: Ruh, Jiwa dan Badan

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1386
Ilustrasi

Ilustrasi

Manusia: Ruh, Jiwa, dan Badan

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah 

Komposisi manusia dalam pandangan hidup Islam dipahami sebagai kesatuan ruh, jiwa (nafs), dan badan yang masing-masing memikul amanah dan kecenderungan tersendiri. Ruh mengandung daya ‘aqliyyah yang memungkinkannya menangkap kebenaran dan menerima cahaya ma‘rifat; jiwa rendah membawa dorongan hawa nafsu yang cenderung pada keakuan dan kelalaian; sedangkan badan menjadi alat penginderaan yang menghubungkan manusia dengan alam zahir.

Ketiganya bukan unsur yang berdiri sendiri, melainkan terhimpun dalam satu kesatuan fitrah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang memantulkan tanda-tanda semesta.

Manusia disebut sebagai ‘alam kecil (al-‘alam al-saghir), kerana dalam dirinya terhimpun isyarat dari dua alam: alam shahadah dan alam ghaib. Unsur-unsur jasmaninya—yang dalam khazanah klasik dikaitkan dengan lendir, darah, empedu, dan kemurungan hati—berkorespondensi dengan unsur air, tanah, udara, dan api.

Namun keterkaitan ini bukan sekadar penjelasan kosmologis, melainkan penegasan bahawa tubuh manusia terjalin dengan tatanan ciptaan. Pada saat yang sama, ruh dan nafs mengisyaratkan dimensi ukhrawi: ruh berkait dengan keridhaan Ilahi yang menjadi hakikat surga, sedangkan nafs yang liar menyerupai neraka, yakni keadaan keterjauhan dari rahmat-Nya.

Surga dan neraka dalam kerangka ini bukan hanya realitas eskatologis yang menanti di akhirat, tetapi juga memiliki pantulan eksistensial di dunia. Ruh orang beriman memantulkan ketenangan ilmu dan cahaya keyakinan; ia merasakan “surga” berupa kedamaian makrifat dan kedekatan kepada Allah.

Sebaliknya, nafs yang dibiarkan menguasai diri melahirkan kegelisahan, kekeliruan, dan tabir yang menghalangi hati dari Tuhan—suatu “neraka” batin yang menyiksa sebelum datangnya hari pembalasan.

Sebagaimana pada Hari Kebangkitan seorang mukmin dibersihkan dari neraka sebelum memasuki surga, demikian pula dalam kehidupan dunia ia mesti membebaskan diri dari kungkungan nafs sebelum mencapai iradah yang murni. Iradah yang sejati berakar pada ruh, bukan pada dorongan hawa.

Jalan pembebasan itu ditempuh dengan meniti Syari‘at, kerana hukum Ilahi bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan jalan tazkiyah yang menertibkan jiwa dan menguatkan ruh agar layak menerima limpahan ma‘rifat.

Maka, mengenal Allah di dunia, berpaling dari segala selain-Nya, dan istiqamah di atas jalan-Nya adalah bentuk jihad batin yang menentukan keadaan akhir manusia. Ruh yang dikuatkan oleh akal yang tunduk kepada wahyu akan menuntun pemiliknya menuju “surga” kedekatan, sementara nafs yang ditundukkan menjadi kendaraan, bukan penguasa.

Inilah perjuangan berterusan para pencari Tuhan: tidak mengendur dalam mujahadah melawan jiwa rendah, sehingga rahasia Ilahi yang bersemayam dalam rumah ruh dan akal dapat tersingkap dengan jernih.


Sumber: Al Hujwiri, Kasyful Mahjub: Buku Daras Tasawuf Tertua, Pernj: Suwarjo Muthary & Abdul Hadi WM, Mizan: 2015, hlm. 197


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Brand “MU” Harus Disikapi dengan Cerdas dan Bijak  Oleh Amidi, Dosen FEB Universit....

Suara Muhammadiyah

20 December 2023

Wawasan

Kemurahan Hati sebagai Strategi Promosi Digital Sekolah Oleh: Adi Kurnia, Sekretaris Majelis Dikdas....

Suara Muhammadiyah

2 December 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Pernahkah Anda berpikir apakah....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Wawasan

Agama Membodohi Umat atau Umat yang Merusak Agamanya? Oleh: Roehan Usman, Warga Muhammadiyah Gunung....

Suara Muhammadiyah

15 September 2025

Wawasan

Akuntabilitas Manajemen Koperasi Syariah Oleh: Pepi Januar Pelita, Dosen FKIP Universitas Muhammady....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah