Masjid sebagai Jantung Gerakan Muhammadiyah

Publish

24 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
70
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Masjid Sebagai Jantung Gerakan Muhammadiyah

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Bagi Muhammadiyah, masjid bukan sekadar tempat ibadah mahdhah melainkan telah menjadi jantung gerakan. Dari masjid, denyut dakwah berirama. Dari masjid, perubahan sosial dirancang. Sejak awal berdirinya pada 1912 oleh Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Muhammadiyah meletakkan masjid sebagai pusat pembaruan. 

Masjid bukan hanya tempat ritual, tetapi juga laboratorium tajdid atau ruang pembaruan pemahaman dan praktik keagamaan agar lebih sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam sejarahnya, gerakan ini tidak lahir dari ruang hampa. Geraka ini muncul di tengah kegelisahan atas praktik keagamaan yang bercampur dengan takhayul, bid’ah, khurafat dan stagnasi sosial. Maka, masjid menjadi titik awal pencerahan.

Tulisan ini hendak menelisik bagaimana masjid diposisikan sebagai pusat gerakan dakwah Muhammadiyah, yaitu secara teologis, historis, organisatoris, hingga tantangan kekinian. Tulisan ini akan mencoba membaca ulang peran masjid, bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi sebagai mesin transformasi sosial.

Dalam Islam, masjid memiliki fungsi yang jauh melampaui sekadar tempat shalat. Pada masa Nabi Muhammad di Madinah, masjid menjadi pusat pendidikan, pengadilan, musyawarah, bahkan strategi pertahanan. Masjid adalah pusat kehidupan publik. Model inilah yang menginspirasi Muhammadiyah.

Kyai Ahmad Dahlan memahami bahwa pembaruan tidak bisa dimulai dari pinggiran melainkan harus dimulai dari pusat kesadaran umat, dan pusat itu adalah masjid. Ketika beliau mengajarkan tafsir surat Al-Ma’un berulang-ulang, yang ditekankan bukan sekadar bacaan, tetapi implikasi sosialnya ialah bagaimana orang beriman tidak boleh mendustakan agama dengan mengabaikan anak yatim dan fakir miskin. Tafsir sosial Al-Ma’un itu tidak berhenti pada mimbar, melainkan harus menjelma menjadi gerakan pendidikan dan pelayanan sosial.

Di sini, masjid berfungsi sebagai ruang internalisasi nilai dan sekaligus ruang artikulasi aksi. Dakwah tidak berhenti pada retorika, tetapi dilanjutkan dengan program nyata. Dari masjid lahir sekolah, panti asuhan, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah. Dengan kata lain, masjid menjadi titik temu antara spiritualitas dan praksis sosial.

Salah satu karakter utama Muhammadiyah adalah tajdid atau pembaruan. Tajdid bukan berarti menciptakan agama baru, melainkan mengembalikan praktik beragama pada kemurnian ajaran. Dalam konteks masjid, tajdid berarti menjadikannya ruang ibadah yang bersih dari praktik-praktik yang tidak berdasar dalil yang kuat.

Gerakan ini sering kali dipersepsikan sebagai purifikasi semata. Namun, jika ditelaah lebih dalam, tajdid Muhammadiyah justru bersifat konstruktif. Masjid tidak hanya “dibersihkan” dari praktik yang dianggap menyimpang, tetapi juga “diisi” dengan kegiatan pendidikan, kajian ilmiah, dan diskusi intelektual.

Di sinilah letak keunikan masjid Muhammadiyah yang relatif steril dari simbol-simbol berlebihan, tetapi kaya dengan aktivitas pemikiran. Khutbah tidak sekadar normatif, melainkan kontekstual. Kajian tidak berhenti pada fiqh ibadah, tetapi juga menyentuh isu ekonomi, politik, pendidikan, dan kebangsaan.

Masjid menjadi ruang literasi keagamaan. Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya ustaz instan, masjid Muhammadiyah berupaya menghadirkan rujukan yang lebih sistematis dan berbasis manhaj tarjih. Hal ini adalah upaya menjaga kualitas dakwah agar tidak terjebak pada sensasi.

Secara organisatoris, masjid dalam Muhammadiyah bukan entitas yang berdiri sendiri. Masjid harus terhubung dengan struktur persyarikatan mulai dari ranting hingga pusat. Banyak pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) berawal dari masjid. Masjid menjadi basis kaderisasi.

Di tingkat akar rumput, Masjid Muhammadiyah sering menjadi tempat pembinaan anggota dan simpatisan. Dari pengajian rutin hingga pelatihan kepemimpinan, semua berakar di sana. Anak-anak diperkenalkan pada nilai Islam berkemajuan melalui TPA, remaja dibina dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah, mahasiswa dalam IMM, dan seterusnya. Masjid menjadi simpul yang menghubungkan berbagai ortom.

Kaderisasi berbasis masjid ini memiliki kekuatan sekaligus tantangan. Kekuatan utamanya adalah kedekatan dengan umat. Masjid menjadi ruang interaksi langsung antara pengurus dan jamaah. Namun, tantangannya adalah menjaga agar masjid tidak sekadar menjadi ruang seremonial atau rutinitas.

Jika masjid gagal menjadi ruang kaderisasi yang hidup, maka gerakan akan kehilangan basis regenerasi. Oleh karena itu, revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat kaderisasi menjadi kebutuhan mendesak. 

Salah satu ciri khas Muhammadiyah adalah dakwah bil hal atau dakwah melalui tindakan nyata. Masjid menjadi pusat koordinasi aksi sosial seperti penggalangan dana, distribusi bantuan, hingga penanganan bencana. Ketika terjadi bencana alam di berbagai daerah, jaringan masjid Muhammadiyah sering kali menjadi titik pengumpulan logistik. Dari sana, relawan bergerak. Semangat Al-Ma’un menemukan relevansinya.

Namun, di tengah meningkatnya profesionalisasi amal usaha Muhammadiyah seperti rumah sakit besar, universitas ternama, maka muncul pertanyaan kritis yaitu apakah masjid masih menjadi pusat gerakan, ataukah masjid mulai tergeser oleh institusi-institusi formal tersebut? Di satu sisi, profesionalisasi adalah keniscayaan. Di sisi lain, jika masjid kehilangan perannya sebagai pusat moral dan spiritual gerakan, maka gerakan berisiko menjadi terlalu administratif dan kehilangan ruh.

Masjid harus tetap menjadi sumber inspirasi etis bagi seluruh amal usaha. Tanpa itu, dakwah sosial bisa terjebak pada rutinitas birokratis. Dalam konteks kebangsaan, masjid memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan. Indonesia adalah negeri dengan keberagaman mazhab, ormas, dan preferensi politik. Masjid kerap menjadi arena kontestasi ideologi.

Muhammadiyah, sebagai organisasi yang mengusung Islam berkemajuan, memiliki tanggung jawab menjadikan masjid sebagai ruang inklusif dan mencerahkan. Masjid tidak boleh menjadi panggung ujaran kebencian atau politisasi sempit.

Namun realitasnya, tidak semua masjid bebas dari tarik-menarik kepentingan. Tantangan radikalisme dan politisasi agama tetap ada. Dalam situasi ini, masjid Muhammadiyah dituntut menjadi teladan yaitu menghadirkan dakwah yang rasional, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa. Konsep darul ahdi wa syahadah, bahwa Indonesia adalah negara hasil konsensus dan tempat umat Islam bersaksi melalui amal terbaik harus terus digaungkan dari mimbar-mimbar masjid. Dengan demikian, masjid menjadi penjaga komitmen kebangsaan. 

Kita hidup di era digital. Dakwah kini tidak hanya berlangsung di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual. Pertanyaannya ialah apakah masjid masih relevan sebagai pusat dakwah ketika ceramah bisa diakses melalui gawai? Jawabannya bukan soal relevan atau tidak, tetapi bagaimana masjid beradaptasi. Masjid harus menjadi pusat produksi konten dakwah yang berkualitas, bukan hanya untuk konsumen. Kajian di masjid dapat disiarkan secara daring, menjangkau audiens lebih luas.

Namun, yang tidak tergantikan dari masjid adalah interaksi langsung yaitu ukhuwah, diskusi, dan keteladanan nyata. Ruang virtual bisa menyampaikan pesan, tetapi tidak sepenuhnya membangun ikatan sosial. Muhammadiyah perlu mendorong transformasi digital masjid tanpa kehilangan ruhnya. Masjid harus menjadi pusat literasi digital umat, sekaligus benteng dari hoaks dan disinformasi keagamaan.

Sebagai gerakan besar dengan jaringan luas, Muhammadiyah tidak luput dari kritik. Ada masjid yang megah secara fisik, tetapi sepi aktivitas intelektual. Ada pula masjid yang hidup, tetapi kurang terintegrasi dengan gerakan persyarikatan. Fenomena ini perlu dibaca secara jujur. Jangan sampai masjid hanya menjadi simbol identitas Muhammadiyah tanpa fungsi strategis. Masjid yang hanya ramai saat shalat Jumat atau Ramadan belum cukup untuk disebut pusat gerakan.

Diperlukan revitalisasi manajemen masjid mulai dari perencanaan program, penguatan kapasitas takmir, sampai dengan sinergi dengan ortom. Masjid harus memiliki visi dakwah yang jelas, bukan sekadar menjalankan rutinitas. Jika kita menarik napas lebih panjang, peran masjid dalam Muhammadiyah sesungguhnya adalah membangun peradaban. Peradaban tidak lahir dari kekuasaan semata, tetapi dari kesadaran kolektif yang tumbuh di ruang-ruang pendidikan dan ibadah.

Masjid Muhammadiyah idealnya menjadi ruang pembentukan manusia unggul yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing. Ia bukan hanya ruang sujud, tetapi juga ruang berpikir. Masjid bukan hanya tempat doa, tetapi juga tempat merancang solusi bagi problem umat. Di tengah krisis moral, ketimpangan sosial, dan polarisasi politik, masjid dapat menjadi oase. Namun, itu hanya mungkin jika ia dikelola dengan visi tajdid dan keberanian berinovasi.

Masjid dan Muhammadiyah adalah dua entitas yang sulit dipisahkan. Masjid adalah jantung dan persyarikatan adalah tubuhnya. Jika jantung melemah, tubuh akan kehilangan energi. Ke depan, tantangan tidak semakin ringan. Globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial menuntut adaptasi. Namun, selama masjid tetap menjadi pusat nilai, kaderisasi, dan aksi sosial, Muhammadiyah akan tetap relevan. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah masjid penting bagi Muhammadiyah. Pertanyaannya adalah apakah kita telah menjadikan masjid sebagai pusat gerakan secara sungguh-sungguh? Di sanalah ujian sejati dakwah berkemajuan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Membebaskan Nalar dari Paradoks: Memahami Ulang Surah Al-A'raf 172 dan Perjanjian Primordial Kita O....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Wawasan

Tafsir Kontemporer: Ekoteologis dalam QS. Al Baqarah Ayat 30 Oleh: Amtsal Ajhar/Mahasiswa Universit....

Suara Muhammadiyah

15 April 2025

Wawasan

Oleh: Tri Aji Purbani, A.Md, BI Majelis Ekonomi Bisnis, Pariwisata dan Pengembangan UMKM Pimpinan D....

Suara Muhammadiyah

20 January 2024

Wawasan

Cahaya Iman dalam Syukur dan Sabar Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Seorang mukmin, dala....

Suara Muhammadiyah

15 February 2025

Wawasan

Batas Usia Kader IPM: Antara Biologis, Sosiologis, dan Ideologis Oleh: Rezza Fahlevi, Ketua Bidang ....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026