PACITAN, Suara Muhammadiyah — Penguatan kapasitas dan sinergi relawan menjadi fokus Silaturahmi Sambang Sambung MDMC Rayon 1 Jawa Timur di kawasan Pantai Pancer Door, Pacitan, Sabtu-Ahad (25-26/7). Kegiatan ini diikuti sekitar 65 relawan Muhammadiyah dari Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Nganjuk, serta Kabupaten dan Kota Madiun untuk mempererat ukhuwah sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi risiko bencana.
Kegiatan yang dikemas secara luar ruang tersebut turut dihadiri pengurus MDMC Wilayah Jawa Timur, di antaranya Edi Suwito, dr Burhanuddin bidang TDRR, dan Bambang SU bidang Mitigasi dan Kebencanaan.
Koordinator MDMC Rayon 1 Jawa Timur, Edi Suwito, menegaskan pentingnya membangun jejaring relawan yang mampu bekerja lintas wilayah. “Kita di Rayon 1 Jawa Timur, wilayah Madiun dan sekitarnya saling menguatkan dan bersinergi jika diperlukan dengan sesama relawan Muhammadiyah ataupun dengan pihak lain termasuk dengan BPBD, terutama dalam kegiatan-kegiatan mulai dari mitigasi bencana sampai rehabilitasi/rekonstruksi,” ujarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, menyampaikan bahwa koordinasi BPBD dengan MDMC dan Lazismu telah berlangsung pada tahap pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana.
“Tanpa ada MoU secara formal kami BPBD Kabupaten Pacitan selalu saling koordinasi dengan MDMC ataupun dengan Lazismu Pacitan,” kata Yagus. Ia juga menyebut dukungan MDMC dan Lazismu dalam rekonstruksi rumah yang rusak akibat gempa sekitar magnitudo 6,4 pada Februari 2026.
Materi komunikasi kebencanaan disampaikan Ketua Lazismu Daerah Pacitan, Agus Hadi Prabowo. Ia menilai komunikasi yang tepat menjadi bagian penting dalam penyelamatan, koordinasi bantuan, dan pemulihan masyarakat.
“Seluruh proses komunikasi mulai dari masa mitigasi/kesiapsiagaan adalah penyampaian pesan yang krusial untuk menyelamatkan jiwa, mengkoordinasikan bantuan, dan memulihkan kondisi sosial pada tahap darurat serta rehabilitasi,” jelasnya.
Agus juga menekankan pentingnya sinergi Lazismu dengan lembaga, badan, majelis, dan organisasi otonom Muhammadiyah melalui semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR).
Menurutnya, program Lazismu yang memiliki enam pilar utama disesuaikan dengan kondisi daerah, sementara pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya harus mengikuti ketentuan syariah dan regulasi.
Agenda berikutnya membahas penyamaan persepsi mengenai data dan informasi kebencanaan. Edi Suwito mendorong relawan mulai tertib menyusun Situation Report (Sitrep) sebagai dasar membangun data kebencanaan yang cepat dan akurat.
“Kita hendaknya mulai tertib menyusun Sitrep atau Situasi Laporan Bencana, sesuai ketentuan Pimpinan Pusat sebagai awal dari datin yang cepat dan akurat, ini yang sedang kita bangun bersama,” tegasnya.

