Memahami Perbedaan Manhaj, Membaca Peta Gerakan Islam di Indonesia

Suara Muhammadiyah

27 July 2026

162
Istimewa

Istimewa

Memahami Perbedaan Manhaj, Membaca Peta Gerakan Islam di Indonesia

Oleh: M. Saifudin, Pengasuh PPM Sangen

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman gerakan Islam yang sangat kaya. Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Majelis Tafsir Al-Qur'an (MTA), Jamaah Tabligh, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Salafi, Gerakan Tarbiyah, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, dan lainnya hingga berbagai tarekat tumbuh dari konteks sejarah dan tantangan zamannya masing-masing. Meski memiliki corak dakwah yang berbeda, seluruhnya lahir sebagai upaya menghadirkan ajaran Islam bagi umat dan bangsa. Karena itu, keragaman tersebut lebih tepat dipahami sebagai perbedaan manhaj, yakni, metode dalam memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Al-Qur'an dan Sunnah daripada sebagai pertentangan dalam agama.

Secara bahasa, manhaj berarti jalan yang terang atau metode. Allah Ta’ala. berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (QS. Al-Mā'idah [5]: 48).

Dalam kajian Islam, manhaj mencakup metode memahami Al-Qur'an dan Sunnah, cara berijtihad, sikap terhadap mazhab dan tradisi, serta strategi dakwah. Perbedaan manhaj merupakan keniscayaan dalam tradisi intelektual Islam selama tetap berada dalam koridor Al-Qur'an dan Sunnah. Di Indonesia, lahirnya berbagai gerakan Islam dipengaruhi dinamika umat, kolonialisme, modernisasi pendidikan, serta masuknya gagasan pembaruan Islam dari Timur Tengah. Karena itu, perbedaan antargerakan lebih mencerminkan perbedaan metode, prioritas, dan strategi perjuangan daripada perbedaan tujuan dasar ajaran Islam.

Dalam kajian akademik, gerakan Islam di Indonesia umumnya dipetakan ke dalam dua arus besar, yakni tradisionalis dan modernis, meskipun perkembangan berikutnya melahirkan beragam gerakan dakwah dengan orientasi yang lebih spesifik. Kelompok tradisionalis direpresentasikan terutama oleh Nahdlatul Ulama (1926), yang mempertahankan tradisi keilmuan pesantren, mazhab fikih, dan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan prinsip al-muḥāfaẓah 'alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).

Di sisi lain, arus modernis dipelopori Muhammadiyah (1912). Berikutnya ada Al-Irsyad Al-Islamiyyah (1914), dan Persatuan Islam/Persis (1923). Muhammadiyah mengembangkan manhaj tajdid dengan memadukan pemurnian akidah dan ibadah bersama pembaruan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Al-Irsyad menaruh perhatian pada reformasi pendidikan dan penguatan tauhid, sedangkan Persis dikenal melalui tradisi ilmiah, argumentasi berbasis Al-Qur'an dan Sunnah, serta semangat ijtihad.

Perkembangan selanjutnya melahirkan gerakan-gerakan dengan fokus yang lebih khusus, seperti Jamaah Tabligh (berdiri di India, 1926; berkembang di Indonesia sejak 1950-an) yang menitikberatkan pembinaan iman melalui khuruj; DDII (1967) yang memfokuskan kaderisasi dai dan dakwah nasional; MTA (1972) melalui kajian tafsir Al-Qur'an; Hidayatullah (1973) melalui pendidikan dan kaderisasi; Gerakan Salafi serta Gerakan Tarbiyah yang berkembang pesat sejak dekade 1980-an; serta Wahdah Islamiyah yang bermula sebagai Yayasan Fathul Mu'in (1988) dan menjadi organisasi kemasyarakatan pada 2002. Di samping itu, berbagai tarekat tetap berperan penting dalam pembinaan spiritual dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Persoalannya, tidak sedikit umat Islam yang mengenal nama organisasi, tetapi belum memahami manhajnya. Akibatnya, perbedaan strategi dakwah sering disalahpahami sebagai perbedaan akidah. Padahal, persoalan metodologi dan persoalan pokok-pokok keimanan berada pada wilayah yang berbeda. Rendahnya literasi tentang manhaj inilah yang kerap melahirkan prasangka, fanatisme kelompok, bahkan perdebatan yang tidak produktif.

Apabila dicermati lebih jauh, hampir seluruh gerakan Islam di Indonesia menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam, mengajak kepada tauhid, menegakkan amar makruf nahi mungkar, serta membina akhlak umat. Allah Ta’ala. berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Āli 'Imrān [3]: 104).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamjuga bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat." (HR. Bukhari, no.3461, Kitab Ahadits al-Anbiya')

Karena itu, yang membedakan antargerakan bukanlah tujuan akhirnya, melainkan manhaj dalam memahami nash, menyikapi mazhab dan tradisi lokal, menyusun strategi dakwah, melakukan kaderisasi, serta menentukan bidang garapan utama. Ada yang lebih menonjolkan pendidikan formal, ada yang berfokus pada pesantren, pengajian, kaderisasi, dakwah masyarakat, filantropi, pembinaan dai, pembinaan ruhani, maupun dakwah di ruang publik. Perbedaan tersebut menunjukkan pembagian peran yang saling melengkapi, bukan pertentangan tujuan.

Dalam konteks itu, Muhammadiyah menempati posisi yang khas melalui manhaj tarjih dan semangat tajdid. Tajdid dipahami bukan sekadar pemurnian akidah dan ibadah, tetapi juga pembaruan pemikiran dan pembangunan peradaban. Karena itu, dakwah Muhammadiyah diwujudkan melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, penanggulangan bencana, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan umat dan bangsa.

Memahami peta gerakan Islam di Indonesia adalah upaya membaca sejarah, metodologi, dan kontribusi masing-masing secara proporsional. Keragaman manhaj merupakan kekayaan khazanah pemikiran Islam yang telah memberi warna bagi perjalanan dakwah di Indonesia. Tugas umat Islam hari ini memperdalam literasi tentang manhaj agar mampu menghargai perbedaan metode tanpa kehilangan komitmen kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika setiap gerakan menjalankan peran terbaiknya dan saling bersinergi, keragaman manhaj tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi modal besar untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan dan Indonesia yang lebih baik.

Nashrun minallāhi wa fatḥun qarīb.

Disampaikan pada Sekolah Tabligh yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah melalui Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, 26 Juli 2026.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Selamat Hari Anak Sedunia: Apa Hak Anak Yang Harus Diberikan Orang Tua? Oleh: Nur Ngazizah, Dosen P....

Suara Muhammadiyah

21 November 2024

Wawasan

Mewujudkan Keikhlasan dalam BerMuhammadiyah Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Ti....

Suara Muhammadiyah

6 December 2025

Wawasan

Anak Saleh (13) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

17 October 2024

Wawasan

Mengagumi Keajaiban Al-Qur'an Melalui The Bible, The Quran and Science Oleh: Donny Syofyan, Do....

Suara Muhammadiyah

25 November 2024

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah, Ketua PDA Purworejo   "Qoryah Thayyibah, Cahaya dari Perempuan Berkemajua....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah