Membaca Target Perubahan Kepala Madrasah Muhammadiyah
Membaca Target Perubahan Kepala Madrasah Muhammadiyah
Oleh: Agus Sholeh
Salah satu kegiatan dalam Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah Jawa Tengah Angkatan 2 yang lalu adalah meminta para kepala madrasah untuk merumuskan target yang ingin dicapai dalam enam bulan ke depan agar madrasah yang mereka pimpin menjadi lebih aktif, kreatif, dan inovatif.
Setiap peserta diminta menjelaskan alasan kenapa mereka memilih target tersebut dan bagaimana cara mencapainya ?. Bahasa mudahnya, bagaimana mereka bisa menjadi unggul dan hebat ?.
Pertanyaan ini bukan sekadar latihan menyusun program kerja. Di baliknya terdapat upaya untuk membaca cara berpikir kepala madrasah dalam mengenali persoalan, menetapkan prioritas, dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata. Dari jawaban peserta, kita dapat melihat apa yang mereka anggap penting, perubahan seperti apa yang ingin mereka wujudkan, serta sejauh mana mereka mampu menghubungkan cita-cita dengan langkah pelaksanaan.
Berdasarkan pemeriksaan awal terhadap 129 respons yang terkumpul, terlihat beragam perhatian dan prioritas kepala madrasah. Target yang disampaikan mencakup peningkatan mutu akademik, literasi dan numerasi, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), prestasi siswa, kompetensi guru, pembentukan karakter dan budaya religius, peningkatan jumlah siswa, penguatan kepercayaan masyarakat, serta perbaikan sarana dan prasarana.
Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa para kepala madrasah berhadapan dengan kebutuhan yang tidak selalu sama. Madrasah yang menghadapi persoalan rendahnya hasil belajar tentu membutuhkan prioritas berbeda dari madrasah yang kekurangan ruang kelas atau mengalami penurunan jumlah siswa. Ada pula madrasah yang perlu membangun kembali kepercayaan masyarakat, meningkatkan kedisiplinan guru, atau memperbaiki suasana pembelajaran agar siswa lebih bersemangat datang ke sekolah.
Karena itu, tidak tepat apabila semua kepala madrasah dituntut memilih target yang seragam. Yang lebih penting adalah ketepatan mereka dalam mengenali kebutuhan, menentukan prioritas, dan memilih perubahan yang paling mendesak serta memungkinkan untuk diwujudkan. Kepemimpinan yang baik dimulai dari kemampuan membaca kenyataan, bukan semata-mata dari keinginan untuk terlihat hebat.
Menentukan Prioritas
Sejumlah jawaban menunjukkan hubungan yang cukup jelas antara persoalan dan target yang dipilih. Ada kepala madrasah yang ingin meningkatkan nilai TKA karena hasil sebelumnya masih rendah. Ada yang menargetkan peningkatan kemampuan membaca Al-Qur'an karena sebagian siswa belum lancar. Ada pula yang ingin menambah ruang kelas karena jumlah siswa meningkat. Jawaban seperti ini menunjukkan awal dari pola pikir berbasis masalah dan kebutuhan nyata.
Namun, kualitas target tidak hanya ditentukan oleh pentingnya persoalan yang ingin diselesaikan. Target juga perlu dirumuskan secara spesifik, memiliki indikator keberhasilan, dan realistis untuk dicapai dalam enam bulan. Keinginan agar prestasi siswa meningkat, misalnya, perlu diterjemahkan menjadi sasaran yang lebih jelas, yaitu kemampuan apa yang hendak ditingkatkan, berapa banyak siswa yang perlu mencapai kompetensi tertentu, program apa yang akan dilakukan, dan bagaimana kemajuannya diukur.
Demikian pula, target meningkatkan kompetensi guru perlu dijabarkan melalui kegiatan yang relevan dengan persoalan pembelajaran. Apakah guru akan memperbaiki metode mengajar, meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi, mengembangkan pembelajaran kolaboratif, atau lebih konsisten melakukan asesmen terhadap perkembangan siswa? Semakin jelas target dan indikatornya, semakin mudah kepala madrasah mengarahkan program sekaligus menilai hasilnya.
Dari 129 respons, hanya 32 peserta yang mengisi kolom cara mencapai target. Temuan ini menjadi salah satu catatan penting dalam evaluasi. Artinya, pada 97 respons lainnya, cara pencapaian target belum terdokumentasi dalam kolom yang disediakan. Angka tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa para peserta tidak mempunyai rencana. Bisa jadi sebagian memiliki gagasan, tetapi belum menuangkannya secara tertulis. Meskipun demikian, kesenjangan antara target dan langkah pencapaian ini perlu mendapat perhatian serius.
Temuan ini sekaligus mengingatkan kita bahwa pelatihan kepemimpinan tidak cukup berhenti pada kemampuan merumuskan cita-cita. Peserta juga perlu memperoleh latihan dan pendampingan yang memadai untuk menyusun langkah pelaksanaan, menetapkan indikator keberhasilan, serta mengantisipasi hambatan. Sebab, kemampuan merencanakan perubahan merupakan bagian penting dari kompetensi kepemimpinan itu sendiri.
Dalam kepemimpinan pendidikan, niat baik dan gagasan besar harus bertemu dengan kemampuan mengeksekusi. Kepala madrasah tidak cukup mengatakan ingin meningkatkan mutu pendidikan. Ia perlu menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, siapa yang bertanggung jawab, kapan program dimulai, sumber daya apa yang dibutuhkan, dan bagaimana hasilnya dievaluasi. Tanpa langkah yang jelas, target berisiko berhenti sebagai pernyataan keinginan.
Pengalaman Anak
Ada hal lain yang tidak kalah penting ketika kita membaca target para kepala madrasah, khususnya karena mayoritas peserta memimpin Madrasah Ibtidaiyah. Pada jenjang pendidikan dasar, keberhasilan madrasah tidak cukup diukur melalui nilai akademik, jumlah prestasi, atau kelengkapan sarana dan prasarana. Pengalaman anak selama berada di madrasah juga merupakan bagian penting dari mutu pendidikan.
Anak-anak membutuhkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, menyenangkan, dan penuh kehangatan. Mereka perlu merasa diterima, dihargai, didengarkan, serta memperoleh perhatian dari guru. Di sinilah hubungan emosional antara guru dan siswa memiliki arti yang sangat mendasar.
Dalam diskusi kita saat membahas tentang ritual guru bersalaman dengan anak-anak di pintu masuk madrasah, ternyata itu bukan semata-mata kebiasaan ketika anak-anak datang atau pulang sekolah. Di dalam kegiatan salaman ternyata terdapat makna membangun kedekatan, menunjukkan perhatian, dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
Saat guru bersalaman, dia akan tahu bagaimana wajah anak apakah dia sudah mandi atau belum ? Guru juga akan tahu apakah anak itu sudah sarapan, diantar oleh kedua orang tuanya atau sendiri saja, pakaiannya bersih atau dekil ? dan sejumlah temuan lainnya.
Sang siswa juga akan melihat wajah gurunya apakah dia cukup ramah pagi itu ?, Bagaimana senyumnya, manis atau kecut ? Dengan salaman ini anak-anak akan merekam dalam memorinya bagaimana dunia sekolahnya, guru-gurunya, dan lingkungannya. Ini semua akan membekas dalam pengalaman belajar mereka.
Tentu, kedekatan tersebut harus dibangun dengan tetap menghormati kenyamanan, keamanan, dan batas pribadi setiap anak. Kehangatan tidak boleh dipaksakan. Justru ketika anak merasa aman dan dihormati, maka hubungan positif antara guru dan siswa dapat berkembang secara sehat.
Guru adalah orang tua bagi anak selama berada di sekolah, bukan dalam arti menggantikan orang tua kandung, melainkan mengambil tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan selama anak berada dalam lingkungan madrasah. Peran ini menuntut guru untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga memahami kebutuhan perkembangan anak, mengenali kesulitan mereka, dan memberikan dukungan yang sesuai.
Ikatan emosional yang positif atau positive bonding dapat membantu anak merasa aman dan diterima. Perasaan tersebut merupakan salah satu fondasi penting bagi keterlibatan anak dalam pembelajaran. Anak yang merasa dihargai cenderung lebih berani bertanya, mengungkapkan pendapat, mencoba hal baru, dan belajar dari kesalahan. Sebaliknya, suasana yang menakutkan atau membuat anak tidak nyaman ini justru akan menghambat keberanian mereka untuk berkembang.
Karena itu, ketika kepala madrasah menetapkan target agar siswa lebih aktif, kita perlu bertanya lebih jauh, yaitu aktif dalam kegiatan apa ?, dan apakah lingkungan belajar sudah memberi ruang bagi mereka untuk berpartisipasi? Ketika targetnya meningkatkan kreativitas, apakah guru memberi kesempatan kepada anak untuk bertanya, bereksperimen, berdiskusi, dan menghasilkan karya? Ketika targetnya memperkuat karakter religius, apakah nilai-nilai agama hanya diajarkan melalui nasihat dan hafalan, atau benar-benar dihidupkan melalui keteladanan, kebiasaan, dan hubungan yang baik antara guru dengan siswa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar target perubahan tidak berhenti pada kegiatan formal. Madrasah yang aktif, kreatif, inovatif, dan hebat seharusnya menjadi tempat anak mengalami proses pendidikan yang bermakna. Anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga tumbuh dalam kepercayaan diri, tanggung jawab, akhlak, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama.
Pada titik ini, peran kepala madrasah menjadi sangat menentukan. Budaya pendidikan yang hangat dan berpihak pada perkembangan anak tidak akan terbentuk hanya dengan memasang slogan di dinding sekolah. Kepala madrasah perlu menjadi teladan dalam berinteraksi, membangun kebiasaan positif bersama guru, dan memastikan bahwa kebijakan serta kegiatan madrasah benar-benar mendukung kebutuhan siswa.
Perubahan tersebut juga tidak dapat dibebankan kepada kepala madrasah seorang diri. Guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, komite, persyarikatan, dan mitra perlu dilibatkan sesuai peran masing-masing. Kepala madrasah bertugas menggerakkan seluruh unsur tersebut agar memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan perubahan dan bersedia bekerja bersama untuk mencapainya.
Menjadi Perubahan
Diksuskamad Muhammadiyah yang sudah dilakukan oleh Majelis Didasmen PNF PP Muhammadiyah ini perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana aksi, baik untuk jangka pendek enam bulan atau jangka menengah selama satu tahun. Setiap kepala madrasah sebaiknya memilih satu target prioritas yang paling relevan dengan kebutuhan lembaganya, menetapkan indikator keberhasilan, menyusun tahapan kegiatan, menentukan penanggung jawab, serta menetapkan jadwal pemantauan dan evaluasi.
Rencana aksi tersebut tidak perlu selalu dimulai dengan program besar atau membutuhkan anggaran yang tinggi. Perubahan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak yang berarti. Kepala madrasah, misalnya, dapat memulai dengan membangun kebiasaan menyambut siswa setiap pagi, mengadakan pertemuan rutin untuk membahas perkembangan belajar anak, memperkuat budaya membaca, atau memberikan pendampingan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Apabila persoalan utama terletak pada sarana, jumlah siswa, atau mutu akademik, maka program yang dipilih tentu perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
Yang terpenting, setiap kegiatan harus mempunyai hubungan yang jelas dengan target yang hendak dicapai. Program tidak boleh hanya ramai pada awal pelaksanaan, tetapi kehilangan arah setelah beberapa minggu. Karena itu, kepala madrasah perlu membangun mekanisme evaluasi sederhana, misalnya melalui pemantauan bulanan, diskusi bersama guru, pencatatan perkembangan siswa, dan refleksi atas hambatan yang ditemukan.
Panitia Diksuskamad juga memiliki peran penting dalam memastikan kesinambungan proses tersebut. Pelatihan tidak semestinya berakhir ketika peserta meninggalkan tempat kegiatan. Panitia dapat meminta peserta menyempurnakan rencana aksi, mengadakan pemantauan berkala, memfasilitasi kelompok belajar antarkepala madrasah, serta menyediakan ruang untuk berbagi keberhasilan dan kesulitan. Pendampingan semacam ini akan membantu peserta memperbaiki strategi berdasarkan pengalaman nyata, bukan hanya berdasarkan teori yang diperoleh selama pelatihan.
Evaluasi enam bulan kemudian juga sebaiknya tidak hanya memeriksa apakah program telah dilaksanakan. Yang lebih penting adalah melihat apakah program tersebut menghasilkan perubahan. Apakah kemampuan membaca siswa meningkat? Apakah pembelajaran menjadi lebih menarik? Apakah guru semakin kompeten dan bertanggung jawab? Apakah interaksi guru dengan siswa menjadi lebih hangat dan mendukung? Apakah karakter dan budaya religius semakin kuat? Apakah masyarakat semakin percaya kepada madrasah?
Jawaban atas pertanyaan tersebut perlu didukung bukti yang relevan, baik berupa data hasil belajar, catatan perkembangan siswa, dokumentasi kegiatan, maupun umpan balik dari guru, orang tua, dan siswa. Dengan demikian, evaluasi tidak berubah menjadi kegiatan administratif semata, tetapi menjadi sarana belajar bagi kepala madrasah untuk memahami apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan apa yang harus diperbaiki.
Yang jelas, keberhasilan Diksuskamad tidak cukup diukur dari berapa jumlah peserta yang telah mengikuti kegiatan atau ketebalan dokumen yang mereka susun. Ukuran yang lebih bermakna adalah perubahan yang terjadi di madrasah masing-masing dan manfaatnya bagi perkembangan anak. Target enam bulan bukan sekadar tugas pendidikan khusus, melainkan komitmen kepemimpinan yang harus diterjemahkan menjadi tindakan dan dievaluasi hasilnya.
Karena itu Diksuskamad seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan akhir dari kegiatan pelatihan. Kepala madrasah yang hebat bukanlah kepala madrasah yang paling banyak menuliskan target, melainkan yang mampu membaca kebutuhan dengan tepat, memilih prioritas secara bijaksana, menggerakkan warga madrasah, melaksanakan rencana secara konsisten, dan belajar dari hasil evaluasi.
Moga-moga Diksuskamad Muhammadiyah bisa menghadirkan wajah-wajah baru Madrasah Muhammadiyah yang unggul dan membanggakan di mata umat dan anak bangsa. Dari 129 kepala madrasah Muhammadiyah, sebanyak 32 peserta sudah Menyusun target yang akan dicapai.Dan 97 lainnya juga akan menyusul meenentukan target.
Dari sinilah gagasan madrasah Muhammadiyah yang Bermutu, Berkemajuan dan Mendunia akan dapat menemukan makna yang lebih utuh. Kehebatan madrasah Muhammadiyah tidak hanya akan diraih dari deretan prestasi anak didik atau gedung kelas baru yang terus bertambah, tetapi juga dari kualitas pembelajaran, keteladanan guru, budaya religius yang hidup, serta kehangatan hubungan yang membuat anak merasa aman dan bersemangat untuk belajar.
Agus Sholeh, Anggota Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Fasilitator Diksuskamad Muhamadiyah 2026 tentang Membangun Mutu dan Kemandirian Madrasah Muhammadiyah