Membumikan Tapak Suci
Oleh: Sri Herwindya Baskara Wijaya
Tapak Suci Putera Muhammadiyah, salah satu organisasi beladiri pencak silat khas Indonesia, menurut jadwal bakal menyelenggarakan Muktamar XVI Tapak Suci, 6-9 Agustus 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah. Perhelatan akbar ini diprediksi dihadiri 11.439 peserta baik dalam negeri maupun luar negeri dari 24 negara dengan lokasi pembukaan muktamar digelar di Simpang Lima Kota Semarang, 7 Agustus 2026. Berkumpulnya belasan ribu peserta menjadikan Muktamar XVI Tapak Suci 2026 sebagai salah satu yang terbesar dalam perhelatan organisasi beladiri di Indonesia, bahkan di dunia. Bukan sekadar ajang silaturahmi antaranggota, muktamar ini juga sebagai wadah penguatan konsolidasi organisasi sekaligus sebagai sarana promosi dan dakwah melalui media beladiri pencak silat.
Kita patut bersyukur makin hari Tapak Suci makin berkembang dengan jumlah anggota saat ini sedikitnya 3 juta orang yang menjadikan Tapak Suci sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Tidak hanya di dalam negeri, Tapak Suci juga semakin mendunia yang kini sedikitnya tersebar di 24 negara baik di Asia, Eropa, Afrika, Australia dan Amerika. Kita juga patut bersyukur pula Tapak Suci memiliki reputasi yang relatif membanggakan dimana salah satunya dibuktikan dengan prestasi para pesilat Tapak Suci. Dari berbagai kejuaraan pencak silat dari lokal, regional, nasional hingga internasional, para pesilat Tapak Suci rata-rata ikut serta terlibat aktif baik sebagai peserta, pelatih maupun wasit yang disertai torehan prestasi gemilang di dalamnya.
Beragam prestasi ini tidak lepas dari manajemen organisasi Tapak Suci yang secara aktif terlibat dalam upaya pembinaan intens para atlit, pelatih dan wasit dari internal organisasi serta perasaan tanggung jawab untuk ikut serta menumbuhsuburkan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang adiluhung. Terlebih lagi pencak silat saat ini telah ditetapkan oleh United Nations Educational Scientific And Cultural Organization (UNESCO) - badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan, keilmuan dan kebudayaan - sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage Lists) tahun 2019 saat acara Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Kolombia.
Sebagai salah satu dari 10 perguruan silat historis Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Tapak Suci terlibat aktif langsung dalam tumbuh kembang IPSI sebagai induk organisasi silat di Indonesia yang berdiri pada 18 Mei 1948 di Surakarta, Jawa Tengah. Tapak Suci pun juga terlibat aktif dalam Perbara (Persekutuan Silat Antar Bangsa) sebagai satu-satunya organisasi internasional pencak silat di dunia yang berdiri pada 11 Maret 1980 di Jakarta dimana saat ini beranggotakan lebih dari 83 negara. Reputasi positif Tapak Suci sebagai sebuah organisasi beladiri juga dibuktikan dengan citra positif para anggotanya yang lebih mengedepankan praksis (teori dan praktik) persaudaraan dan prestasi.
Tidak heran jika selama ini sangat jarang didengar atau dijumpai ada anggota Tapak Suci terlibat dalam praktik semacam perkelahian, tawuran atau sejenisnya. Moralitas ini tidak lepas dari identitas Tapak Suci sebagai organisasi beladiri yang menjadi bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai organisasi otonom (Ortom) ke-11 Muhammadiyah, Tapak Suci yang berdiri pada 10 Rabiul Awal 1383 Hijriyah atau 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta ini berasas Islam, bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah serta berjiwa persaudaraan. Mengingat pentingnya akhlak dan persaudaraan, maka tidak heran pula apabila Tapak Suci memiliki motto “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat. Tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.”
Promosi
Salah satu cara untuk lebih membumikan Tapak Suci di masyarakat luas adalah optimalisasi promosi organisasi. Penulis melihat promosi Tapak Suci ke masyarakat umum selama ini dirasa masih belum maksimal, terutama untuk saluran promosi konvensional. Sejauh ini, Tapak Suci lebih banyak dikenal di lingkungan Muhammadiyah atau lingkungan internal dunia beladiri terutama aliran silat di Indonesia daripada di masyarakat umum. Kondisi ini tentunya berpengaruh pada penetrasi citra, reputasi dan persebaran Tapak Suci di tengah-tengah masyarakat umum, termasuk masyarakat desa. Sebagai salah satu contoh sederhana, sejauh ini penulis melihat masih belum banyak semacam spanduk, baliho atau banner Tapak Suci yang dipasang di ruang-ruang publik (public space).
Beberapa media promosi konvensional tersebut masih lebih banyak dipasang di area-area lingkungan Muhammadiyah, itu pun tidak semuanya memasang. Bahkan, pada saat momen-momen penting di masyarakat pun - seperti hari-hari besar keagamaan semisal Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Islam atau hari-hari besar nasional seperti HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) atau hari jadi kota/kabupaten - sejauh ini masih jarang terlihat spanduk, baliho atau banner ucapan pemberian selamat dari Tapak Suci. Demikian pula dalam hal rekrutmen anggota baru bagi masyarakat umum juga sampai batas tertentu masih jarang terlihat penggunaan media promosi konvensional di ruang-ruang publik.
Justru banyak dari perguruan beladiri lain baik aliran pencak silat atau aliran beladiri lain yang gencar dan rutin melakukan promosi organisasinya kepada masyarakat umum. Sebagai salah satu contohnya ucapan selamat Idul Fitri (Lebaran) atau HUT Kemerdekaan RI terlihat rutin disampaikan sejumlah perguruan silat di berbagai kota di Indonesia melalui media spanduk, baliho atau banner. Selain sebagai bagian dari strategi promosi, upaya ini juga sebagai strategi penguatan dan peneguhan citra (branding) organisasi silat terkait di mata masyarakat umum maupun internal anggota perguruan-perguruan silat terkait. Meskipun saat ini adalah era digital dimana promosi marak dilakukan via internet (digital promotion), namun media konvensional semacam spanduk, baliho, umbul-umbul, banner dan lainnya seyogyanya tidak boleh diabaikan.
Justru, penggunaan beragam media konvensional ini menunjukkan adanya kesadaran berpromosi yang lengkap, dinamis, membumi dan strategis. Untuk itu, perlu kiranya mulai saat ini Tapak Suci lebih gencar dan rutin mempromosikan nama dan citra organisasi kepada masyarakat umum lewat media-media konvesional dari tingkat pusat hingga daerah. Upaya ini dapat dilakukan terutama saat masa rekrutmen anggota baru, acara-acara penting/besar organisasi serta perayaan-perayaan hari-hari besar keagamaan dan hari-hari besar nasional. Tentunya promosi via darat ini perlu diimbangi dengan promosi via udara melalui promosi via media online seperti melalui portal berita/situs web, media sosial, platform streaming audio dan video serta publikasi digital (seperti e-book dan blog). Semuanya saluran online ini memanfaatkan koneksi internet untuk menyebarkan informasi secara real-time.
Masa Latihan
Hal lain yang dapat diupayakan guna lebih membumikan Tapak Suci di masyarakat adalah terkait lama masa pelatihan. Jika dicermati seksama, bisa dikatakan bahwa Tapak Suci adalah salah satu organisasi beladiri yang memiliki jenjang pelatihan yang relatif cukup panjang. Setidaknya, untuk bisa mencapai Tingkat Pendekar di Tapak Suci, dibutuhkan waktu setidaknya rata-rata minimal 9 atau 10 tahun atau bahkan lebih. Pada Tingkat Pendekar terdapat lima jenjang yakni Pendekar Muda, Pendekar Madya, Pendekar Kepala, Pendekar Utama dan Pendekar Besar. Sebelum ke Tingkat Pendekar, seorang pesilat Tapak Suci harus menempuhi 2 tingkatan yakni Tingkat Siswa dan Tingkat Kader.
Tingkat Siswa terbagi dalam 5 jenjang yakni Siswa Dasar, Siswa 1, Siswa 2, Siswa 3, dan Siswa 4. Sementara jenjang Kader juga meliputi lima jenjang yakni Kader Dasar, Kader Muda, Kader Madya, Kader Kepala dan Kader Utama. Artinya bagi seorang pesilat Tapak Suci untuk bisa ke Tingkat Pendekar memerlukan waktu pelatihan relatif cukup lama. Memang dalam tradisi perguruan, Tapak Suci lebih mengutamakan kualitas pesilat sehingga memungkinkan masa waktu pelatihan seorang anggota hingga meraih tingkatkan pendekar paripurna bisa berlangsung relatif lama. Namun faktanya, tidak semua pesilat Tapak Suci mampu bersabar menapakinya hingga ke tingkatan Kader atau bahkan ke Tingkatan Pendekar.
Karena proses kaderisasi di Tapak Suci yang berjenjang dan dipandang lama oleh sebagian kalangan inilah yang menjadikan sebagian dari anggota Tapak Suci yang akhirnya berhenti latihan di tengah jalan atau berpindah ke perguruan beladiri lain karena ingin meraih tingkatan pendekar dalam waktu lebih cepat. Kondisi ini kiranya perlu dipikirkan untuk melihat kurikulum pelatihan selama ini melalui kebijakan program latihan dengan masa waktu lebih moderat. Tentu pandangan ini tidak bisa sembarangan dilakukan melainkan harus melalui kajian serius, terukur dan mendalam.
Sehingga diharapkan tidak ada lagi cerita pesilat Tapak Suci yang berhenti berlatih di tengah jalan atau pindah ke organisasi beladiri lain karena alasan tidak kuat bersabar atas lamanya masa latihan. Selain itu, kebijakan terkait diharapkan akan mampu membuat lebih banyak pesilat Tapak Suci bisa mencapai Tingkat Kader dan Tingkat Pendekar hingga purna sekaligus mampu menjadi daya tarik bagi masyarakat umum untuk bergabung menjadi anggota Tapak Suci. Dengan demikian setidaknya secara kuantitas jumlah anggota Tapak Suci yang juga otomatis menjadi anggota Muhammadiyah diharapkan dapat semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Internasionalisasi
Upaya lain untuk lebih membumikan Tapak Suci adalah internasionalisasi organisasi. Upaya ini sebenarnya telah dilakukan dan terus dilakukan sehingga saat ini Tapak Suci setidaknya telah tersebar di 24 negara. Tentu ini sangat patut disyukuri, dibanggakan dan diapresiasi. Meski demikian perjuangan belum usai untuk lebih mengintensifkan perkembangan Tapak Suci di luar negeri. Bagi negara-negara yang telah hadir Tapak Suci, maka intensifikasi melalui peningkatan kualitas pembinaan anggota serta perluasan cabang dan ranting. Bagi negara-negara yang belum hadir Tapak Suci, maka hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk lebih memperluas jangkauan internasionalisasi organisasi. Di negara-negara berbasis mayoritas muslim, mungkin tidak terlalu bermasalah mengingat Tapak Suci adalah bagian dari Islam dan Muhammadiyah.
Namun menjadi tantangan tersendiri khususnya bagi negara-negara berpenduduk mayoritas nonmuslim seperti di Barat dan mereka berkeinginan bergabung dengan Tapak Suci. Seperti misalnya pertanyaan apakah harus berstatus muslim untuk bisa menjadi anggota Tapak Suci atau apakah harus mengenakan jilbab bagi anggota Tapak Suci perempuan terutama saat latihan. Tantangan lain adalah dari aspek keilmuan dimana Tapak Suci adalah bagian dari aliran pencak silat yang identik sebagai beladiri seni, selain beladiri praktis. Sementara di sisi lain, masyarakat Barat umumnya lebih cenderung menyukai hal-hal bersifat praktis termasuk pada persoalan beladiri.
Tak heran jika kemudian beragam beladiri dari Negeri Sakura, Jepang, lebih banyak mendapatkan tempat di hati publik Barat karena alasan aspek praktis dan rasionalnya. Artinya, untuk bisa lebih menghadirkan Tapak Suci di Barat seyogyanya dapat ikut menyesuaikan dengan kultur masyarakat Barat yakni dengan lebih menekankan materi keilmuan beladiri praktis, rasional dan ilmiah. Untuk itu, pengembangan kurikulum di Tapak Suci terutama dapatlah secara kontinu dilakukan agar dapat menyesuaikan perkembangan zaman serta kebutuhan kondisi di lapangan. Muhammadiyah sebagai induk ideologis dan keorganisasian Tapak Suci diharapkan dapat senantiasa memberikan pendampingan bagi tumbuh kembang internasionalisasi Tapak Suci di luar negeri. Selamat bermuktamar.
Sri Herwindya Baskara Wijaya, Kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNS

