Memperbarui Pola Berpikir Pimpinan
Oleh Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si.
Muhammadiyah saat ini jauh berbeda dengan masa lalu. Perkembangan Muhammadiyah makin besar baik organisasi, amal usaha, maupun radius pergerakannya. Muhammadiyah bertumbuh-kembang sebagai organisasi Islam besar dengan kepercayaan yang luas dari khalayak umum di dalam dan luar negeri. Publik menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar bukan hanya di Indonesia tetapi juga di level global.
Masalah dan tantangan Muhammadiyah pun makin besar. Sesuai hukum alam atau sunatullah, makin besar posisi orang atau organisasi maka makin besar pula masalah dan tantangan yang dihadapi. Seperti metafora, semakin tinggi pohon menjulang, kian kencang angin bertiup yang menerpanya. Ekosistem di lingkungan Muhammadiyah pun makin kompleks, baik di tingkat lokal maupun nasional dan global.
Karenanya diperlukan pembaruan atau perubahan pola pemikiran anggota, kader, dan lebih-lebih para elite pimpinannya dalam membawa Muhammadiyah yang besar di tengah lingkungan yang kompleks itu. Jangan sampai pola pikir para elitenya ala “disket lama” yang jadul ketinggalan zaman!
Ormas Besar
Muhammadiyah merupakan Ormas Islam yang besar dan tertua yang lahir sebelum Negara Republik Indonesia merdeka yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Posisi dan peranannya dalam sejarah dan dinamika perjalanan Indonesia sangatlah penting sejak era perjuangan kemerdekaan, ketika Indonesia merdeka, serta setelah era kemerdekaan hingga saat ini dan ke depan. Muhammadiyah memahami dan menjalani betul dinamika “asam garam” perjuangan keumatan dan kebangsaan yang kuat dan mendalam, sehingga integrasi keislaman dan keindonesiaannya sangatlah lekat dan memberi karakter pada keberadaan dan peranannya di Republik ini.
Muhammadiyah sebagai Ormas sungguh kokoh keberadaannya, meskipun setelah reformasi 1998 tidak jarang posisi dan peranannya seakan terkalahkan oleh partai politik. Tetapi Muhammadiyah tetap Ormas Islam yang dihargai dan memperoleh kepercayaan tinggi dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintahan. Pemberian amanah pada jabatan-jabatan publik di pemerintahan seperti di eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga-lembaga lainnya menunjukkan bukti kebesaran dan kekuatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah sebagai Ormas Islam memiliki pandangan Islam Berkemajuan yang tidak bergerak di ranah nilai semata, tetapi menggarap berbagai bidang kehidupan untuk kemaslahatan hidup masyarakat seluas-luasnya sebagaimana misi Islam mewujudkan rahmatan lil-‘alamin di semesta raya. Nilai dan etika sangatlah penting sebagai fondasi gerakan Islam, tetapi tidak diletakkan secara terpisah dengan usaha mengurus “muamalah duniawiyah” secara interkoneksi dan terintegrasi dalam satu kesatuan gerak Muhammadiyah sebagai Ormas Islam Berkemajuan.
Muhammadiyah sejak awal berdiri senantiasa terlibat dalam mengurus berbagai bidang kehidupan. Urusan politik kenegaraan dan kebangsaan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya merupakan ranah yang digarap oleh Muhammadiyah demi kemaslahatan umum dan terbangunnya peradaban Islam yang utama. Para kader Muhammadiyah tersebar dan berperan proaktif di berbagai aspek dan ranah kehidupan yang luas itu sebagai para mujahid dakwah yang berwawasan Islam Berkemajuan.
Diaspora Kader
Muhammadiyah sebagai Ormas Islam yang besar layak menyebarluaskan atau mendiasporakan kader-kader terbaiknya di berbagai lahan, arena, dan struktur kehidupan. Termasuk di lembaga-lembaga pemerintahan. Hal itu membuktikan dan untuk menunjukkan peran proaktif dalam kehidupan yang bermisi utama dakwah dan tajdid sebagai Gerakan Islam Berkemajuan.
Peran kader dan sumberdaya manusia dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta sangatlah penting dan strategis karena menyangkut potensi “aktor” dan “agensi” dalam seluruh sistem di berbagai ranah kehidupan. Di berbagai lingkungan kehidupan bangsa-bangsa peran elite yang memiliki keunggulan di bidang ekonomi dan politik maupun ilmu pengetahuan sangat berpengaruh dalam menentukan kekuasaan bangsa atau negara. Lahirnya oligarki di berbagai bangsa dan negara antara lain bermula dari preferensi (pilihan, kecenderungan, alternatif) kekuatan atau keunggulan aspek ekonomi, politik, dan gabungan keduanya.
Pada era Orde Lama dan Orde Baru banyak kader organik Muhammadiyah menempati berbagai posisi dalam lembaga-lembaga negara atau pemerintahan, termasuk di partai politik. Bahkan dalam sejarah Indonesia terdapat sekitar 23 Pahlawan Nasional dari rahim Muhammadiyah. Apapun dinamika politiknya, Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto adalah Muhammadiyah, yang memiliki peran sangat penting dan strategis dalam sejarah pemerintahan dan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan. Setelah Reformasi 1998 semakin menyebar kader Muhammadiyah di berbagai posisi pemerintahan, bahkan menjadi Ketua MPR- RI di awal Reformasi.
Karenanya penting menjadi perhatian bagaimana melakukan usaha pendiasporaan kader Muhammadiyah di berbagai organ atau lembaga pemerintahan dan non pemerintahan secara meluas. Agenda ini penting dipersiapkan secara tersistem melalui pembinaan anggota dan kader yang dinamis dan progresif, disertai pendalaman nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan yang kokoh. Dengan demikian ke depan semakin banyak anggota dan kader yang berasal dari Muhammadiyah memiliki posisi dan peran strategis di lingkungan umat, bangsa, dan ranah global.
Selain itu diperlukan cara pandang yang konstruktif dan positif dalam melihat dan memposisikan anggota serta kader Muhammadiyah di berbagai struktur tersebut. Jangan sampai kader Muhammadiyah yang berdiaspora dan jumlahnya belum banyak itu, kemudian disikapi negatif oleh sebagian pimpinan dan anggota Persyarikatan. Boleh jadi ada contoh yang kurang baik dari sebagian kader Muhammadiyah yang berdiaspora di luar, tetapi tidak perlu dilakukan generalisasi yang melahirkan stigma terhadap kader Muhammadiyah. Berilah keluasan kader Muhammadiyah berdiaspora di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga-lembaga sampiran negara (constitutional state organ dan state auxiliary organ) seperti KPU, Bawaslu, KPK, KPAI, dan seterusnya.
Di lembaga BUMN pun tidaklah masalah karena asasnya profesi sebagai wujud peran kebangsaan yang profesional. Bukankah para kader Muhammadiyah boleh dan menyebar menjadi dosen, pengacara, profesional, pebisnis, dan bergerak di berbagai aspek lapangan kehidupan secara halal dan baik. Muhammadiyah dan para pelaku gerakannya tidak memilih-milih ranah perjuangan dan pengkhidmatan demi mewujudkan misi dakwah dan tajdid gerakan yang meluas!
Perubahan Berpikir
Karena Muhammadiyah adalah Ormas Islam besar dan berpengalaman dalam berbagai ranah perjuangan. Demikian para kadernya selama ini bergerak di berbagai lingkup dan bidang kehidupan muamalah-duniawiyah sebagai pelaku gerakan dakwah dan tajdid. Maka diperlukan pembaruan pola pikir para pimpinan Muhammadiyah yang berwawasan luas seiring keluasan misi dakwah dan tajdid. Perkaya pemikiran tentang Islam dan kehidupan. Perluas juga wawasan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal berbasis ilmu dan pemikiran yang melintas batas.
Menjadi pimpinan Muhammadiyah jangan seperti “katak dalam tempurung”. Apalagi dengan pola pikir “disket lama” dalam memandang masalah, tantangan, dan arena kehidupan saat ini secara dangkal dan pola pikir sendiri yang merasa benar dan luas tetapi sejatinya keliru dan sempit. Bukankah Muhammadiyah lahir dan hadir untuk melawan kejumudan atau ketertinggalan pemikiran? Hingga Kyai Dahlan menjadi mujadid atau pembaru yang berhasil.
Pola pikir anggota, kader, dan elite pimpinan Muhammadiyah harus prokehidupan dan jangan anti kehidupan untuk dikelola serta dijalani dengan sebaik-baiknya demi terciptanya kemaslahatan umum dan terhindarnya kemudaratan. Pimpinan Muhammadiyah dari Pusat sampai Ranting dengan kecerdasan, keseksamaan, tanggung jawab, dan integritas tinggi jangan anti jabatan-jabatan publik dan alergi atas penyebaran kader di berbagai bidang kehidupan. Apalagi dengan membikin larangan berdasarkan kehendak dan opini sendiri.
Kembangkan pola pikir berkemajuan di tubuh anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah. Jangan sampai pola pikir para aktornya justru sempit, kerdil, dangkal, verbalitas, dan hitam-putih. Disket berpikir lama yang konservatif, jumud, dogmatis, dan apalagi merasa paling benar sendiri tanpa khazanah pemikiran yang mendalam dan luas sangatlah ketinggalan dan tidak akan memadai untuk membawa Muhammadiyah makin besar di tengah kompleksitas tantangan.
Kalau para pimpinannya merasa hebat tetapi pemikirannya “sebatas halaman rumahnya yang sempit”, menurut Buya Syafii Maarif, maka Muhammadiyah tidak akan mampu bertumbuh-kembang hidup di zaman yang tengah berubah dalam spektrum yang kompleks itu. Muhammadiyah di tangan para aktor yang kerdil wawasan itu maka tidak akan berkembang menjadi Gerakan Islam Berkemajuan. Boleh jadi malah menjadi gerakan Islam yang berkemunduran!

