Mencerdaskan Kader Sebelum Mencerdaskan Bangsa
Oleh: Amrizal
Tema Muktamar Muhammadiyah ke 49 tahun 2027 yang akan datang di Sumatera Utara, "Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya", adalah tema yang sangat besar. Ia berbicara tentang masa depan bangsa, tentang peradaban, tentang pencerahan yang menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.
Namun sebelum kita berbicara tentang mencerdaskan bangsa, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur:
Sudahkah kader Muhammadiyah sendiri benar-benar tercerahkan?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah pertanyaan reflektif yang harus kita ajukan kepada diri sendiri menjelang Muktamar Muhammadiyah. Sebab sejarah mengajarkan bahwa organisasi tidak akan mampu mencerdaskan masyarakat apabila para penggeraknya sendiri sedang mengalami krisis kesadaran, krisis keteladanan, dan krisis orientasi perjuangan.
Muhammadiyah lahir untuk membangun manusia. Tetapi hari ini kita perlu berani melakukan autokritik: jangan-jangan yang sedang tumbuh di sebagian ruang kaderisasi kita bukan lagi semangat pengabdian, melainkan semangat perebutan posisi.
Di berbagai tingkatan organisasi, kita mulai menyaksikan gejala yang memerlukan perhatian serius. Sebagian kader muda bersemangat memasuki organisasi, tetapi tidak sedikit yang menjadikan organisasi sebagai tangga menuju jabatan. Menjadi pimpinan Ortom dianggap prestasi tertinggi, bukan lagi amanah perjuangan. Jabatan mulai dipandang sebagai tujuan, bukan sarana pengabdian.
Akibatnya, lahirlah fenomena yang mengkhawatirkan: kader yang ingin cepat memimpin tetapi belum siap dipimpin, ingin dikenal tetapi belum banyak berbuat, ingin tampil tetapi belum selesai menempa diri.
Mereka haus posisi, tetapi belum tentu haus ilmu.
Mereka mengejar kursi, tetapi belum tentu mengejar amal.
Mereka ingin menjadi pimpinan, tetapi belum tentu siap menjadi pelayan umat.
Padahal Muhammadiyah tidak pernah dibangun oleh para pemburu jabatan.
Muhammadiyah dibangun oleh para pencari ridha Allah.
KH Ahmad Dahlan tidak mendirikan Muhammadiyah untuk melahirkan elit organisasi. Beliau mendirikan Muhammadiyah untuk melahirkan manusia yang tercerahkan oleh iman, ilmu, dan amal saleh.
Karena itu, persoalan terbesar Muhammadiyah hari ini sesungguhnya bukan kekurangan kader. Kader Muhammadiyah sangat banyak. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana melahirkan kader yang memiliki orientasi perjuangan yang benar.
Kita membutuhkan kader yang bertanya:
"Apa yang bisa saya berikan kepada Muhammadiyah?"
Bukan kader yang terus bertanya:
"Jabatan apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?"
Lebih jauh lagi, autokritik juga perlu diarahkan kepada para pimpinan. Sebab kader muda belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika pimpinan mempertontonkan ketulusan, kader akan belajar tentang ketulusan.
Jika pimpinan mempertontonkan pengorbanan, kader akan belajar tentang pengorbanan.
Namun jika pimpinan mempertontonkan persaingan, manuver, dan perebutan pengaruh, maka kader pun akan menganggap itulah wajah organisasi yang sesungguhnya.
Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang negara. Ia juga berbicara tentang organisasi, kepemimpinan, dan amanah Persyarikatan.
Menjadi pimpinan Muhammadiyah bukan penghormatan. Ia adalah beban.
Menjadi pimpinan bukan hadiah. Ia adalah pertanggungjawaban.
Menjadi pimpinan bukan tanda kemuliaan. Ia adalah ujian keikhlasan.
Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang dalam Persyarikatan, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah.
Buya Hamka pernah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kedudukannya, tetapi pada manfaat yang diberikannya kepada umat.
Sementara KH AR Fachruddin memberi teladan luar biasa tentang kepemimpinan yang sederhana, bersih, dan jauh dari ambisi pribadi. Beliau lebih dikenal karena kerendahan hatinya daripada kekuasaannya. Bahkan ketika memimpin Muhammadiyah selama puluhan tahun, beliau tetap hidup sederhana dan dekat dengan rakyat.
Pak AR seolah mengajarkan kepada seluruh kader Muhammadiyah:
"Jangan mencari kebesaran dalam Muhammadiyah. Besarkanlah Muhammadiyah, maka Allah akan membesarkan nilai perjuanganmu."
Nasihat serupa juga diwariskan oleh KH Ahmad Azhar Basyir yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam berorganisasi. Menurut beliau, organisasi akan kehilangan keberkahannya ketika kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan dakwah.
Hari ini nasihat-nasihat itu terasa semakin relevan.
Sebab tantangan Muhammadiyah bukan hanya datang dari luar. Tantangan terbesar sering kali datang dari dalam diri kita sendiri.
Kita mudah berbicara tentang tajdid, tetapi belum tentu siap memperbarui diri.
Kita mudah berbicara tentang dakwah pencerahan, tetapi belum tentu tercerahkan.
Kita mudah berbicara tentang mencerdaskan bangsa, tetapi belum tentu serius mencerdaskan kader.
Padahal kader adalah jantung Persyarikatan.
Jika kader tercerahkan, organisasi akan tercerahkan.
Jika kader berintegritas, organisasi akan berintegritas.
Jika kader ikhlas, organisasi akan dipenuhi keberkahan.
Sebaliknya, jika kader kehilangan orientasi perjuangan, maka sebesar apa pun aset yang dimiliki Muhammadiyah, ia akan kehilangan ruhnya.
Di sinilah makna terdalam tema "Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya" perlu dipahami.
Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kecerdasan akademik.
Ia adalah kecerdasan spiritual.
Kecerdasan moral.
Kecerdasan berorganisasi.
Kecerdasan membedakan antara amanah dan ambisi.
Kecerdasan membedakan antara pengabdian dan kepentingan.
Kecerdasan membedakan antara perjuangan dan pencitraan.
Maka sebelum mencerdaskan bangsa, Muhammadiyah harus terus mencerdaskan kader-kadernya.
Sebelum menerangi masyarakat, Muhammadiyah harus memastikan rumahnya sendiri dipenuhi cahaya.
Karena sesungguhnya ada ungkapan yang sering terdengar di kalangan aktivis Persyarikatan:
"Memuhammadiyahkan orang Muhammadiyah sering kali lebih sulit daripada memuhammadiyahkan orang yang baru mengenal Muhammadiyah."
Kalimat ini mungkin terdengar keras, tetapi di dalamnya tersimpan pelajaran penting. Menjadi warga Muhammadiyah tidak otomatis membuat seseorang memahami nilai-nilai Muhammadiyah. Menjadi pimpinan Muhammadiyah juga tidak otomatis membuat seseorang memiliki jiwa Muhammadiyah.
Jiwa Muhammadiyah harus terus ditanamkan, dirawat, dan diwariskan melalui kaderisasi yang hidup.
Menjelang Muktamar mendatang, semoga seluruh kader dapat menjadikan tema "Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya" sebagai momentum muhasabah bersama.
Bukan sekadar membahas siapa yang akan memimpin.
Tetapi membahas kader seperti apa yang ingin dilahirkan.
Bukan sekadar memikirkan struktur organisasi.
Tetapi memikirkan masa depan generasi Muhammadiyah.
Karena masa depan Persyarikatan tidak ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi pimpinan hari ini.
Masa depan Persyarikatan ditentukan oleh nilai-nilai apa yang diwariskan kepada kader-kadernya.
Jika yang diwariskan adalah keikhlasan, ilmu, adab, integritas, dan pengabdian, maka Muhammadiyah akan terus menjadi cahaya bagi bangsa.
Namun jika yang diwariskan adalah ambisi, persaingan, dan kecintaan terhadap jabatan, maka cahaya itu perlahan akan redup dari dalam.
Semoga Allah menjaga Muhammadiyah.
Semoga Allah menjaga kader-kadernya.
Dan semoga Muhammadiyah senantiasa melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga cerdas berjuang, cerdas mengabdi, dan cerdas menjaga amanah.
Karena pada akhirnya, bangsa yang bercahaya hanya dapat dilahirkan oleh kader-kader yang lebih dahulu tercerahkan.
Wallahu a’lam bish shawab
Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut, Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UNY, Dosen Universitas Negeri Medan

