Meneguhkan Arah di Tengah Disrupsi
Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Ponpes Modern Muhammadiyah Sangen, Krajan, Weru, Sukoharjo, Jateng
Kini kita telah berada di paruh kedua Syawal. Ramadhan telah beberapa pekan kita lalui. Sebagian dari kita telah menunaikan puasa Syawal enam hari, dan barangkali sebagiannya masih menjalaninya. Kebiasaan ibadah juga terus dijaga, tilawah walau tidak seperti di bulan Shiyam lalu, qiyamul lail, sedekah dan amal saleh lainnya, tetapi dijalankan semaksimal mungkin.
Namun, yang tidak kalah penting dari itu semua adalah bagaimana spirit nilai-nilai Ramadhan tetap hidup dalam diri kita, yakni kemampuan menahan diri dari segala yang negatif, sekaligus menumbuhkan semangat dalam kebaikan, dan sikap tawakal yang tinggi kepada Allah Ta’ala.
Lebih-lebih saat ini kita dihadapkan pada era disrupsi dan arus informasi yang sering kali simpang siur. Antara informasi fakta dan hoaks sering sekali sulit dipilah. Isu-isu global, termasuk prediksi krisis energi, bahkan sempat memicu kepanikan di tengah masyarakat, hingga terjadi antrean panjang di SPBU di sejumlah tempat, ada yang mengatakan ini fenomena April-Mop, ada pula karena isu eskalasi Timur Tengah.
Akhirnya kegelisahan dan kekhawatiran mendorong orang untuk mencari keselamatan dan keamanan masing-masing, terutama jaminan stabilitas ekonominya. Tidak sedikit orang berbondong-bondong mencari investasi yang dianggap paling aman, gejala kecenderungan untuk menimbun bbm pun mulai tercium, dan efisiensi secara ketat mulai direncanakan. Semua itu setidaknya menunjukkan satu hal, betapa mudahnya manusia goyah ketika rasa amannya mulai terancam.
Tentu, faktor ekonomi dan ketidakpastian kebijakan juga berperan. Padahal, boleh jadi goyahnya itu bukan karena keadaan, tetapi karena cara pandang kita terhadap kehidupan.
Kita terlalu sering memperlakukan dunia sebagai tujuan akhir, seolah-olah ia tempat menetap yang pasti. Padahal, sejak awal Al-Qur’an telah memberi peringatan:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, dan perhiasan…” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan anjuran agar kita menjauh dari dunia, tetapi untuk menyadarkan posisi kita di dunia. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi tidak juga untuk dipertuhankan. Dunia adalah ladang amal, tempat mencari nafkah, gelanggang fastabiqul khairat, dan ruang ujian bagi kehidupan.
Maka, ketika dunia dijadikan sandaran utama, setiap guncangan akan terasa seakan ancaman besar. Dan ketika ia dipahami sebagai titipan dan amanah, maka kita akan semakin termotivasi dalam mengemban dan membuktikan bahwa kita memang layak memikul amanah tersebut.
Dalam pandangan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, kehidupan harus dijalani secara seimbang, dengan menjadikan seluruh aktivitas sebagai ibadah. Hal ini bukanlah sekadar konsep, tetapi menjadi arah hidup. Bahwa bekerja, mengelola ekonomi, bahkan menghadapi krisis sekalipun, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah Ta’ala.
Oleh karenanya, Al Qur’an mengajarkan agar manusia selalu aktif berikhtiar untuk meraih apa yang hendak dicapai, bukan sebaliknya hanya pasrah dan pesimis:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Ayat ini terasa sangat relevan di tengah kesimpangsiuran informasi hari ini. Bahwa dalam kondisi apa pun, manusia tetap dituntut untuk berusaha. Bukan hanya sekedar bergerak, tetapi bersungguh-sungguh dalam bekerja, jujur, disiplin, dan penuh tanggung jawab.
Namun, terkadang manusia sering merasa lelah. Ketika situasi terasa di luar kendali, dan usaha yang telah dilakukan tidak selalu sesuai dengan hasilnya, maka mulailah muncul rasa cemas dan khawatir, karena merasa seakan-akan semuanya harus digenggam sendiri.
Maka mengingat Allah Ta’ala Sang Pencipta dan Tawakal kepada-Nya adalah solusinya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Tawakal bukan berarti berhenti dari ikhtiar, tetapi berhenti memaksakan diri mengendalikan hal yang memang di luar kemampuan kita. Tawakal adalah cara hati kita untuk tetap dalam ketenangan dan tetap terjaga keseimbangannya, di tengah dinamika kehidupan dunia yang tidak pasti.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa dunia ini sangat memikat:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.” (HR. Muslim)
Karena itulah, manusia diuji bagaimana menyikapi dunia. Tidak semua rencana akan berjalan sebagaimana yang kita inginkan. Ada kalanya luput, ada saatnya tertunda, dan bahkan ada yang hilang tidak dapat diraih sama sekali.
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dan tidak berlebihan dalam kegembiraan atas apa yang diberikan…” (QS. Al-Hadid: 23)
Nasehat ayat ini mungkin cukup sederhana, yakni menjaga hati tetap seimbang, tidak larut dalam kehilangan, dan tidak pula terlena dalam kesuksesan. Meski demikian, prakteknya tidak mudah, perlu kemantapan hati dan keyakinan pada ketentuan (takdir) Allah Ta’ala.
Demikianlah sebagaimana disebutkan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah sebagai kepribadian Muslim yang kukuh, yaitu kepribadian yang tidak mudah goyah oleh keadaan, dan mampu mengendalikan diri dalam setiap situasi.
Dengan demikian, disrupsi bukanlah ancaman terbesar bagi kehidupan pribadi-pribadi muslim, tetapi ancaman yang lebih berbahaya adalah kehilangan arah tujuan. Ketika manusia tidak lagi tahu untuk apa ia hidup, dan akan kemana hidup ini, maka ketika datang guncangan sedikit saja, niscaya sudah cukup membuatnya panik dan putus asa. Padahal, seorang muslim tidak hanya dituntut bertahan, tetapi juga bertumbuh. Tidak hanya selamat, tetapi juga memberi manfaat.
Seringkali kita memperlakukan dunia sebagai tujuan akhir. Padahal, di tengah kehidupan yang serba tidak pasti ini, keteguhan bukan berarti semua akan baik-baik saja. Kemampuan untuk tetap berjalan, tetap berbuat, dan tetap percaya bahwa di balik segala yang terjadi, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertawakal.
Nashrun minallahi wa fathun qarib
