Mengandung Pelajaran Substansial, Sejarah Harus Dibaca secara Komprehensif

Suara Muhammadiyah

29 December 2025

623
Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Prof Dr Haedar Nashir, MSi

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Sejarah harus dibaca secara komprehensif. Demikian tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Hal ini menyoal hal ihwal historisitas bangsa Indonesia mulai dari pra hingga pasca-kemerekaan, yang muatan khazanahnya sangat kaya dan mendalam sekali.

Terlebih khusus lagi, ulasan Haedar berpokok pangkal pada peristiwa pra-kemerdekaan. Yang diungkapnya, saat dijajah oleh Belanda, Islam berkembang dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang pusparagam.

“Sebelumnya ada kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kutai, yang itu juga mengalami transformasi yang tidak keras. Peralihan dari Majapahit ke Mataram Islam, berjalan dengan baik,” sebutnya saat Rapat Terbuka Senat Laporan Tahunan Rektor dalam rangka Milad ke-60 Universitas Muhammadiyah Purwokerto Aula A.K. Anshori Lt. 3, Kampus 1 Ahmad Dahlan UMP, Senin (29/12).

Berlanjut pada matarantai perjalanan bangsa pasca-kemerdekaan, yang diawali oleh proses baru sejak awal abad ke-20, yakni lahirnya Kebangkitan Nasional. “Aliran dan sumber-sumber kebangkitan itu beragam,” tutur Haedar, menyebut aliran itu seperti aliran agama, aliran nasionalis, “semuanya saling berhimpitan,” sambungnya.

Yang kemudian berkembang dengan munculnya gerakan Sarekat Dagang Islam (SDI), Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Taman Siswa, Persatuan Islam, Al Irsyad, Nahdlatul Ulama, dan Jong Islamieten Bond (JIB), dan lain sebagainya.

“Ini membentuk sebuah gerakan Kebangkitan Nasional yang masif di seluruh Tanah Air. Dan dalam konteks inilah kemudian, lahirlah kemerdekaan dengan proses sejarah dan dinamika politik yang tidak mudah,” tegas Haedar.

Hal menarik lainnya, sebut Haedar, peristiwa Sumpah Pemuda dan Kongres Perempuan. Terjadi titik temu di sini, di mana tahun peristiwanya serupa, yakni 1928. “Itu juga merupakan kohesif dari berbagai golongan,” tuturnya.

Yang dari situlah kemudian dalam konteks Sumpah Pemuda, lahir tentang komitmen ke-Indonesiaan, “Satu Bahasa, Satu Tanah Air, dan Satu Bangsa Indonesia,” sambungnya.

Demikian hahlnya Kongres Perempuan. Dengan melibatkan ‘Aisyiyah, Wanita Taman Siswa, Wanita Katolik, Wanita Oetomo, Putri Indonesia, Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIBDA), dan Jong Java Dames Afdeeling (JJDA).

“Semuanya menjadi satu kekuatan besar, dan akhirnya kita merdeka pada 17 Agustus 1945,” bebernya, yang bersambung 18 Agustus 1945, lahir sebuah kodifikasi menjadi konstitusi dasar berbangsa dan bernegara. “Lahirlah Pembukaan dan UUD 1945, Pancasila, yang itu menjadi rujukan resmi kita,” pungkasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Tampak ribuan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang memenuh....

Suara Muhammadiyah

2 May 2024

Berita

SERANG, Suara Muhammadiyah - Perempuan memiliki posisi kunci dalam menopang ketahanan pangan keluarg....

Suara Muhammadiyah

5 September 2025

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Lomba da'i dalam rangkaian kegiatan Amaliyah Ramadhan 1446 H, diadakan....

Suara Muhammadiyah

22 March 2025

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah — Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Pekaj....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Kelahiran Muhammadiyah itu dalam rangka Mempermudah umat Islam menjalani....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah