Mengapa Gaji Guru Layak 40 Juta per Bulan?

Publish

6 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
56
Sumber Foto Freepik

Sumber Foto Freepik

Mengapa Gaji Guru Layak 40 Juta per Bulan?

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pendidikan bukan sekadar agenda pembangunan. Ia adalah urat nadi kemajuan sebuah bangsa. Melalui pendidikanlah, kita membentuk manusia—bukan hanya pekerja, bukan hanya penghafal, tetapi pemikir, pemimpi, dan pencipta masa depan. Dalam sebuah podcast bersama Kompas TV, Bapak Gita Wirjawan mengutarakan pandangan yang sangat mendalam: "Indonesia tidak akan pernah maju, tanpa memperbaiki kualitas pendidikannya." Sebuah kalimat yang sederhana namun menghentak kesadaran kita. Jika kita mengaku mencintai negeri ini, maka perjuangan kita mestinya dimulai dari ruang-ruang kelas, dari tangan-tangan guru, dari imajinasi anak-anak kita yang hari ini duduk di bangku sekolah.

Namun bagaimana mungkin kita membangun masa depan gemilang, jika para pembentuk generasi bangsa—yakni para guru—masih digaji di bawah standar kehidupan layak? Gaji guru yang hanya sekitar 2,8 juta rupiah per bulan adalah cermin betapa kita belum sungguh-sungguh menaruh hormat pada profesi ini. Pertanyaannya, mungkinkah guru digaji 40 juta rupiah per bulan? Jawabannya, sangat mungkin, bahkan logis. Dalam podcast tersebut, Pak Gita menjabarkan bahwa dengan anggaran pendidikan nasional sekitar 800 triliun rupiah, menggaji 100.000 guru terbaik dengan nominal 40 juta rupiah per bulan hanya akan menghabiskan sekitar 48 triliun rupiah per tahun—kurang dari 10% anggaran total. Ini bukan mimpi muluk. Ini adalah soal prioritas dan niat politik.

Tentu akan muncul pertanyaan skeptis, apakah gaji tinggi otomatis menjamin kualitas guru? Jawabannya, tidak otomatis, tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan guru berkualitas tinggi tanpa keberanian untuk memberi penghargaan yang layak. Negara-negara seperti Korea Selatan dan Cina hanya merekrut 2–5% lulusan terbaik untuk menjadi guru. Bayangkan jika Indonesia juga berani merekrut lulusan dengan IQ di atas 120, yang mahir mendongeng, menguasai banyak bahasa, dan punya kemampuan menyuntikkan ambisi serta imajinasi ke dalam jiwa anak-anak. Apakah kita mengira mereka akan bersedia menjalani profesi ini dengan bayaran yang tidak sebanding dengan tanggung jawab dan kapasitasnya?

Maka, gaji tinggi bukan jaminan, tetapi syarat minimum untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik bangsa agar mau mengabdi sebagai pendidik. Bayaran yang layak adalah bentuk penghargaan, sekaligus strategi pembangunan jangka panjang. Kita tidak sedang membayar mereka untuk mengajar hari ini, tetapi untuk membentuk masa depan Indonesia lima puluh tahun ke depan.

Pak Gita menyebut bahwa guru yang brilian akan meng-scale-up sekolah tempatnya mengajar. Ini bukan teori. Di banyak tempat, kita bisa melihat bagaimana satu guru hebat mampu mengubah atmosfer belajar, membangkitkan semangat, dan memicu lahirnya komunitas belajar yang hidup. Pendidikan tidak akan pernah bisa lepas dari manusia. Dari siapa yang berdiri di depan kelas. Dan dari seberapa besar cinta, empati, dan dedikasi yang ia miliki—hal-hal yang tumbuh subur ketika kebutuhan dasarnya terpenuhi.

Saya teringat perjalanan pendidikan saya sendiri. Di rumah, ibu saya mendisiplinkan saya, sementara ayah saya mendidik sisi intelektual saya. Kombinasi ini membentuk daya tahan dan keberanian untuk berpikir di luar kotak. Saya percaya, pendidikan sejati tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah, di komunitas, dan dalam keseharian. Namun sekolah tetap menjadi panggung utama, dan guru tetap pemeran utamanya.

Guru adalah sosok yang berinteraksi dengan anak-anak selama hampir sepertiga hari. Mereka bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga mempengaruhi nilai, membentuk karakter, dan menyemai impian. Karena itu, mereka tidak cukup hanya "kompeten"—mereka harus mengilhami. Dan untuk bisa menjadi inspirasi, mereka sendiri harus hidup dalam kondisi yang layak, punya ruang untuk terus belajar, dan diberi penghargaan yang sesuai.

Dalam dunia yang terus berubah, kita tidak bisa hanya mengandalkan guru yang bekerja berdasarkan kurikulum semata. Kita butuh guru yang mampu menghidupkan ambisi dan imajinasi dalam diri muridnya. Dua hal ini—sebagaimana ditekankan dalam podcast—adalah kunci untuk membuka kreativitas, inovasi, dan semangat berkompetisi secara sehat. Sayangnya, banyak sekolah kita justru mematikan dua hal ini sejak dini. Anak-anak dijejali hafalan, nilai menjadi segalanya, dan keberanian untuk bertanya seringkali dianggap mengganggu.

Padahal, pendidikan bukan tentang mengisi gelas kosong, melainkan menyalakan api. Api rasa ingin tahu. Api keberanian untuk bermimpi besar. Api keinginan untuk mencipta dan menjelajah. Dan tugas mulia ini hanya bisa dilakukan oleh guru-guru yang benar-benar disiapkan—bukan hanya dari sisi akademik, tapi juga dari kesejahteraan dan kapasitas kemanusiaan mereka.

Jika saat ini kita belum memiliki guru seperti itu di sekolah, jangan menyerah. Mulailah dari rumah. Dampingi anak menonton podcast bermutu, galakkan budaya membaca, ajarkan nilai dari keseharian. Setiap orang tua adalah guru pertama, dan lingkungan adalah kelas awal kehidupan. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya institusi formal.

Namun jangan berhenti di sana. Kita tetap harus mendorong reformasi struktural. Kita harus berani mendesak negara untuk mengubah sistem rekrutmen guru. Kita butuh mekanisme seleksi yang ketat, pelatihan yang mumpuni, dan sistem penghargaan yang memadai. Kita perlu mengubah cara pandang kita, bahwa guru bukan pekerjaan "alternatif", melainkan profesi kehormatan yang harus diperebutkan oleh putra-putri terbaik bangsa.

Sebagian mungkin akan bertanya, "Bukankah banyak guru sekarang yang sudah berdedikasi meski gajinya kecil?" Ya, benar. Tapi justru karena itu kita harus malu. Karena kita telah membiarkan pengabdian mereka menjadi alasan untuk terus membayar mereka murah. Kita tidak boleh menjadikan kesabaran guru sebagai pembenaran untuk ketidakadilan yang sistemik.

Generasi digital hari ini hidup dalam arus informasi yang deras, namun sering kehilangan akar. Mereka akrab dengan tren, tapi asing terhadap sejarah. Padahal sejarah mengandung wisdom yang tak ternilai. Maka pendidikan juga harus menanamkan rasa—rasa cinta tanah air, rasa hormat pada nilai-nilai luhur, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan. Guru yang baik adalah jembatan antara masa lalu yang bijak dan masa depan yang gemilang.

Refleksi ini bukan sekadar renungan. Ini adalah panggilan. Untuk melihat pendidikan bukan sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai investasi peradaban. Setiap anak adalah dunia yang sedang tumbuh. Setiap guru adalah pemahat dunia itu. Dan kita semua adalah bagian dari ekosistem yang menentukan, apakah negeri ini akan berdiam dalam mediokritas, atau melompat menuju keunggulan.

Jika kita sungguh ingin membangun Indonesia yang hebat, mari kita mulai dari keberanian untuk menggaji guru secara layak. Bukan hanya karena mereka pantas, tetapi karena masa depan bangsa ini bergantung pada mereka. Mari kita tanamkan ambisi dan imajinasi, tidak hanya dalam diri anak-anak, tetapi juga dalam cara kita membangun sistem pendidikan. Karena membangun pendidikan sejati bukan soal angka, tapi soal cinta—cinta pada anak-anak kita, pada masa depan kita, dan pada Indonesia yang kita cita-citakan bersama.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Hari ini saya akan mengulas seb....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Wawasan

Menunggu Sikap TNI dalam Absurditas Politik Oleh: Sobirin Malian, Dosen Fakultas Hukum Universitas ....

Suara Muhammadiyah

31 August 2024

Wawasan

Anak Saleh (11) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Wawasan

Sudah Hadir di 30 Negara: Mengapa Perlu Ada PCIM di Luar Negeri?  Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen I....

Suara Muhammadiyah

12 January 2026

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (15) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Di da....

Suara Muhammadiyah

14 December 2023