Mengemas Ulang Wajah Kaderisasi IMM
Oleh: An-Najmi Fikri Ramadhan, Instruktur Nasional IMM
Belakangan ini, nama Muhammadiyah tampaknya semakin menarik di mata anak muda. Mereka tidak lagi melihat Muhammadiyah dari perdebatan lama yang sering menguras energi, melainkan dari karya nyata yang bisa dirasakan langsung. Riset Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan tahun ini memperlihatkan kecenderungan itu. Mulai dari kampus-kampus yang berkembang, tata kelola organisasi yang modern, dan kiprah sosial yang konsisten menjadi alasan mengapa Muhammadiyah dipandang positif oleh generasi muda.
Namun pertanyaanya, bagaimana gambaran kertetarikan Muhammadiyah itu terasa di tingkat paling dekat dengan anak muda, yakni khususnya IMM?
Tulisan Azaki Khoirudin dalam rubrik Dinamika Dakwah di Majalah Matan bulan lalu jadi pijakan yang pas untuk membedah persoalan ini lebih jauh, khususnya di level ortom. Ia menulis tentang tiga wajah generasi yang sedang dibaca Muhammadiyah, yaitu Genial (milenial), Genzi (Gen Z), dan Genfa (Gen Alpha). Mengutip laporan IDN Research Institute, ketiganya bukanlah kelompok pasif, melainkan agen perubahan yang menolak struktur hierarkis yang kaku. Di mata kaum muda ini, kesuksesan sebenarnya terletak pada keseimbangan hidup serta ketersediaan ruang yang sejalan dengan minat personal mereka. Oleh sebab itu, Muhammadiyah harus berani menanggalkan citra organisasi yang "serius dan kaku".
Pergeseran Orientasi Organisasi Anak Muda
Generasi muda mahasiswa hari ini (Genzi) sering dituduh apatis, karena malas ikut organisasi kampus. Padahal, faktanya justru berbanding terbalik. Laporan Indonesia Gen Z Report 2024 mengungkap sebuah anomali yang menarik. Anak muda zaman sekarang sebenarnya sangat peduli pada isu-isu besar, seperti ketimpangan sosial (60%) dan kesehatan mental (51%).
Namun anehnya, 69% dari mereka enggan bergabung dengan organisasi formal. Hanya ada 5% responden yang benar-benar mau aktif di dalamnya. Pakar menyebut fenomena kesenjangan ini sebagai kekhawatiran tidak serta-merta berubah menjadi partisipasi dalam organisasi.
Alasannya sangat logis. Gen Z menolak keras jika hanya dijadikan pajangan atau sekadar pelengkap kuota anak muda dalam sebuah struktur. Mereka menginginkan keterlibatan yang substantif dan bermakna. Ketimbang duduk berjam-jam di rapat birokratis yang kaku, mereka lebih memilih bersuara langsung lewat media sosial. Bagi mereka, dunia digital adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan nyata.
Karena itu fokus mereka pelan-pelan bergeser ke komunitas kreatif yang lebih lincah, fleksibel, berbasis digital. Di wadah semacam itu, mereka bisa langsung berkarya, mengasah skill, memperluas jaringan, bahkan mencari penghasilan tambahan.
Jadi sebenarnya Genzi sama sekali tidak benci berorganisasi. Mereka hanya sudah move on dari sistem lawas yang kaku. Sekarang, mereka menuntut ruang baru yang adaptif dan memberikan dampak langsung bagi masa depan mereka.
Fenomena sepinya peminat organisasi sebenarnya bukan persoalan IMM semata. Hampir semua organisasi pergerakan mahasiswa sedang menghadapi tantangan yang sama. Yang berubah bukanlah semangat anak mudanya untuk berkumpul atau bergerak, melainkan cara mereka memilih ruang untuk bertumbuh.
Faktanya, mereka tetap aktif membangun komunitas, mengelola proyek, hingga menciptakan gerakan-gerakan baru di ruang digital. Namun mereka semakin selektif terhadap organisasi yang terasa terlalu kaku dan sarat formalitas. Karena itu, jangan terlalu buru-buru melabeli Genzi adalah generasi yang malas beograniasi.
Perkaderan Roblox
Ada satu kalimat Azaki Khoirudin yang perlu digarisbawahi dua kali yaitu “Pelatihan tidak selalu harus di kelas”. Azaki membayangkan bahwa pelatihan atau perkaderan bisa berupa jalan-jalan terstruktur, ngobrol santai, atau mendengarkan curhat kader soal kesehatan mental. Muhammadiyah harus jadi tempat healing dan penuh gembira. Bukan sekadar ruang formal yang kaku.
Gagasan ini membawa saya membayangkan menjadi lebih jauh. Mungkin ini terdengar asing buat sebagian kader senior. Bayangkan kalau memang perlu, lakukan kaderisasi lewat platform dunia virtual “Roblox”.
Dengarkan dulu sebelum menolak. Gagasan perkaderan online sebenarnya bukan hal asing bagi IMM. Kita pernah punya pengalaman ketika pandemi Covid-19 lalu. Waktu itu, perkaderan IMM sempat menimbulkan perdebatan karena tetap berjalan dinamis via Zoom Meeting. Bahkan sampai harus merumuskan SOP resmi perkaderan khusus masa Covid. Walaupun masih banyak perlu evaluasi, momentum tersebut berhasil membuka gerbang dan peluang bagi lahirnya new normal perkaderan IMM.
Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) 2025 sebenarnya juga sudah mempunyai bab Perkaderan Adaptif Teknologi. Isinya sudah bagus dan kompleks. Ada digitalisasi administrasi, literasi digital, sampai kuis interaktif semacam Kahoot. Tapi, itu semua baru sebatas alat bantu. Belum menjadi sebuah pengalaman. Kahoot cuma bikin ceramah sedikit lebih hidup. Kita belum benar-benar masuk ke dunia Gen Z dan Alpha yang merupakan Digital Native. Tempat mereka bermain, membangun, dan bersosialisasi setiap hari.
Bayangkan simulasi advokasi sosial dibangun dalam peta interaktif di Roblox. Kader bisa menyelesaikan misi sambil belajar membaca masalah kontekstual. Ini persis dengan prinsip Design Thinking di SPI 2025. Atau, bayangkan server Discord resmi Komisariat. Isinya bukan cuma pengumuman rapat. Tapi ada ruang diskusi harian, klub baca, dan sesi curhat terjadwal. Ini sama sekali tidak mengubah nilai dasar perkaderan. Kita hanya memindahkan wadahnya saja. Membawanya ke ruang digital tempat Gen Z dan Gen Alpha merasa nyaman.
Tidak perlu langsung skala nasional. Cukup menunjuk dua atau tiga Komisariat sebagai pilot project percontohan. Misalnya, kampus dengan basis mahasiswa desain atau IT. Kadernya pasti mampu membangun dunia virtual sederhana. Evaluasi hasilnya selama satu periode. Setelah matang, baru direkomendasikan secara resmi di Rakernas.
Teknologi memang hanya wadah. Tapi wadah yang tepat sering kali menentukan apakah pesan di dalamnya sampai atau cuma lewat begitu saja.
Keberanian Mengemas Ulang Gerakan
Azaki menutup tulisannya dengan pesan yang sangat penting untuk direfleksikan. Muhammadiyah perlu menjadi platform anak muda. Sebuah ruang yang bisa menampilkan nilai, preferensi, dan emosi mereka. IMM sama sekali tidak perlu mengubah nilai dasarnya. Islam berkemajuan dan semangat tajdid warisan KH Ahmad Dahlan tetap relevan. Nilai-nilai ini sangat cocok dengan cara berpikir Gen Z yang kritis dan terbuka.
Pada akhirnya, yang perlu kita ubah hanyalah keberanian untuk mengemas ulang gerakan ini. Gagasan perkaderan lewat Roblox yang saya sebutkan tadi tentu hanyalah sebuah contoh kecil. Itu adalah gambaran bagaimana teknologi bisa kita manfaatkan sebagai wadah adaptif, tanpa sedikit pun mengorbankan ruh ideologi ikatan.
Saya teringat satu pesan berharga dari Pak Azaki dulu ketika berbicara suatu kelas. Beliau pernah mengatakan bahwa di Muhammadiyah, kita jangan pernah takut salah untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Kalimat itu harusnya menjadi bahan bakar kita hari ini, untuk terus bergerak memastikan IMM tetap menjadi rumah gerakan generasi muda.

