Menggenggam Amanah Langit, Mengisi Kemerdekaan Bumi

Suara Muhammadiyah

18 August 2026

49
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menggenggam Amanah Langit, Mengisi Kemerdekaan Bumi

Perempuan Berkemajuan sebagai Penjaga Empat Pilar Amanah dalam Cahaya QS. Al-Hajj: 41

Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si., (Ketua Cabang ‘Aisyiyah Kota 3 Kudus)

Dua dokumen penting yang saling menerangi adalah Risalah Perempuan Berkemajuan (hasil Muktamar ke-48 'Aisyiyah di Surakarta) dan Tafsir QS. Al-Hajj: 39–41. Risalah merumuskan karakter perempuan Muslimah dalam membangun peradaban utama, sedangkan tafsir Al-Hajj menjelaskan alasan dan syarat agar kemerdekaan suatu bangsa layak dipertahankan. Hubungan keduanya terletak pada QS. Al-Hajj: 41:

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar..."

Ayat ini berbicara tentang amanah kolektif tanpa membedakan gender. Sejak berdiri pada tahun 1917, 'Aisyiyah telah menjadi bagian dari tanggung jawab tersebut: menginisiasi Kongres Perempuan Pertama 1928, mendirikan sekolah dan rumah sakit di era kolonial, serta memberikan bekal spiritual bagi perjuangan bangsa.

Kata makkannāhum ("Kami beri kedudukan") menegaskan bahwa kemerdekaan adalah pemberian Allah yang bersyarat, bukan cek kosong. Kemerdekaan hanya dapat dipertahankan oleh mereka yang menegakkan sholat, zakat, amar makruf, dan nahi mungkar. Prinsip ini selaras dengan Risalah Perempuan Berkemajuan yang meletakkan laki-laki dan perempuan sebagai khalifah setara di muka bumi untuk mengelola serta memakmurkan dunia. Kemerdekaan 1945 dan karakter perempuan berkemajuan berpijak pada logika teologis yang sama: layak diberi kepercayaan karena mampu menjaga amanah.

Empat Pilar Al-Hajj: 41 & Empat Wajah Perempuan Berkemajuan

  1. Mendirikan Sholat (Iman, Takwa, dan Ketaatan Beribadah):

Sholat melambangkan spiritualitas yang menegakkan, bukan sekadar ritual. Ini menjadi fondasi utama karakter perempuan berkemajuan. Sebagaimana pejuang masa lalu menjaga sholat di medan perang, perempuan hari ini wajib menjaga hubungan vertikal (hablumminallah) sebagai sumber energi di ruang publik. Sebagai madrasatul-ula (sekolah pertama), perempuan adalah penjaga utama kedekatan bangsa kepada Allah.

  1. Menunaikan Zakat (Kemandirian Ekonomi dan Filantropi Berkemajuan):

Zakat mewakili keadilan ekonomi untuk melawan ketimpangan. 'Aisyiyah menjawab pilar ini melalui kemandirian ekonomi perempuan (pelaku UMKM) dan filantropi berbasis Teologi Al-Ma'un. Semangat ini tidak sekadar menyantuni, tetapi memberdayakan kaum dhuafa’ dan yatama.

  1. Amar Makruf (Penguasaan Iptek, Berpikir Tajdid, dan Pemberdayaan):

Proklamasi Kemerdekaan adalah amar makruf terbesar. Perempuan berkemajuan mengejawantahkannya melalui pemikiran tajdid (dinamis, kritis, inovatif) serta penguasaan IPTEK. Sebagai sosok Ulul-Albab, perempuan aktif mencegah keterbelakangan dan kebodohan agar tidak menggantikan penjajahan fisik.

  1. Nahi Mungkar (Aktor Perdamaian dan Sikap Inklusif):

Penjajahan adalah kemungkaran terbesar. Hari ini, kemungkaran berganti bentuk menjadi korupsi, kekerasan pada perempuan dan anak, serta kerusakan lingkungan. Perempuan berkemajuan hadir sebagai aktor perdamaian yang inklusif dan wasatiyah (moderat) tegas melawan kezaliman, namun tetap merangkul keberagaman.

Tujuh karakter Risalah Perempuan Berkemajuan: iman-takwa, taat beribadah, akhlak karimah, berpikir tajdid, sikap wasatiyah, amaliah salihah, dan inklusif; adalah penjabaran modern dari empat pilar Al-Hajj: 41. Mengisi kemerdekaan adalah tugas bersama laki-laki dan perempuan. Kemerdekaan yang bermakna ditegakkan setiap hari melalui rumah tangga yang sakinah, ekonomi yang adil, kemajuan ilmu pengetahuan, dan perdamaian yang terjaga. Merdeka hakiki adalah ketika semua manusia bebas menjadi hamba dan khalifah Allah yang sesungguhnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengapa Kita Tak Bebas Menurut Sains, Tapi Punya Pilihan Menurut Islam? Oleh: Donny Syofyan, Dosen ....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Wawasan

Iri Hati Dalam Perspektif Islam dan Kedokteran Modern Oleh: dr. Alfan Erzi’, M.MRS, Dokter di....

Suara Muhammadiyah

6 August 2026

Wawasan

Rekonsiliasi Pasca Ramadhan: Membangun Jembatan Perdamaian dan Persatuan Oleh: Pandu Pribadi, S.Si.....

Suara Muhammadiyah

17 April 2024

Wawasan

Kenapa Islam Melarang Pengakuan Dosa kepada Manusia? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buday....

Suara Muhammadiyah

11 August 2026

Wawasan

Tilawah Menyehatkan Nalar Penulis: Dr. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen UM Metro)  Bulan Ramadha....

Suara Muhammadiyah

25 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah