Menggunakan AI Ala Majelis Tarjih Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

17 October 2026

236
Najihus Salam (Ketua Bidang Kajian KM3Nas DPP IMM)

Najihus Salam (Ketua Bidang Kajian KM3Nas DPP IMM)

Menggunakan AI Ala Majelis Tarjih Muhammadiyah

 

Oleh: Najihus Salam, Ketua Bidang Kajian KM3Nas DPP IMM 

 

“AI itu netral. Yang menentukan adalah bagaimana kita mengarahkannya, memanfaatkannya, dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahannya.” - Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A., Ph.D., Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026.

 

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Teknologi ini memudahkan manusia mencari informasi, mengolah data, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

 

Kehadirannya membawa peluang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar. Bagaimana umat Islam seharusnya menggunakan AI?

 

Pernyataan Muhamad Rofiq Muzakkir memberikan pijakan penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. AI pada dasarnya merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Manfaat dan risikonya sangat bergantung pada tujuan, cara penggunaan, serta tanggung jawab manusia yang mengoperasikannya.

 

Karena itu, umat Islam tidak perlu terjebak pada sikap menerima teknologi secara membabi buta ataupun menolaknya tanpa pertimbangan yang matang.

 

Dalam perspektif Muhammadiyah, perkembangan teknologi perlu disikapi melalui semangat tajdid, yakni pembaruan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan mempertimbangkan tuntutan zaman. AI bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga persoalan etika, tanggung jawab, dan kemaslahatan.

 

Dengan demikian, pembicaraan tentang AI perlu melampaui pertanyaan mengenai seberapa canggih teknologi tersebut menuju pertanyaan tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia.

 

Fikih Informasi sebagai Landasan Etika AI

 

Salah satu pijakan untuk memahami penggunaan AI adalah Fikih Informasi yang diterbitkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Buku ini menempatkan informasi sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia yang lahir dari sikap ingin tahu. Seiring perkembangan zaman, informasi semakin penting dalam kehidupan masyarakat dan terus-menerus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 

Namun, produksi informasi tidak selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab moral. Buku Fikih Informasi mengingatkan bahwa tanpa panduan, pemenuhan kebutuhan informasi dapat dipandang semata-mata sebagai kegiatan ekonomi. Informasi yang diproduksi oleh sumber yang tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap kontennya justru berpotensi menjadi malapetaka.

 

Peringatan tersebut semakin relevan di era AI. Teknologi generatif memungkinkan siapa pun menghasilkan tulisan, gambar, suara, bahkan video dalam waktu singkat. Akan tetapi, kemudahan produksi tidak otomatis menjamin kebenaran informasi.

 

AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru, menyampaikan informasi tanpa konteks yang memadai, atau menyusun narasi yang tampak meyakinkan meskipun tidak didukung fakta.

Oleh karena itu, pengguna AI harus memiliki tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Tulisan yang dihasilkan AI tidak boleh langsung dianggap benar hanya karena disampaikan dengan bahasa yang rapi dan sistematis. Sumber informasi perlu diperiksa, konteks harus dipahami, dan dampak penyebarannya perlu dipertimbangkan.

 

Dalam nilai-nilai dasar fikih informasi yang dibahas dalam buku Fikih Informasi, pengelolaan teknologi dan informasi harus diletakkan dalam bingkai prinsip Ketauhidan dan Akhlak Mulia. Ketauhidan menegaskan bahwa teknologi merupakan amanah dari Allah yang semestinya digunakan untuk kemaslahatan, bukan sebagai alat keangkuhan. Sementara itu, akhlak mulia menjadikan kejujuran sebagai fondasi dalam aktivitas manusia, termasuk ketika memproduksi dan menyebarkan informasi.

 

Dengan prinsip tersebut, penggunaan AI bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan sesuatu, tetapi juga tentang kesediaan mempertanggungjawabkan hasilnya. Menggunakan AI untuk membantu belajar, memperluas akses pengetahuan, atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat merupakan peluang positif.  

 

Sebaliknya, menggunakannya untuk menyebarkan hoaks, memanipulasi fakta, menipu orang lain, atau merusak reputasi seseorang bertentangan dengan tanggung jawab moral seorang Muslim.

 

Semangat Tajdid dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi

 

Pandangan Muhammadiyah terhadap AI juga dapat dibaca melalui pembahasan wawasan tajdid dalam buku Manhaj Tarjih Muhammadiyah karya Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. Dalam bidang muamalat duniawiah, tajdid berarti mendinamisasikan kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif dan inovatif sesuai tuntutan zaman.

 

Prinsip ini memberikan ruang bagi umat Islam untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi selama penggunaannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Perubahan zaman menuntut umat untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan menemukan cara baru dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Oleh sebab itu, AI dapat menjadi instrumen untuk memperkuat produktivitas, pendidikan, penelitian, dakwah, dan pelayanan sosial.

 

Dalam aktivitas dakwah, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan materi edukasi, menerjemahkan pesan keagamaan, dan memperluas jangkauan penyebaran pengetahuan Islam.

 

Meskipun demikian, semangat inovasi tidak berarti menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. AI seharusnya menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual dan moralnya. Pengguna tetap perlu membaca, menimbang, memverifikasi, dan mengambil keputusan secara mandiri.

Tajdid dalam menghadapi AI tidak berhenti pada kemampuan mengikuti perkembangan teknologi. Tajdid juga menuntut kecakapan dalam mengarahkan inovasi agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan kemaslahatan.

 

Keseimbangan AI dan Risalah Islam Berkemajuan

 

Landasan berikutnya adalah prinsip Tawazun atau keseimbangan sebagaimana dibahas dalam karakteristik Islam Berkemajuan pada Risalah Islam Berkemajuan yang diterbitkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar ke-48 lalu di Surakarta. Kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan spiritualitas, penggunaan akal sehat, tanggung jawab moral, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

 

Keseimbangan ini penting karena kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan peradaban. Masyarakat dapat menjadi semakin canggih secara teknis, tetapi pada saat yang sama menghadapi persoalan berupa penyebaran kebohongan, ketergantungan berlebihan pada mesin, berkurangnya interaksi antarmanusia, dan penyalahgunaan data.

 

Pemanfaatan AI tidak semestinya hanya berorientasi pada efisiensi dan keuntungan material. Teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat kualitas kehidupan manusia, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, mengurangi kesenjangan, dan mendukung penyelesaian persoalan sosial.

 

Dalam konteks ini, kritik terhadap corak materialistis dalam pengembangan teknologi perlu ditempatkan sebagai ajakan untuk membangun keseimbangan antara kemajuan teknis dan nilai-nilai kemanusiaan. Umat Islam tidak cukup hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga perlu berkontribusi dalam membangun ekosistem teknologi yang etis, inklusif, dan bertanggung jawab.

 

Prinsip Tawazun sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya. AI harus ditempatkan sebagai sarana, sedangkan nilai-nilai agama, pertimbangan akal sehat, dan kepentingan kemanusiaan tetap menjadi pedoman dalam menentukan arah penggunaannya.

 

Munas Tarjih XXXIII dan Tantangan Keagamaan di Era AI

 

Persoalan AI dan etika informasi menjadi salah satu isu penting yang layak mendapatkan perhatian dalam pengembangan pemikiran keislaman kontemporer. Hal ini sejalan dengan kebutuhan Muhammadiyah untuk terus mengembangkan pemahaman keagamaan yang responsif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai dasarnya.

 

Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah yang akan terjadwal pada 5–7 November 2026 di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Jawa Timur. Munas ini mengangkat tema “Satu Abad Tarjih: Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan.”

 

Tema tersebut memberikan konteks penting bagi pembicaraan mengenai tantangan umat Islam di era digital. Penguatan akidah, pembentukan akhlak, dan pemberdayaan umat perlu diterjemahkan dalam respons nyata terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI.

 

Pemikiran tarjih tidak hanya dibutuhkan untuk menjawab persoalan ibadah, tetapi juga untuk membantu umat menentukan sikap terhadap berbagai persoalan baru dalam kehidupan sosial.

 

Menggunakan AI ala Majelis Tarjih Muhammadiyah berarti menempatkan teknologi dalam kerangka nilai, ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan (rahmatan lil’alamin). AI perlu dimanfaatkan secara kreatif sebagaimana semangat tajdid, dikelola dengan kejujuran sebagaimana prinsip fikih informasi, dan diarahkan secara seimbang sebagaimana karakteristik Islam Berkemajuan.

 

Dengan cara pandang tersebut, umat Islam tidak perlu takut terhadap perkembangan AI, tetapi juga tidak boleh menyerahkan diri sepenuhnya kepada teknologi. Manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas tujuan, proses, dan dampak penggunaannya. 

 

Sebab, sebagaimana ditegaskan Muhamad Rofiq Muzakkir, persoalan utamanya bukan semata-mata pada teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia mengarahkannya, memanfaatkannya, dan memperbaiki kelemahan-kelemahannya demi kemaslahatan bersama.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Peran Pemuda dalam Merawat Demokrasi Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA, Dosen Manajemen UMS B....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Wawasan

Empati Mengurangi Keputusasaan Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd, Pensiunan Guru SMA, Alumni Program Dokto....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Wawasan

Empirisme dalam Perspektif Islam Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ....

Suara Muhammadiyah

18 October 2025

Wawasan

Air Mata di Universitas Granada Oleh Dr. Saidul Amin, MA, Rektor UMRI dan UMAM "Jangan kau menan....

Suara Muhammadiyah

22 April 2026

Wawasan

Zakat dan Wakaf: Pilar Ekonomi Umat yang Melampaui Kewajiban Ritual Mendorong Pertumbuhan Inklusif ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah