Menilik Penjagaan Ilahi: Apakah Al-Qur'an Menjamin Keaslian Taurat?

Publish

26 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
71
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menilik Penjagaan Ilahi: Apakah Al-Qur'an Menjamin Keaslian Taurat?

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam diskursus perbandingan agama, salah satu perdebatan yang paling menarik perhatian adalah mengenai autentisitas kitab suci. Bagi umat Muslim, keyakinan bahwa Al-Qur'an dijaga langsung oleh Allah SWT adalah fondasi keimanan. Namun, sebuah diskusi muncul ke permukaan: Apakah janji penjagaan Ilahi tersebut juga mencakup kitab-kitab sebelumnya, khususnya Taurat?

Pertanyaan ini sering kali berpangkal pada interpretasi Surah Al-Hijr (15) ayat 9. Artikel ini akan membedah secara mendalam argumen-argumen di balik isu tersebut, meninjau konteks linguistik Al-Qur'an, serta memahami bagaimana tradisi Islam memandang eksistensi kitab-kitab terdahulu.

Ayat yang menjadi pusat perdebatan berbunyi, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Zikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. 15:9). Bagi mayoritas mufasir (ahli tafsir) dan umat Muslim secara umum, istilah Al-Zikr dalam ayat ini secara mutlak merujuk pada Al-Qur'an. Namun, dalam ruang diskusi lintas iman, muncul sebuah argumen menarik dari penganut kitab suci lain. Mereka menunjukkan bahwa di beberapa bagian lain dalam Al-Qur'an, istilah dhikr (peringatan/pesan) juga digunakan untuk menyifatkan Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS.

Logika yang mereka bangun adalah sebagai berikut: Jika Taurat disebut sebagai dhikr, dan Allah berjanji menjaga Al-Zikr, maka secara otomatis Allah menjamin bahwa Taurat akan terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Jika klaim ini benar, maka umat Muslim seharusnya menerima Taurat yang ada saat ini sebagai teks yang murni dan tanpa cacat, sebagaimana Al-Qur'an.

Untuk menjawab klaim di atas, kita tidak bisa hanya mencabut satu kata (dzikr) dan mencocokannya secara sembarang. Dalam ilmu tafsir, konteks (siyâq) sebuah ayat adalah kunci utama. Jika kita menilik Surah Al-Hijr dari ayat-ayat awal, maka kabut keraguan akan segera sirna.

Pada ayat ke-6 surah yang sama, diceritakan bagaimana orang-orang kafir Quraisy mencemooh Nabi Muhammad SAW. Mereka berkata, "Wahai orang yang kepadanya Al-Zikr itu diturunkan, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila." Pertanyaan krusialnya adalah: Kepada siapa Al-Zikr itu diturunkan dalam konteks ejekan tersebut? Jelas bukan kepada Nabi Musa AS yang hidup ribuan tahun sebelumnya, melainkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, ketika Allah menjawab ejekan tersebut di ayat ke-9 dengan berjanji untuk menjaga Al-Zikr, maka "Peringatan" yang dimaksud secara spesifik adalah wahyu yang sedang diturunkan kepada Muhammad SAW, yakni Al-Qur'an.

Penggunaan kata dzikr untuk Taurat di ayat lain memang benar secara linguistik karena semua wahyu Allah adalah "peringatan". Namun, menggunakannya untuk memaksakan makna pada Surah 15:9 adalah sebuah kekeliruan metodologis dalam memahami struktur kalimat Al-Qur'an.

Simetri Struktur Al-Qur'an: Analisis Raymond Farrin

Menambah bobot argumen kontekstual ini, sarjana seperti Raymond Farrin telah melakukan studi mengenai struktur literasi Al-Qur'an. Beliau menunjukkan adanya prinsip "cermin" atau struktur melingkar dalam surah-surah Al-Qur'an. Sering kali, tema yang diperkenalkan di awal surah akan dikuatkan atau dijawab kembali di akhir surah.

Dalam Surah Al-Hijr, pola ini sangat terlihat. Di bagian awal, fokus pembicaraan adalah penolakan kaum kafir terhadap wahyu baru (Al-Qur'an). Di bagian akhir, Allah kembali menyeru mereka untuk menerima pesan tersebut. Penekanan pada perlindungan Allah terhadap wahyu ini berfungsi sebagai jaminan bahwa meskipun manusia mencoba menolak, mengubah, atau mematikan cahaya wahyu tersebut, otoritas Ilahi akan memastikannya tetap utuh sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Pertanyaan logis yang sering muncul kemudian adalah: "Jika Allah adalah sumber dari Taurat dan Al-Qur'an, mengapa Dia tidak menjaga keduanya dengan cara yang sama?" Ada dua alasan fundamental di balik perbedaan ini:

Pertama, ujian tanggung jawab manusia. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah (5:44), disebutkan bahwa penjagaan Taurat dipercayakan kepada para rabi dan pendeta. Allah berfirman bahwa mereka diperintahkan untuk memelihara Kitab Allah karena mereka telah menjadi saksi-saksi atasnya.

Dalam kasus ini, Allah memberikan otonomi dan tanggung jawab kepada manusia (ulama Bani Israil) untuk menjaga kemurnian wahyu sebagai bentuk ujian ketaatan. Sejarah mencatat bahwa seiring berjalannya waktu, akibat konflik politik, pembuangan, dan kelemahan manusiawi, teks-teks tersebut mengalami perubahan, baik secara sengaja (distorsi makna) maupun tidak sengaja (kesalahan penyalinan).

Kedua, rencana besar; wahyu pamungkas. Allah memiliki rencana besar bagi umat manusia. Wahyu-wahyu sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil) bersifat lokal dan temporal—ditujukan untuk kaum tertentu dan waktu tertentu. Namun, Al-Qur'an didesain sebagai Khatam al-Anbiya (penutup para nabi) dan wahyu universal bagi seluruh alam.

Sebagai wahyu terakhir, Al-Qur'an harus berfungsi sebagai Al-Muhaimin (penjaga/tolak ukur) bagi kitab-kitab sebelumnya. Jika Al-Qur'an juga mengalami perubahan, maka manusia tidak akan lagi memiliki standar kebenaran yang absolut. Oleh karena itu, dalam ayat 15:9, Allah menggunakan gaya bahasa yang sangat kuat: Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahû lahafizhûn. Penggunaan kata Innâ (Sesungguhnya) dan Nahnu (Kami) di sini menunjukkan "Jamak Keagungan" (Plural of Majesty) yang menegaskan bahwa Allah sendiri, dengan segala otoritas-Nya, yang mengambil alih tugas penjagaan ini, bukan lagi diserahkan kepada manusia.

Tantangan Sejarah dan Filologi

Secara historis, usia dokumen-dokumen Perjanjian Lama dan Baru sangatlah tua. Ribuan tahun telah berlalu sejak peristiwa di Gunung Sinai atau masa kerasulan Yesus (Isa AS). Dalam rentang waktu tersebut, teks-teks telah diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke Yunani, Latin, dan ribuan bahasa lainnya. Secara alami, setiap proses penyalinan manual dan penerjemahan rentan terhadap penyisipan interpretasi manusia.

Muslim diperintahkan oleh Al-Qur'an untuk tetap menghormati Taurat dan Injil sebagai wahyu asli yang pernah turun. Namun, Muslim juga bersikap kritis terhadap teks yang ada sekarang karena adanya bukti internal maupun eksternal mengenai perubahan tersebut. Al-Qur'an hadir sebagai "korektor" untuk mengembalikan ajaran tauhid murni yang mungkin telah kabur dalam tradisi-tradisi sebelumnya.

Berdasarkan analisis kontekstual, linguistik, dan historis, dapat disimpulkan bahwa janji penjagaan mutlak dalam Surah 15:9 secara spesifik merujuk pada Al-Qur'an. Penggunaan istilah dzikr untuk Taurat di tempat lain tidak bisa dijadikan dasar untuk mengklaim bahwa Taurat saat ini identik dengan wahyu yang diterima Nabi Musa AS.

Al-Qur'an tetap menjadi satu-satunya kitab suci yang teks aslinya (dalam bahasa Arab) terjaga huruf demi huruf, tanpa perubahan selama lebih dari 1400 tahun. Ini adalah bukti nyata dari janji Allah: "Dan Kami benar-benar memeliharanya." Penjagaan ini bukan sekadar tentang teks fisik, melainkan penjagaan terhadap pesan kebenaran agar manusia tidak kehilangan arah menuju Sang Pencipta.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menggugat Islam: Reformasi ala Ayaan Hirsi Ali dan Kontroversinya Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakult....

Suara Muhammadiyah

6 January 2025

Wawasan

Memuliakan Perempuan, Antara Kodrat, Iman, dan Tanggung Jawab Zaman Oleh: Ratna Arunika, Anggota LL....

Suara Muhammadiyah

23 December 2025

Wawasan

Anak Saleh (10) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak Saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Wawasan

Rahmat Allah Dibalik Keputusasaan Oleh: Suko Wahyudi/PRM Timuran Yogyakarta Putus asa adalah racun....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Wawasan

Mengapa Islam Tidak Memiliki Paus? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Anda....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025