Menjaga Keistikamahan dengan Berdoa
Menjaga Keistikamahan dengan Berdoa
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Di dalam Anak Saleh (16) yang dipublikasi di Suara Muhammadiyah online, 7 November 2024, diuraikan pengertian istikamah dengan merujuk kepada pendapat Yunahar Ilyas, perintah beristikamah, baik dengan merujuk kepada Al-Qur’an maupun kepada as-Sunnah, dan pahala yang diberikan oleh Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang istikamah. Perintah agar muslim istikamah terdapat di dalam Al-Qur’an misalnya surat Fushshilat (41):6, 30, Hud (11):112, surat al-Ahqaf (46):13 dan al-Jinn (72):16. Perintah agar muslim istikamah terdapat juga di dalam al-Sunnah misalnya HR Darimi, HR an-Nasa’i, HR al-Bukhari, dan HR Muslim.
Hal yang kiranya perlu mendapat perhatian juga adalah menjaga keistikamahan. Cukup banyak muslim yang gagal menjaga keistikamahan karena berbagai penyebab. Salah satu di antara penyebab itu berkaitan dengan doa. Ada di antara muslim yang tidak menyadari bahwa berdoa sangat penting untuk berbagai keperluan termasuk untuk menjaga keistikamahan.
Setiap muslim harus beriman bahwa tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dirinya sangat lemah. Hal ini terdapat di dalam zikir “Laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tiada daya dan tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah).”
Oleh karena itu, kita diperintah agar mohon pertolongan kepada kepada-Nya sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Fatihah (1):5. Pertolongan-Nya itu dapat kita peroleh melalui doa, maka kita diperintah agar berdoa. Hal itu dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya surat Ghafir (40):60. Jika tidak berdoa, berarti kita tidak melaksanakan perintah-Nya. Hal ini berarti juga bahwa kita membangkang.
Potret di antara Muslim dalam Hal Berdoa
Cukup banyak orang yang mengaku beriman, tetapi abai terhadap doa. Akibatnya, mereka gagal ketika diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika miskin harta, di antara mereka ada yang putus asa. Ada yang menempuh jalan pintas untuk memperoleh kekayaan misalnya merampok, korupsi, menipu atau tindakan kriminal yang lain. Ini merupakan contoh kegagalan kenghadapi ujian kemiskinan harta.
Ada pula di antara mereka yang sangat rajin berdoa ketika belum memperoleh pekerjaan dan jabatan. Bibirnya tidak pernah kering dengan amal saleh itu.
Qadarullah! Terjadi perubahan: dari miskin menjadi kaya. Dari tidak bekerja menjadi pekerja. Dari berjabatan rendah menjadi berjabatan tinggi. Hidupnya berkecukupan dengan harta. Mereka bukan lagi jutawan, melainkan miliarder.
Seiring terjadinya perubahan tersebut, terjadi juga perubahan di sisi lain. Mereka tidak lagi berdoa serajin sebelumnya. Bahkan, di antara mereka ada yang sombong dan membanggakan diri. Seakan-akan mereka tidak pernah berdoa. Inilah contoh kegagalan menghadapi ujian harta melimpah dan jabatan tinggi.
Ada lagi orang-orang yang gagal menghadapi ujian "kesuksesan". Berikut ini adalah contohnya.
Cukup banyak di antara mereka yang sudah memahami pentingnya berdoa, tetapi melanggar syarat dan ketentuan terkabulnya doa. Mereka berdoa, tetapi makan, minum, memakai, dan menafkahi keluarga dengan harta haram. Hatinya lalai. Mereka meninggalkan amar makruf nahi mungkar. Mereka sering berbuat dosa dan tidak pernah beristigfar. Mereka tergesa-gesa: sekarang berdoa, mereka ingin sekarang juga dikabulkan.
Di antara mereka ada juga yang sadar bahwa doa orang lain pun sangat penting. Oleh karena itu, mereka rajin.shalat berjamaah, berdoa, dan mohon didoakan. Mereka datang kepada orang tua, saudara, dan/atau tetangga untuk minta didoakan. Ketika anaknya ingin kuliah di fakultas dan universitas favorit, orang tuanya setuju. Sebagai bukti dukungannya itu, orang tua dan anaknya datang ke rumah tetangga untuk minta didoakan. Tetangganya pun mendoakannya. Cita-citanya terkabul. Anaknya diterima.
Lewat WA orang tuanya berkirim kabar kepada tetangganya itu bahwa anaknya diterima kuliah sesuai dengan harapannya. Lancar kuliahnya. Anaknya lulus tepat waktu. Namun, shalat berjamaah dan berdoanya tidak serajin sebelumnya.
Di antara orang-orang yang ketika ingin mencapai cita-citanya misalnya menjadi anggota DPR, wali kota, bupati, gubernur, atau presiden ada yang sangat rajin datang ke berbagai majelis misalnya majelis zikir, majelis yasinan, atau majelis taklim untuk berdoa dan minta didoakan. Mereka mau juga menanggung biaya segala keperluan untuk kegiatan yang dikunjunginya. Bahkan, mereka membagi-bagikan uang juga. Setelah keinginannya tercapai, ada di antara mereka yang tidak lagi mohon didoakan. Mereka tidak lagi hadir di dalam majelis-majelis itu. Boleh jadi, mereka berpikir bahwa untuk semua keperluan mereka telah mengeluarkan biaya dalam jumlah yang sangat banyak.
Istikamah Berislam secara Kaffah
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa istikamah dalam berislam secara kaffah berarti istikamah dalam akidah (bersih dari kesyirikan), akhlak (mulia), ibadah (sesuai dengan sunnah), dan muamalah duniawi (sesuai dengan ketenruan syar'i). Namun, dalam keadaan tertentu di antara muslim ada yang akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawinya mudah goyah. Mereka merasa telah lama berdoa agar anaknya memperoleh jodoh. Namun, keinginan tersebut belum terwujud. Ada di antara mereka yang sakit bertahun-tahun dan sudah berikhtiar secara medis, tetapi belum sembuh.
Dalam keadaan seperti itu ada saudara, teman atau tetangga yang menceritakan pengalamannya. Dia mengatakan secara meyakinkan bahwa atas bantuan orang pintar, keinginannya tercapai.
Pada awalnya cerita itu sama sekali tidak menarik. Lama-lama, terlintas pada pikirannya keinginan untuk mencobanya. Akhirnya, mereka minta bantuan kepada orang pintar.
Di antara orang yang menempuh jalan tersebut ada yang keinginannya tercapai, tetapi ada pula yang tidak. Orang yang tercapai keinginannya percaya bahwa orang pintar itulah yang menjadi faktor penentu utama.
Mulailah terjadi perubahan. Akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada Rsulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai tidak semulia sebelumnya. Shalat dan puasa yang dikerjakannya hanya yang wajib; tidak seperti sebelumnya. Muamalah duniawinya terkotori oleh nafsu beroleh keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Lengkaplah ketidakistikamahannya.
Mereka tidak menyadari bahwa semua yang diperolehnya dengan melanggar ketentuam syar'i itu sesungguhnya merupakan istidraj sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR Ahmad,
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”
Semestinya, setiap muslim beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebaninya dengan masalah di luar kesanggupannya. Hal ini dijelaskan-Nya di dalam Al-Qur’an surat misalnya al-Baqarah (2):286,
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.”
Di samping itu, setiap muslim harus beriman bahwa pasti ada hikmah pada setiap masalah yang dihadapinya sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya surat Ali ‘Imran (3):191.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”
Setiap muslim harus beriman pula bahwa sesuatu yang dibencinya, boleh jadi justru baik baginya, sedangkan sesuatu yang disukai justru buruk baginya.
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Dengan berpegang teguh pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut kita harus istikamah dalam menghadapi berbagai masalah sebarat apa pun. Kita bersikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan ketakwaan sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
Ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat terjadi dalam akhlak, ibadah, dan/atau muamalah duniawi. Bagi muslim, dengan akidah yang tegak lurus, akhlakul karimah, ibadah sesuai dengan sunnah, dan muamalah duniawi sesuai dengan ketentuan syar’i, ujian seberat apa pun tidak menggoyahkan keistikamahan.
Contoh Doa untuk Keistikamahan
Di dalam Al-Qur’an terdapat doa agar kita istikamah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan misalnya di dalam surat Ali ‘Imran (3):8
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya, Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau. Sesungguhnya, Engkau-lah Zat Yang Maha Pemberi (karunia).”
Menurut Hamka, di dalam Tafsir Al-Azhar, doa tersebut menyadarkan kita bahwa rahmat datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan doa tersebut kita mohon agar tetap hidup sesuai dengan petunjuk-Nya sehingga mati dalam keadaan husnul khatimah. Namun, jika kita hidup menyimpang sesudah diberi petunjuk-Nya, kita hidup dalam kesesatan.
Di dalam HR Muslim terdapat doa yang berisi permohonan agar kita diberi keistikamahan juga.
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Ya Allah, Sang Pembolak-balik hati, balikkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu.”
Sementara itu, di dalam HR Ahmad dan HR Tirmizi terdapat doa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai, Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Aamiin!